Taipei, 7 Okt. (CNA) Calon wali kota Taipei dari Partai Progresif Demokratik (DPP), Puma Shen (沈伯洋), mengusulkan sebuah debat mengenai kebijakan narkoba pada Selasa (6/10), sementara petahana Chiang Wan-an (蔣萬安) mengatakan isu tersebut dapat dibahas dalam debat formal seiring kontroversi atas tulisan-tulisan Shen di masa lalu yang terus berlanjut.
Kedua kandidat telah mencapai kesepakatan awal untuk berpartisipasi dalam debat yang diselenggarakan TVBS, dengan rincian yang akan dinegosiasikan oleh para ajudan mereka, kata Chiang.
Saat membagikan surat kabar kampanye di luar stasiun MRT Zhongxiao Fuxing pada Selasa pagi, Shen menuduh tim Chiang telah salah menggambarkan posisi kebijakan narkobanya dan mengusulkan agar isu tersebut menjadi topik debat pertama mereka.
Chiang, dari Kuomintang (KMT), mengatakan semua isu kota, termasuk kebijakan narkoba, serta posisi para kandidat terhadap isu-isu tersebut, terbuka untuk didiskusikan.
"Tahun ini tidak akan menjadi pengecualian. Saya pasti akan berpartisipasi," katanya, merujuk pada tradisi debat dalam pemilihan wali kota Taipei.
Perselisihan ini berpusat pada artikel yang ditulis Shen pada September 2014 untuk Thinking Taiwan setelah aktor Kai Ko (柯震東) ditangkap di Tiongkok karena menggunakan ganja.
Artikel tersebut mengkritik usulan New Taipei untuk menambahkan skrining narkoba dalam pemeriksaan kesehatan sekolah dan berpendapat bahwa kebijakan yang berfokus pada hukuman dapat memperkuat ketidaksetaraan dan menstigmatisasi siswa yang kurang beruntung.
Shen membahas dekriminalisasi, bantuan bagi orang dengan kecanduan, dan penelitian tentang penyebab sosial penggunaan narkoba.
Jika dekriminalisasi dianggap terlalu radikal, ia menyarankan Taiwan dapat mengikuti negara lain dengan mendirikan pusat komunitas yang menyediakan narkoba dan jarum suntik bersih bersama dukungan pekerja sosial.
Menanggapi kritik dalam beberapa hari terakhir, Shen mengatakan artikelnya membahas langkah-langkah pengurangan dampak buruk, dengan mengutip pengobatan metadon dan program pertukaran jarum suntik yang sudah diterapkan di Taipei. Artikel tahun 2014 tersebut tidak secara spesifik menyebutkan metadon.
Metadon diklasifikasikan sebagai narkotika Kategori 2 di Taiwan, tetapi juga memiliki penggunaan medis yang sah. Metadon diberikan secara oral di bawah pengawasan medis untuk mengobati ketergantungan heroin, sementara program pertukaran jarum suntik merupakan langkah pengurangan dampak buruk yang terpisah.
Chiang mempertanyakan penjelasan Shen bahwa usulan tahun 2014-nya berkaitan dengan kebijakan yang sudah diterapkan, menanyakan mengapa ia mengkritik langkah-langkah yang sedang diimplementasikan pada saat itu.
Sang wali kota petahana berpendapat bahwa Shen telah salah memahami kebijakan tersebut atau kini menafsirkan ulang posisinya sebelumnya demi kepentingan elektoral.
Kontroversi semakin meluas pada Selasa sore ketika legislator KMT Lo Chih-chiang (羅智強) dan Niu Hsu-ting (牛煦庭) mengadakan konferensi pers yang mempertanyakan komentar Shen di masa lalu tentang legalisasi ganja.
Lo mengutip sebuah unggahan media sosial terpisah pada tahun 2014 di mana, menurutnya, Shen menulis bahwa legalisasi diperlukan untuk mengatasi masalah mendasar seputar ganja. Ia menanyakan apakah Shen masih mendukung posisi tersebut dan penyediaan narkoba di pusat komunitas.
Menanggapi pada Selasa malam, juru bicara kampanye Shen, Tsai I-kae (蔡一愷), mengatakan mempelajari sebuah kebijakan dan mengadvokasi penerapannya adalah dua hal yang berbeda.
Shen tidak mendukung legalisasi ganja dan menentang masuknya narkoba ke sekolah, kata Tsai, seraya menambahkan bahwa tesis yang dibimbing Shen menyimpulkan Taiwan tidak cocok untuk melegalkan ganja.
Tsai menuduh KMT mendistorsi penelitian akademis demi kepentingan elektoral, dengan mengatakan serangan tersebut menstigmatisasi pendidikan tinggi serta Shen.
(Oleh Yeh Chen-yun, Wang Cheng-chung, Chen Chun-hua, Chao Yen-hsiang, dan Jennifer Aurelia)
>Versi Bahasa Inggris
Selesai/JC