MOFA: NGO jadi jalur diplomasi ampuh hubungkan Taiwan dengan dunia

08/10/2026 17:11(Diperbaharui 08/10/2026 17:12)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Wakil Kepala Departemen Urusan Internasional NGO di Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA), Kang Chia-chi (kiri) dan Ketua TAEF Michael Hsiao dalam acara Kongres NSP+NGO 2026 di Taipei, 8 Oktober 2026. (Sumber foto: TAEF)
Wakil Kepala Departemen Urusan Internasional NGO di Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA), Kang Chia-chi (kiri) dan Ketua TAEF Michael Hsiao dalam acara Kongres NSP+NGO 2026 di Taipei, 8 Oktober 2026. (Sumber foto: TAEF)

Taipei, 8 Okt. (CNA) Organisasi nonpemerintah (NGO) dipercaya bisa menjadi jalur diplomasi yang ampuh untuk menghubungkan Taiwan dengan dunia, serta Asia dengan masyarakat sipil global, disampaikan oleh Kang Chia-chi (康嘉棋) Wakil Kepala Departemen Urusan Internasional NGO di Kementerian Luar Negeri Taiwan (MOFA) dalam pidato utamanya yang membuka kongres NSP+NGO 2026 yang digelar oleh Taiwan-Asia Exchange Foundation di Taipei, Kamis (8/10).

Menurut Kang, saat ini, diplomasi tidak lagi hanya berbicara tentang hubungan antarpemerintah, tetapi juga berarti menghubungkan manusia dengan manusia. Ini merupakan bagian penting dari visi yang dijalankan di Taiwan, yaitu diplomasi terpadu “bahwa setiap orang dapat menjadi diplomat”.

“Dan NGO memiliki peran yang sangat penting dalam upaya tersebut. Sebab yang dilakukan NGO adalah menghubungkan manusia melintasi batas negara,” kata Kang.

Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir, pemahaman dunia mengenai Taiwan telah berubah dengan sangat cepat. Saat ini, ketika orang memikirkan Taiwan, mereka sering kali memikirkan TSMC, industri semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), dan rantai pasok global.

Namun, lanjut Kang, semikonduktor hanyalah salah satu jendela yang digunakan dunia untuk melihat Taiwan yang mana, “kisah Taiwan jauh lebih luas daripada sekadar cip”.

Menurutnya, Taiwan memiliki masyarakat sipil yang sangat dinamis, mulai dari bidang pendidikan, layanan kesehatan, hak-hak perempuan dan anak, perlindungan lingkungan, hingga pengembangan kaum muda. Ia menyebut bahwa banyak organisasi Taiwan telah bekerja selama bertahun-tahun untuk membawa perubahan.

“Dan hal yang paling berharga dari organisasi-organisasi tersebut bukan hanya apa yang telah mereka capai. Yang paling berharga adalah semangat di balik kerja mereka. Ketika mereka melihat sebuah masalah, mereka berusaha menyelesaikannya. Ketika mereka melihat seseorang membutuhkan bantuan, mereka mengulurkan tangan. Inilah salah satu kekuatan terbesar Taiwan,” kata Kang.

Potensi Taiwan sebagai pusat NGO

Ia juga menyebut ada beberapa alasan mengapa Taiwan berpotensi menjadi pusat NGO di kawasan Indo-Pasifik. 

Ini mencakup alasan geografis bahwa Taiwan berada di lokasi yang strategis di kawasan Indo-Pasifik. Melampaui itu,  Taiwan adalah negara yang demokratis, bebas, dan terbuka, kata Kang.

“MOFA secara aktif mendorong pembentukan pusat NGO di Taiwan dan membantu NGO internasional untuk membangun kehadiran mereka di sini. Tahun ini, MOFA juga akan mendirikan pusat konsultasi dan informasi fisik bagi NGO. Pusat ini akan menyediakan tempat bagi NGO untuk mendapatkan konsultasi, mencari informasi, serta bertukar gagasan satu sama lain,” kata dia.

Ia juga menyebut, Taiwan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Taiwan dapat menjadi kekuatan besar bagi demokrasi global. “Di Taiwan, bukan hanya ada satu kursi di meja internasional. Kami ingin membangun meja yang lebih besar, tempat lebih banyak orang dapat duduk dan bekerja sama. Jadi, mari kita bersama-sama membangun Taiwan sebagai pusat NGO bagi dunia. Taiwan menghubungkan Asia dengan dunia. Dan Taiwan yang berdiri untuk kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia, dan perdamaian,” kata dia.

Terus bangun kemitraan

Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Francois Wu dalam acara Kongres NSP+NGO 2026 di Taipei, 8 Oktober 2026. (Sumber foto: TAEF)
Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Francois Wu dalam acara Kongres NSP+NGO 2026 di Taipei, 8 Oktober 2026. (Sumber foto: TAEF)

Wakil Menteri Luar Negeri Taiwan Francois Wu (吳志中) yang membuka kongres menyebut pemerintah Taiwan terus berupaya membangun kemitraan dengan berbagai NGO serta menciptakan lebih banyak kesempatan bagi pertukaran antarmasyarakat.

“Jaringan yang dibangun oleh NGO menyediakan saluran yang sangat berharga bagi Taiwan untuk memperdalam hubungan dengan para mitra sekaligus membangun hubungan yang berkelanjutan dan bermakna,” kata dia.

Wu menyebut, NGO memiliki posisi yang sangat baik untuk membangun kepercayaan, menghubungkan berbagai komunitas, serta mempertahankan kemitraan jangka panjang lintas batas negara.

Keahlian, serta sumber daya manusia dan sumber daya khusus yang mereka miliki, memungkinkan mereka untuk bergerak di berbagai bidang yang berada di luar jangkauan diplomasi tradisional.

“Ketika terjadi bencana alam dan dibutuhkan respons cepat, ketika bantuan kemanusiaan harus diberikan, maupun ketika dukungan diperlukan untuk pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, kerja NGO telah memberikan makna konkret terhadap gagasan bahwa Taiwan Can Help,” kata dia seraya menyebut upaya tersebut juga menunjukkan kekuatan kreatif Team Taiwan dan telah membantu Taiwan memperoleh pengakuan serta kepercayaan yang lebih besar dari masyarakat internasional.

Ke depan, pemerintah Taiwan tetap berkomitmen penuh untuk bekerja sama dan mendukung komunitas NGO yang luar biasa ini, sehingga kehadiran Taiwan di kawasan Indo-Pasifik dan di luar kawasan tersebut dapat semakin diperluas, sekaligus memastikan bahwa interaksi kita menjadi semakin beragam, tangguh, dan berkelanjutan, kata Wu.

Menerjemahkan nilai jadi aksi nyata

Ketua TAEF Michael Hsiao (蕭新煌) dalam sambutannya menyebut kongres ini sebagai wadah dialog bagi masyarakat sipil dan NGO dari Taiwan serta kawasan sekitarnya, sekaligus menjadi ruang untuk menerjemahkan nilai-nilai yang dimiliki bersama menjadi aksi nyata secara bersama-sama.

Menurut Hsiao, sejak diperkenalkannya New Southbound Policy (NSP) pada 2016 hingga diperbarui menjadi New Southbound Policy Plus pada 2024, kerja sama dan penguatan hubungan antara NGO dan masyarakat sipil selalu menjadi bagian penting dari kebijakan regional Taiwan.

“NSP Plus terdiri atas enam koridor strategis. Tiga di antaranya didorong dan dijalankan oleh sektor nonpemerintah, yaitu koridor think tank, koridor pemuda, dan koridor NGO,” kata dia.

Sejak 2024, yayasan TAEF secara aktif memfasilitasi ketiga koridor masyarakat sipil dalam NSP Plus tersebut. Misalnya, lewat Think Tank Summit yang diselenggarakan pada 2025 sebagai infrastruktur utama bagi koridor think tank. Para pemimpin lembaga pemikir dari Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik berkumpul di Taipei untuk membahas upaya bersama dalam mewujudkan strategi Indo-Pasifik yang tangguh.

Sementara itu, untuk koridor kepemudaan, tahun ini, 2026, TAEF memperluas kegiatan tahunan SEASAT (Southeast Asia–South Asia–Taiwan) Youth Camp menjadi Youth Assembly.

Dalam menjalankan koridor NGO, Taiwan berupaya menjadi mitra pendukung yang dapat diandalkan bagi para praktisi NGO dan masyarakat sipil internasional untuk terhubung, berkolaborasi, dan menjalankan proyek-proyek bersama.

“Karena itu, Kementerian Luar Negeri Taiwan atau MOFA telah meluncurkan sebuah inisiatif visioner berupa international NGO hub. Melalui NGO hub ini, Taiwan dapat berkontribusi dalam membangun jaringan yang tangguh dan mampu merespons berbagai tantangan bersama, mengubah hubungan menjadi kerja sama yang berkelanjutan, serta menciptakan dampak positif yang melampaui batas negara,” kata dia.

Ia juga menyebut Kongres NSP Plus NGO hari ini juga melengkapi upaya awal TAEF untuk mendorong keterlibatan yang lebih erat di antara tiga koridor yang telah ia sebut.

“Kerja sama regional membutuhkan lebih dari sekadar kerangka kebijakan atau dialog antarlembaga. Kerja sama tersebut membutuhkan konektivitas yang berkelanjutan di antara masyarakat dan organisasi yang bekerja langsung di lapangan—mereka yang memahami realitas lokal, menghormati berbagai tantangan yang muncul, serta membangun kepercayaan lintas batas. Di sinilah masyarakat sipil dan NGO memiliki peran yang sangat penting,” ucap dia.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.