Taipei, 20 Sep. (CNA) Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) justru dapat menjadi ancaman terbesar bagi Taiwan ketika presiden berusia 73 tahun itu menghadapi tekanan politik di dalam negeri, tetapi masih memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengambil tindakan, kata seorang akademisi Taiwan pada Jumat (18/9). Menurutnya, risiko terhadap Taiwan tidak selalu meningkat seiring dengan semakin kuatnya posisi Xi dalam kepemimpinan Tiongkok.
Akademisi Academia Sinica Wu Yu-shan (吳玉山), seorang peneliti utama di Institut Ilmu Politik lembaga tersebut, menyampaikan pernyataan tersebut setelah memberikan pidato utama dalam seminar yang diselenggarakan oleh Institut Hubungan Internasional National Cheng Chi University (NCCU).
"Banyak orang percaya bahwa semakin kuat Xi, semakin besar ancaman bagi Taiwan. Saya tidak melihatnya seperti itu," kata Wu kepada wartawan setelah pidatonya.
"Jika dia memiliki kendali penuh di Tiongkok, dia bisa menunggu lebih lama. Dia tidak perlu mengambil risiko," kata Wu. "Namun ketika dia mendapat tantangan (domestik), dia justru harus merespons dengan lebih tegas (terkait isu Taiwan)."
Wu membingkai analisisnya tentang suksesi kepemimpinan Tiongkok dalam tren yang lebih luas yang ia sebut "ReMaoisasi," merujuk pada konsentrasi kekuasaan di bawah Xi, perluasan kontrol partai-negara atas masyarakat, dan pengikisan norma-norma politik yang dibangun setelah era Mao Zedong (毛澤東).
Perubahan-perubahan tersebut telah mengikis praktik suksesi yang sudah mapan, sehingga hasil Kongres Nasional ke-21 Partai Komunis Tiongkok (PKT) tahun depan menjadi penting tidak hanya bagi politik Tiongkok tetapi juga bagi Taiwan, kata Wu.
Dalam konteks tersebut, Wu mengatakan skenario paling berbahaya bagi Taiwan adalah pengulangan pola yang terjadi pada kongres sebelumnya.
Dalam skenario itu, Xi akan tetap berkuasa sementara para pemimpin senior lainnya terus pensiun sesuai batas usia yang berlaku, menjadikannya satu-satunya pengecualian terhadap aturan tersebut.
Perbedaan itu akan menimbulkan pertanyaan di dalam PKT tentang legitimasi kekuasaan Xi yang berkelanjutan, meningkatkan kemungkinan pembersihan lebih lanjut, dan memberinya insentif lebih besar untuk menunjukkan kekuatan di luar negeri, kata Wu.
Oleh karena itu, Xi akan memiliki motivasi dan kemampuan untuk mengambil "tindakan tegas," tambahnya.
Sebaliknya, Wu mengatakan skenario yang menyerupai model kepemimpinan di bawah mantan pemimpin Soviet Leonid Brezhnev bisa lebih kondusif bagi stabilitas di Selat Taiwan.
Dalam apa yang disebut Wu sebagai "model Brezhnevian," Xi dan beberapa pejabat senior akan tetap menjabat bersama, memberikan para pemimpin puncak PKT kepentingan bersama dalam mempertahankan kepemimpinan yang ada.
Meskipun pengaturan itu dapat menghasilkan sistem politik yang menua dan kaku, hal itu akan membuat posisi Xi lebih aman dan mengurangi kebutuhannya untuk mengambil sikap agresif di luar negeri demi alasan politik domestik, kata Wu.
"Saya pribadi berharap PKT bergerak ke arah model Brezhnevian, meskipun saya tidak bisa memastikan hal itu akan terjadi," kata Wu.
Selesai/ML