Taipei, 20 Sep. (CNA) Tiga pekerja migran Indonesia (PMI) meraih penghargaan dalam ajang Migrant International Photography Award yang diselenggarakan oleh One-Forty di National Theater and Concert Hall, Taipei, Minggu (20/9).
Ketiga PMI tersebut hadir sebagai pemenang dengan membawa pulang piagam penghargaan, plakat akrilik, dan hadiah uang tunai.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Chief Operating Officer One-Forty Annie Huang (黃妤婷). Ia mengatakan ajang fotografi tersebut telah memasuki penyelenggaraan ketujuh dan selama ini telah menerima sekitar 13.000 karya dari pekerja migran, diantaranya berasal dari Filipina, Vietnam, Indonesia, dan Tailan.
Menurutnya, lomba tersebut berangkat dari gagasan bahwa fotografi dapat menjadi sarana bagi kelompok yang suaranya kurang terdengar di masyarakat untuk menyampaikan sudut pandang mereka melalui gambar.
Melalui foto bertema “Antara Bahan Bangunan dan Nikah Tahun Depan”, pekerja migran asal Indonesia Ahmad Nasrul Fauji berhasil meraih juara ketiga (perunggu).
Ahmad mengatakan foto tersebut menggambarkan rutinitasnya setiap tanggal 10 ketika menerima slip gaji dari mandornya. Setelah menerima slip gaji, ia duduk dan menggunakan kalkulator di telepon genggam untuk membagi penghasilannya sesuai dengan kebutuhan, termasuk menabung untuk membangun rumah, mempersiapkan pernikahan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Juara kedua diraih pekerja migran Filipina, Sese Jonel Bansag, melalui foto bertema “Dormittoryo” atau asrama. Ia menggambarkan kisah para pekerja yang meninggalkan rumah, keluarga, dan kehidupan yang mereka kenal demi mengejar impian di tempat yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halaman.
“Asrama mungkin bukan rumah yang kami impikan, tetapi di sinilah mimpi-mimpi kami sedang dibangun,” ujar Sese.
Sementara itu, juara pertama (emas) diraih Nuhalim Sahwan April Utama, melalui karya yang mengangkat kisah kehilangan ayahnya yang meninggal dunia pada bulan kelahirannya.
“Saya mengabadikan karya dengan warna hitam putih agar memberikan kesan rasa sedih yang mendalam karena kehilangan seorang ayah,” ujar Nuhalim, yang berasal dari Nusa Tenggara Barat.
Saat menyampaikan sambutan, Nuhalim sempat menangis ketika mengenang kepergian ayahnya yang menjadi inspirasi karya tersebut.
Setelah kembali tenang, Nuhalim menyampaikan pesan kepada sesama PMI untuk terus menceritakan pengalaman mereka melalui karya dan terus berkembang secara positif.
Selain penghargaan utama, Siti Aisah meraih penghargaan favorit melalui karya bertema “Dapur Menjadi Tempatku Pulang Kepada Tuhan.”
Rangkaian kegiatan yang dimulai pukul 10.00 tersebut berakhir sekitar pukul 11.00 dan dilanjutkan dengan tur bagi para peserta untuk melihat pameran karya para pemenang serta mengunjungi kawasan National Theater and Concert Hall.
Ditemui CNA seusai kegiatan, Senior Education Specialist (Indonesia) One-Forty Colin Kristianti (林虹伶) mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan ruang yang lebih luas bagi pekerja migran untuk menyampaikan cerita tanpa terkendala bahasa.
“Melalui fotografi, mereka bisa mengungkapkan cerita tanpa harus bercerita mengenai kehidupan mereka di Taiwan. Orang Taiwan dapat memahami cerita melalui foto-foto karya mereka,” katanya.
Colin mengatakan ajang fotografi tersebut telah diselenggarakan sebanyak tujuh kali. Pada tahun ini, panitia menerima sekitar 5.400 karya yang mengikuti perlombaan.
Menurutnya, penghargaan tahun ini terdiri atas 19 karya favorit serta tiga kategori pemenang utama, yaitu juara pertama (emas), juara kedua (perak), dan juara ketiga (perunggu).