Taipei, 20 Sep. (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德) hari Sabtu (19/9) mengumumkan pembentukan World Alliance for Disaster Management (WADM) di sebuah forum di Taipei, dengan mengatakan aliansi ini akan memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap bencana melalui kerja sama internasional.
Anggota pendiri aliansi ini adalah Taiwan, sebelas sekutu diplomatiknya, dan Somaliland. Sebanyak 21 negara lainnya, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, Belanda, Polandia, Turkiye, dan Filipina, berpartisipasi sebagai pengamat atau mitra.
Menurut Kantor Kepresidenan, WADM akan mendorong pelatihan dan latihan bersama, bantuan timbal balik, serta berbagi informasi, dengan tujuan menjadikan Taiwan sebagai pusat lintas negara untuk pencegahan bencana dan koordinasi respons.
Dalam pidato pembukaan Resilient Taiwan for Sustainable Democracy International Forum 2026, Lai mengatakan pembentukan aliansi ini menandai "terobosan besar bagi Taiwan dalam lebih dari setengah abad upaya untuk berpartisipasi dalam organisasi internasional."
Lai mengatakan Taiwan akan bekerja sama dengan mitra-mitra internasional untuk mengoordinasikan peringatan dini, respons bencana, dan pemulihan pascabencana melalui pelatihan bersama dan standar yang dibagikan.
Ia menyoroti pusat pelatihan pemadam kebakaran dan penyelamatan di Kelurahan Zhushan, Kabupaten Nantou, yang ia sebut sebagai yang terbesar di Asia dan ketiga terbesar di dunia.
Taiwan berharap kerja sama semacam itu dapat membangun bahasa profesional yang sama dan memperkuat kemampuan negara-negara peserta untuk merespons bencana bersama, kata Lai.
Lai mencatat bahwa ia membentuk Komite Ketahanan Pertahanan Masyarakat Semesta di Kantor Kepresidenan dua tahun lalu untuk memperkuat ketahanan masyarakat melalui kerja sama publik-swasta dan upaya bersama yang melibatkan industri, pemerintah, akademisi, lembaga penelitian, dan masyarakat sipil.
"Sejak awal, kami telah berupaya mendapatkan wawasan internasional tentang segala hal mulai dari peristiwa global besar hingga model ketahanan masyarakat yang maju di negara lain," kata Lai.
"Setelah dua tahun persiapan, kami yakin model Taiwan saat ini memiliki sesuatu yang dapat ditawarkan kepada komunitas internasional, dan dapat menjadi dasar bagi negara lain yang ingin meningkatkan kesiapsiagaan mereka sendiri," tambahnya.
Berbicara mengenai keamanan, Lai mengatakan bahwa di tengah lanskap politik internasional yang berubah dengan cepat dan meningkatnya ancaman dari Tiongkok, tanggung jawabnya sebagai presiden adalah memastikan Taiwan lebih siap untuk mempertahankan status quo dan mencegah perdamaian dirusak provokasi sepihak.
"Ketika aktor otoriter berusaha menyebarkan ketakutan, masyarakat demokratis harus menyebarkan kepercayaan melalui ketahanan," kata Lai. "Dan ketika kekuatan otoriter mencoba menciptakan perpecahan, itu justru menjadi alasan lebih bagi mitra demokratis untuk bergandengan tangan dan bekerja sama."
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍) dan Menteri Dalam Negeri Liu Shyh-fang (劉世芳) bersama-sama menjadi tuan rumah jamuan makan malam di Taipei pada Jumat untuk para delegasi WADM.
WADM akan mempertemukan pemerintah, lembaga tanggap darurat, dunia usaha, institusi akademik, dan kelompok masyarakat sipil untuk bekerja sama sepanjang siklus manajemen bencana, kata Lin.
Aliansi ini akan memfasilitasi pelatihan profesional, berbagi informasi, pembangunan kapasitas, latihan bersama, dan pertukaran praktis dalam pencegahan bencana, peringatan dini, respons darurat, dan pemulihan pasca-bencana, tambahnya.
“Bencana dan risiko tidak mengenal batas negara, dan kita perlu bekerja sama untuk membangun ketahanan terhadap tantangan ini,” kata Lin.
WADM dibangun berdasarkan visi Presiden Lai Ching-te (賴清德) untuk menjadikan Pusat Pelatihan Direktorat Jenderal Pemadam Kebakaran Nasional di Nantou sebagai pusat pelatihan respons bencana utama untuk kawasan Indo-Pasifik, tambahnya.
Liu mengatakan pengalaman Taiwan menerima bantuan internasional setelah gempa maut Jiji 21 September 1999 menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara dalam penanggulangan bencana.
Taiwan kini secara rutin mengadakan latihan tanggap gempa berskala besar setiap tahun dan siap menawarkan pelatihan profesional berstandar tinggi kepada mitra internasional di pusat Nantou, ujarnya.
Latihan tahun ini melibatkan tim pencarian dan penyelamatan dari Inggris, Jerman, Korea Selatan, Turki, Filipina, Timor-Leste, dan Fiji, serta tim medis bencana dari Australia dan Jepang, kata Liu.
Wakil Presiden Palau Raynold Oilouch mengatakan Palau rentan terhadap taifun, tsunami, dan kekeringan, dan sedang mengalami kondisi paling kering dalam lebih dari dua dekade.
Oilouch mengatakan keahlian yang dihimpun melalui WADM dapat memberikan panduan berharga seiring Palau bersiap menghadapi kemungkinan kekeringan yang berpotensi menjadi bencana.
Lai hari Jumat juga meninjau latihan tanggap darurat bencana gempa bumi berskala besar di Kabupaten Taitung, yang dihadiri perwakilan dari 18 negara dan lebih dari 150 personel internasional pencarian dan penyelamatan serta medis.
“Bencana tidak mengenal batas negara,” kata Lai dalam sambutannya setelah peninjauan, menekankan pentingnya melakukan latihan bersama di masa damai untuk membangun prosedur dan koordinasi bersama, sehingga negara-negara dapat melakukan operasi penyelamatan yang lebih efektif ketika bencana terjadi.
Latihan selama tiga hari ini, yang diadakan di Taitung dari Rabu hingga Jumat sebagai bagian dari Hari Pencegahan Bencana Nasional Taiwan, menyimulasikan gempa berkekuatan 7,3 SR di bagian selatan Lembah Longitudinal Timur dan melibatkan personel dari sebelas negara.
Direktur Institut Amerika di Taiwan Raymond Greene, Direktur Eksekutif Kantor Perdagangan Kanada di Taipei Marie-Louise Hannan, dan Perwakilan Swedia untuk Taiwan Carl Michael Gräns termasuk di antara perwakilan asing yang menghadiri kegiatan.
Lai mengunjungi pusat tanggap darurat bencana, latihan tempat penampungan darurat, dan operasi penyelamatan bencana simulasi.
Latihan ini menggunakan format “semipemberitahuan, tanpa naskah” dan menyimulasikan kerusakan pada infrastruktur penting serta gangguan terhadap bantuan eksternal. Latihan ini juga mengadopsi pelajaran dari Taifun Danas dan bencana danau bendungan Sungai Mataian pada 2025, termasuk komunikasi cadangan serta pengaturan evakuasi dan penampungan.
Lai mengatakan pemerintah telah memperluas kerja sama internasional dalam tanggap bencana dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kerja sama antara Taiwan dan Jerman dalam pencegahan bencana, bantuan kemanusiaan, dan operasi penyelamatan bersama.
Ia menambahkan bahwa lebih dari 177.000 orang telah dilatih sebagai personel kesiapsiagaan bencana, naik dari lebih dari 100.000 pada akhir tahun lalu.
(Oleh Yeh Su-ping, Wu Shu-wei, Sean Lin, Frances Huang, Chao Yen-hsiang, Tyson Lu, dan Jason Cahyadi)
>Versi Bahasa Inggris
Selesai/