Oleh Sunny Lai dan Muhammad Irfan, reporter staf CNA
Selama lebih dari 18 bulan, dokter Filipina Mark Joseph Radin memperjuangkan pengobatan langka untuk gangguan pernapasan istrinya setelah cedera otak yang mengancam jiwa, meskipun banyak orang di sekitarnya -- termasuk para profesional medis -- belum pernah mendengarnya, dan beberapa meragukan pengobatan itu akan berhasil.
Setelah operasi di Tri-Service General Hospital (TSGH) di Taipei pada awal Maret membantu membebaskan istrinya, Wendilyn Santoalla, dari ketergantungan ventilator, Radin mengatakan kepada CNA dalam sebuah wawancara bahwa mereka "sangat bersyukur" atas keberhasilan operasi tersebut, setelah melewati "lapisan demi lapisan kesulitan dan penderitaan".
Stroke yang mengubah hidup
Radin dan Santoalla, keduanya berusia 37 tahun, tinggal di Inggris dari 2021 hingga 2025, di mana sang suami bekerja sebagai dokter kapal pesiar, sementara pasangannya bekerja sebagai perawat.
Masa itu digambarkan Radin sebagai "menjalani mimpi", tetapi hidup mereka berubah drastis pada awal 2024, ketika Santoalla, yang saat itu sedang hamil, didiagnosis dengan dua kondisi serebrovaskular serius.
"Istri saya mengalami beberapa infark otak setelah menjalani operasi otak pada Maret 2024," kata Radin, merujuk pada operasi yang bertujuan mengatasi salah satu kondisi tersebut.
Dalam dua pekan pertama setelah operasi, Santoalla berada dalam kondisi "sangat kritis" dan ada kemungkinan ia bisa meninggal, kenangnya.
Setelah infark otak, atau stroke, Santoalla mengalami apnea tidur sentral dan gangguan kontrol pernapasan.
Pemeriksaan lebih lanjut kemudian mengonfirmasi bahwa ia menderita sindrom hipoventilasi sentral, yang memerlukan dukungan ventilator dan oksigen untuk menjaga pernapasan yang memadai, menurut Radin.
"Saya tidak tahu apakah menjadi dokter itu sebuah berkah," katanya. "Karena sebagai dokter, saya tahu betapa buruk dan parahnya kondisi istri saya saat itu."
Alat yang jarang terdengar
Terlepas dari cobaan tersebut, bayi pasangan ini lahir pada Juni 2024, dan Radin mulai mencari opsi yang mungkin bisa membantu Santoalla.
Satu atau dua bulan kemudian, ia menemukan sistem pacing diafragma (DPS), sebuah alat yang dirancang untuk menstimulasi diafragma agar berkontraksi melalui impuls listrik dan membantu pasien tertentu bernapas lebih mandiri.
"Pada 2024, saya sudah sembilan tahun menjalani praktik sebagai dokter, dan saat itulah saya pertama kali mendengar tentang alat pacu diafragma," katanya.
Pengobatan ini tidak dikenal oleh banyak orang di sekitarnya, ucapnya, dan tidak semua orang merasakan optimisme yang sama dengannya.
Namun, ia terus meneliti, menghubungi produsen alat tersebut dan mencoba menentukan apakah Santoalla mungkin menjadi kandidat yang cocok.
Dari Filipina ke Taiwan
Pada awal 2025, keluarga tersebut kembali ke Filipina, di mana Santoalla menjalani evaluasi lebih lanjut di sebuah rumah sakit di Manila, yang mengonfirmasi "ia akan membutuhkan ventilator 24/7 dengan dukungan oksigen".
Tidak mau menerima masa depan di mana Santoalla harus hidup dengan apa yang ia gambarkan sebagai "rantai", Radin memutuskan untuk mengejar DPS.
Awalnya, ia berencana melakukan prosedur pemasangan DPS di Filipina dan mulai mengajukan pendaftaran penggunaan darurat untuk alat tersebut ke Badan Pengawas Obat dan Makanan negara itu, tetapi upaya tersebut terhenti setelah tim medis Santoalla menjadi "sangat berhati-hati terhadap risiko".
Menurut Radin, operasi tersebut belum pernah dilakukan di Filipina sebelumnya.
Taiwan kemudian menjadi perhatiannya setelah produsen DPS memberitahunya bahwa prosedur pemasangan telah dilakukan di sana, kata Radin.
"Jika mereka sudah pernah melakukannya sekali, maka saya akan percaya pada tim medis" untuk melakukan operasi tersebut, ucapnya.
Kasus DPS kedua di Taiwan
Dalam konferensi pers di Taipei pada 23 Maret, Huang Tsai-wang (黃才旺), direktur Departemen Bedah TSGH, mengatakan kasus pemasangan DPS pertama di Taiwan selesai pada Desember 2023, melibatkan seorang pria berusia 70 tahun yang berhasil lepas dari ventilator.
Huang berbicara hampir tiga pekan setelah Santoalla menjalani operasi selama tiga jam di TSGH usai berbulan-bulan persiapan dan koordinasi lintas negara.
Operasi dan perawatan selanjutnya di unit perawatan intensif dan pusat perawatan pernapasan memungkinkan Santoalla akhirnya lepas dari ventilator, menandai prosedur sukses kedua yang dilakukan di Taiwan, menurut Huang.
"Kami termasuk institusi terdepan dalam melakukan teknik ini di Asia," ujarnya, seraya menambahkan bahwa wilayah tetangga seperti Hong Kong dan Jepang juga baru-baru ini mulai melakukan prosedur serupa.
Dari Taiwan ke Filipina
Radin, yang juga menghadiri acara pers bersama Santoalla sesaat sebelum pulang, mengatakan kepada CNA bahwa beberapa dokter yang ia kenal di Filipina telah menyatakan minat untuk mempelajari lebih lanjut tentang DPS.
Radin mengatakan ia terkesan dengan "keberanian orang-orang" di TSGH.
"Karena intervensi ini sangat langka, kebanyakan orang akan sangat berhati-hati terhadap risiko," ucapnya. "Saya benar-benar terkesan bahwa orang-orang di sini masih percaya bahwa mereka bisa membantu Wendilyn."
Kembali secara permanen di Metro Manila, Radin mengatakan ia sedang mengajukan kembali untuk bekerja sebagai dokter kapal pesiar guna membantu menutupi biaya rehabilitasi Santoalla yang masih berlangsung setelah keluarganya menghabiskan sebagian besar tabungan mereka untuk pengobatannya -- terutama mengingat DPS saja berharga sekitar US$25.000 (Rp424,6 juta) hingga US$50.000.
Dengan Santoalla yang masih bergantung pada kursi roda, hanya bisa berkomunikasi melalui alat pelacak mata, dan dengan gerakan terbatas di lengan dan kakinya, Radin mengatakan "hanya Tuhan yang tahu" apakah ia akan pulih sepenuhnya.
"Namun, kami punya mentalitas ini: Jika kami tidak pernah mencoba, kami tidak akan pernah tahu," katanya.
Sekarang setelah ia lepas dari ventilator, lanjutnya, "Ini memberi saya perasaan bahwa kami sekarang memulai babak baru dalam hidup kami."
Selesai/JC