Taipei, 8 Okt. (CNA) Taiwan-Asia Exchange Foundation (TAEF) bersama Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (KABAR BUMI), Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS) dan Umverteilen merilis buku saku yang menyajikan panduan hak bagi pekerja migran terutama pekerja asal Indonesia di Taiwan dalam Kongres NSP+NGO yang digelar oleh TAEF di Taipei, Kamis (10/8).
Dalam kongres, Iweng Karsiwen, pendiri KABAR BUMI, menyebut buku ini memuat ringkasan sejumlah hukum dan peraturan, serta informasi penting mengenai berbagai tahapan dalam proses migrasi dan pekerjaan mulai dari persiapan, penempatan, hingga berakhirnya kontrak kerja.
Iweng mengatakan isi panduan ini disusun berdasarkan pengalaman komunitas GANAS dalam mendampingi pekerja migran Indonesia (PMI) serta menangani berbagai kasus yang berkaitan dengan pekerjaan di sektor formal Taiwan.
“Buku ini digagas mengingat saat ini terdapat sekitar 350.000 PMI yang bekerja di Taiwan, di berbagai sektor, dan mayoritas di antaranya adalah perempuan,” kata dia.
Iweng, yang semula bekerja di Hong Kong, menyebut bahwa dalam beberapa kunjungan ke Taiwan yang didukung oleh TAEF, pihaknya mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi para pekerja tersebut.
Salah satu persoalan utamanya adalah banyak PMI yang belum sepenuhnya memahami hak-hak mereka, maupun hukum dan peraturan ketenagakerjaan yang sebenarnya dapat melindungi mereka, kata dia.
“Karena sebelumnya saya berada di Hong Kong, ketika saya kembali atau terbang pulang, kemudian mengambil cuti dan pergi ke Taiwan, semuanya terasa berbeda. Di sini, hampir semuanya ditangani oleh agen. Bahkan ada pekerja yang tidak tahu bagaimana cara memesan tiket pesawat,” kata Iweng.
Hal tersebut membuat dirinya berpikir, bahwa perlu ada sesuatu untuk memberdayakan PMI di Taiwan dan meningkatkan kesadaran mereka.
“Karena itu, fokus dari inisiatif ini adalah memberdayakan PMI, baik yang masih bekerja maupun yang sudah tidak bekerja lagi, dengan meningkatkan literasi mereka, pengetahuan hukum, serta kemampuan untuk membela dan mengadvokasi diri mereka sendiri,” kata dia.
Purna PMI asal Cilacap, lulusan hukum dari Universitas Terbuka, ini menyebut ada dua tujuan utama dalam penyusunan buku saku ini. Pertama, membantu PMI yang baru tiba di Taiwan dan bekerja di sektor formal untuk beradaptasi dengan kehidupan baru mereka.
Kedua, meningkatkan pemahaman pekerja mengenai hukum, peraturan, dan hak-hak ketenagakerjaan; mendorong terciptanya lingkungan kerja yang adil, aman, dan efektif; mendukung pekerja migran agar menjadi lebih mandiri; serta memperkuat kemampuan pekerja untuk melindungi dan mengadvokasi diri mereka sendiri, kata dia.
“Selain itu, kami ingin mencegah organisasi, institusi, individu, maupun agen penyalur tenaga kerja mengeksploitasi pekerja demi keuntungan pribadi,” kata Iweng yang memulai KABAR BUMI pada 2015 ini.
Ia juga menyebut bahwa tujuan dari buku panduan ini adalah memberikan panduan praktis untuk menangani berbagai persoalan yang umum dialami pekerja migran Indonesia di sektor formal Taiwan.
Panduan ini juga memperkenalkan kehidupan di Taiwan kepada para pekerja dan menekankan pentingnya literasi hukum.
“Dengan memahami peraturan yang berlaku bagi mereka, pekerja migran akan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengenali hak-hak mereka, merespons persoalan yang muncul di tempat kerja, serta mencari bantuan yang tepat,” kata dia.
Iweng menyadari bahwa panduan ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, pihaknya sangat terbuka terhadap masukan, komentar, maupun saran yang konstruktif untuk memperbaiki edisi-edisi berikutnya.
“Kami berharap buku ini dapat menjadi sumber informasi yang berguna dan praktis bagi para pekerja migran Indonesia di Taiwan,” kata dia.
Sementara itu, peneliti dari University of Portsmouth, Isabelle Cockel yang juga membantu Iweng menyusun buku saku ini menyebut Iweng menginspirasi dirinya untuk belajar lebih banyak terkait isu pekerja migran.
Pertama kali ia mengenal Iweng, saat ia mengundangnya untuk mengikuti summer school secara daring yang ia selenggarakan bersama National Taiwan University.
“Saat itu, ia bercerita kepada kami mengenai berbagai pekerjaan luar biasa yang telah dilakukannya. Saya juga sangat tertarik dengan kisah kehidupan pribadinya, bagaimana selama hampir 11 tahun ia bekerja sebagai pekerja migran di Hong Kong, kemudian terinspirasi oleh organisasi Indonesia di Hong Kong, dan akhirnya dirinya sendiri menjadi seorang aktivis,” kata dia.
Adapun proses penyusunan buku saku ini merupakan kerja-kerja lanjutan dari pertemuan tersebut. Ia pun menilai bahwa inisiatif akar rumput itu penting.
“Kekuatan akar rumput bahkan lebih penting lagi, karena merekalah yang mengetahui apa yang mereka butuhkan,” kata dia.
Selesai/ja