Taipei, 6 Apr. (CNA) Layanan perawatan makam dan ritual leluhur yang dialihdayakan semakin populer di Taiwan, seiring gaya hidup yang sibuk serta penurunan dan penuaan populasi mengubah praktik tradisional cengbeng, yang tahun ini jatuh pada Minggu (5/4).
Menurut penyedia jasa, beberapa pelanggan meminta ritual dilakukan dalam bahasa Hokkien Taiwan, menuntut batu nisan yang bersih tanpa noda, atau bahkan menyewa layanan untuk peringatan hewan peliharaan, sebuah tren yang mereka katakan mencerminkan fokus generasi muda pada fleksibilitas dan efisiensi.
Platform multilayanan KBP didirikan pada Oktober 2025. Pendirinya, bermarga Hsieh (謝), mengatakan bahwa sejauh ini permintaan datang dari orang berusia 25 hingga 45 tahun yang memberikan instruksi dan daftar tugas secara rinci.
Salah satu klien meminta asisten yang bisa berbahasa Hokkien untuk membacakan doa di makam, memberkati keluarga, dan berjanji akan berkunjung kembali, sambil menyiapkan buah dan kertas sembahyang. Foto-foto diambil di lokasi untuk menunjukkan kepada pelanggan bahwa tugas yang diberikan telah diselesaikan, kata Hsieh.
Pelanggan lain memesan layanan untuk membersihkan makam secara menyeluruh, termasuk mencabuti rumput liar dan menggosok batu nisan, memastikan para lansia yang berkunjung merasa puas.
Peringatan untuk hewan peliharaan juga semakin meningkat. Hsieh mengatakan salah satu klien meminta persembahan seperti makanan kaleng dan mainan diletakkan di pemakaman anabul selama 30 menit, sebagai ungkapan kasih sayang meskipun sang majikan terlalu sibuk untuk berkunjung sendiri.
Mengalihdayakan kunjungan makam hanyalah cara berbeda untuk menunjukkan kepedulian, ujarnya, seraya mencatat bahwa tren ini berasal dari perubahan gaya hidup, perjalanan yang jauh, dan semakin sedikitnya anak dalam keluarga, sementara nilai-nilai bakti tetap penting.
Wu (吳), seorang veteran layanan pramutamu selama 20 tahun, mengatakan kliennya sering kali adalah orang sakit, lansia, atau anggota keluarga di luar negeri yang tidak dapat mengunjungi makam kerabat. Dalam satu kasus, sebuah keluarga memesan 16 persembahan untuk 16 makam leluhur.
Sebagian besar klien adalah orang paruh baya atau lebih muda, ucapnya, seraya menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya usia atau wafatnya para lansia yang biasanya mengurus kunjungan makam, alih-alih memastikan anggota keluarga tetap dapat menjalankan ritual.
Mucao, yang didirikan pada 2020, juga mengamati peningkatan permintaan selama cengbeng, di mana pada tahun ini saja menangani sekitar 100 tugas. CEO Lee Yi-en (李宜恩) mengatakan bahwa sebagian besar klien berusia 50 hingga 70 tahun, menyeimbangkan pekerjaan dan keterbatasan fisik dengan tradisi.
Lee menekankan bahwa layanan ini mendorong kunjungan pribadi jika memungkinkan dan bahwa peringatan yang dialihdayakan mungkin tidak dapat menggantikan partisipasi tradisional. Beberapa keluarga memilih cara lain untuk menghormati leluhur, menunjukkan rasa hormat dalam pikiran ketimbang kehadiran fisik.
Selesai/ja