Ribuan warga Taiwan di Timur Tengah aman pasca serangan udara AS-Israel ke Iran

01/03/2026 18:57(Diperbaharui 01/03/2026 19:10)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Asap membumbung di atas Tehran setelah serangan udara Israel. (Sumber Foto : Anadolu Agency)
Asap membumbung di atas Tehran setelah serangan udara Israel. (Sumber Foto : Anadolu Agency)

Taipei, 1 Mar. (CNA) Sekitar 3.000 warga negara Taiwan yang sedang berada di negara-negara Timur Tengah semuanya dalam keadaan aman hingga Minggu (1/3) pagi pasca serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran dalam dua hari terakhir, kata Kementerian Luar Negeri (MOFA).

Ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada Sabtu, menyusul ancaman selama berminggu-minggu dari Presiden Donald Trump terkait kemampuan nuklir Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pemimpin senior lainnya tewas pada Sabtu pagi dalam serangan udara AS-Israel, bersama lebih dari 200 korban lainnya, menurut media pemerintah Iran dan lembaga swadaya masyarakat.

Sebagai tanggapan, beberapa negara Arab yang menjadi tuan rumah aset AS menjadi sasaran serangan balasan dari Iran.

Di tengah operasi-operasi militer ini, MOFA mengatakan kepada CNA pada Minggu pagi bahwa sekitar 3.000 warga negara Taiwan yang sedang berada di Timur Tengah dan telah berhasil dihubungi berada dalam keadaan aman.

Di antara mereka, 2.000 warga Taiwan berada di Arab Saudi, 300 di Uni Emirat Arab, 262 di Israel, 200 di Qatar, 124 di Yordania, 50 di Kuwait, 23 di Oman, 22 di Bahrain, dan empat di Iran, kata kementerian.

MOFA menambahkan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerintah belum berencana mengevakuasi warga Taiwan di negara-negara Timur Tengah, mengingat serangan balasan Iran berfokus pada situs militer AS di kawasan tersebut, dan bukan pada warga sipil.

Pada sore, MOFA mengatakan kepada CNA bahwa belum ada permintaan evakuasi dari warga, dan pihaknya telah menginstruksikan seluruh kantor perwakilan Taiwan di Timur Tengah untuk segera mengaktifkan mekanisme tanggap darurat.

Selain Kantor Dagang Taipei di Kerajaan Bahrain yang untuk sementara menerapkan kerja dari rumah sesuai panduan keamanan pemerintah setempat, kantor perwakilan Taiwan lainnya di Timur Tengah tetap beroperasi secara normal, tambah MOFA.

Kementerian mengatakan mereka akan terus memantau perkembangan terbaru di kawasan dan menjaga komunikasi erat dengan negara-negara lain untuk melakukan penyesuaian langkah respons secara tepat waktu.

MOFA juga sangat menyarankan warga Taiwan yang tinggal di luar negeri untuk tetap berinisiatif menjaga komunikasi dengan kantor perwakilan dan mematuhi panduan keamanan pemerintah setempat, dengan mengutamakan keselamatan pribadi.

Jika terjadi keadaan darurat di Timur Tengah, MOFA mengimbau warga Taiwan untuk menghubungi kantor perwakilan Taiwan terdekat untuk bantuan atau meminta keluarga mereka di Taiwan untuk menghubungi saluran siaga bebas pulsa MOFA 24 jam di +886-800-085-095.

Salah satu warga Taiwan di Bahrain yang sempat menyaksikan langsung serangan balasan Iran yang menghantam Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di sana membagikan pengalamannya kepada CNA.

"Ya Tuhan, meledak lagi." Demikian kalimat pertama yang diucapkan seorang pelaku industri teknologi Taiwan yang sedang perjalanan dinas di Bahrain dan menginap di kawasan hunian mewah yang hanya berjarak sekitar delapan menit jalan kaki dari markas tersebut, saat sambungan teleponnya terhubung dengan CNA.

(Sumber Foto : Warga Taiwan yang sedang menginap di Bahrain)
(Sumber Foto : Warga Taiwan yang sedang menginap di Bahrain)

Ia mengenang, saat ledakan pertama terdengar, "Getarannya seperti gempa." Pria berusia 55 tahun yang telah lama bolak-balik Timur Tengah itu awalnya merasa sudah "Pernah melihat berbagai situasi besar," sehingga pada awalnya hanya bersembunyi di bawah meja untuk mengamati situasi dan tidak berniat mengungsi.

Namun, tak lama kemudian, terjadi lima ledakan berturut-turut dalam waktu singkat. Mitra kerja setempat meneleponnya secara darurat untuk memperingatkan: "Di tempatmu tidak aman, cepat pergi."

Saat ia hendak mengungsi, barulah ia menyadari situasinya jauh lebih serius dari yang dibayangkan. Hampir tidak ada yang berani tetap tinggal di dalam gedung, dan di depan lift dipenuhi penghuni, banyak yang menyeret koper dan membawa keluarganya untuk melarikan diri, dengan suasana yang sangat kacau, ujarnya.

"Benar-benar tidak bisa bergerak," ucapnya. Setelah susah payah masuk ke lift dan tiba di lantai dasar, asap tebal memenuhi lingkungan di luar. Sistem pemesanan kendaraan kacau, tarif Uber melonjak lima kali lipat dan kendaraan tercepat pun baru bisa tiba 30 menit kemudian, menurutnya.

Ia menggambarkan asap tebal terus membumbung di jalanan, kendaraan membunyikan klakson tanpa henti, orang-orang berlari ke arah berlawanan dari markas AS, banyak polisi turun ke jalan untuk menjaga ketertiban, dan hampir semua toko tutup.

Baru tiba kurang dari sepekan, dirinya juga sama sekali tidak tahu lokasi tempat perlindungan setempat dan tidak memiliki kendaraan pribadi, sementara pengemudi Uber berkali-kali membatalkan perjalanan. Ia tidak bisa meninggalkan kota dan hanya bisa kembali ke tempat tinggalnya untuk menunggu perkembangan situasi.

Ia mengatakan banyak warga terjebak di bandara, seiring hampir semua penerbangan dibatalkan. Rencana perjalanannya berikutnya ke Arab Saudi terpaksa dibatalkan, sementara juga tidak memungkinkan untuk kembali ke Taiwan lebih awal. "Sekarang hanya bisa menunggu dan melihat situasi sebelum memutuskan langkah berikutnya."

Di sisi lain, Direktorat Jenderal Pariwisata Taiwan mengatakan pada Minggu bahwa diperkirakan 773 wisatawan Taiwan dari 28 rombongan tur terdampak oleh meningkatnya ketegangan regional di Timur Tengah akibat penutupan wilayah udara.

Ditjen tersebut mengatakan mereka telah meminta agen perjalanan lokal untuk mencari rute penerbangan alternatif guna memastikan keselamatan perjalanan dan memastikan kunjungan kelompok yang telah direncanakan tidak akan terdampak.

(Oleh Joseph Yeh, Yang Yao-ju, Chung Yu-chen, dan Jason Cahyadi)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.