Jakarta, 17 Sep. (CNA) Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) terus mendorong ekosistem penempatan pekerja migran yang "adil dan beretika," dan untuk Taiwan, mempromosikan penempatan langsung melalui Special Placement Program to Taiwan (SP2T), kata seorang pejabat KP2MI pada Rabu (16/9).
Dalam wawancara dengan CNA di Jakarta, Direktur Penempatan Nonpemerintah Pada Pemberi Kerja Perseorangan KP2MI, Farid Maruf mengatakan pihaknya ingin membangun ekosistem penempatan yang baik, sehingga terus mendorong "perekrutan yang adil dan beretika."
Dengan demikian, kata Farid, penempatan tidak hanya memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga memastikan proses perekrutan berlangsung secara adil dan sesuai standar yang berlaku.
Menurut Organisasi Perburuhan Internasional, "perekrutan adil" adalah perekrutan di mana "pekerja tidak boleh dibebani biaya perekrutan atau biaya terkait lainnya, dan syarat-syarat perekrutan serta pekerjaan harus diungkapkan secara jelas."
Untuk Taiwan, kata Farid, Indonesia telah memiliki beberapa skema penempatan melalui agensi tenaga kerja, tetapi juga menyediakan skema penempatan langsung melalui Special Placement Program to Taiwan (SP2T).
"Sejak SP2T dibuka hingga sekarang, perkembangannya cukup baik. Artinya, industri di Taiwan melihat skema ini sebagai salah satu alternatif dari mekanisme yang selama ini berjalan melalui agen," ucapnya.
Indonesia pun lebih mendorong agar Taiwan dapat menggunakan SP2T, seiring lebih menguntungkan pekerja karena biaya yang berkaitan dengan penempatan tidak dibebankan kepada mereka, kata Farid.
Menurut KP2MI, sepanjang Januari hingga Juli 2026, tercatat 214.383 pekerja migran Indonesia diberangkatkan ke luar negeri. Taiwan menjadi destinasi nomor satu, dengan mencakup 58.850 orang, atau 27,45 persen dari keseluruhan.
Meskipun demikian, Farid mengatakan penempatan pekerja Indonesia juga mulai berkembang ke negara-negara lain di Eropa, seperti Bulgaria, Ceko, dan Rumania. "Artinya, pekerja Indonesia mulai semakin dilirik di pasar kerja internasional."
Indonesia juga sedang memanfaatkan bonus demografi dengan menyiapkan talenta muda melalui program SMK Go Global, yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi calon pekerja migran agar sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja internasional, menurutnya.
Sektor-sektor yang menjadi perhatian, kata Farid, termasuk kesehatan, perhotelan dan pariwisata, manufaktur, transportasi, konstruksi, agrikultur, pekerjaan berbasis laut, serta kemampuan bahasa asing.
KP2MI menargetkan pencetakan 500.000 tenaga kerja terampil dari 2026 hingga 2029, yang terdiri atas 300.000 lulusan sekolah menengah kejuruan dan 200.000 dari kalangan masyarakat umum.
Kompetensi yang diberikan juga disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan, termasuk dalam hal kemampuan berdasarkan bidang pekerjaan dan kemampuan bahasa, kata Farid.
Misalnya, untuk perhotelan dan pariwisata ada pelatihan tata graha, terapis spa, petugas kebersihan, pramusaji, barista, dan juru masak, sementara untuk manufaktur ada las, pencetakan, serta operasional dan produksi, ucapnya.
"Kami tidak hanya menyiapkan pekerja untuk berangkat, tetapi juga meningkatkan kompetensi, sertifikasi dan kemampuan bahasa mereka sejak awal. Harapannya, dengan persiapan yang baik, perlindungan pekerja juga akan semakin kuat," kata Farid.
(Oleh Gwyneth Sharon, Jason Cahyadi, dan Agoeng Sunarto)
Selesai/IF