Kuala Lumpur, 15 Sep. (CNA) Teknologi pertanian pintar mulai diterapkan di Malaysia untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan memperkuat ketahanan pangan, dengan pelaku usaha Taiwan turut menawarkan teknologi yang menggabungkan mesin pertanian, elektronik, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI).
Sektor pertanian Malaysia memiliki skala yang cukup besar, namun masih menghadapi sejumlah persoalan struktural. Data pemerintah Malaysia menunjukkan dari sekitar 7,5 juta hektare lahan pertanian nasional, hampir 5,8 juta hektare ditanami kelapa sawit.
Produksi minyak sawit mentah Malaysia pada 2025 menembus 20 juta ton, mencatat rekor tertinggi, sementara nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya mencapai lebih dari 112,5 miliar ringgit Malaysia (Rp21,8 triliun).
Di sisi lain, produksi pangan Malaysia masih menghadapi persoalan penuaan tenaga kerja, dominasi usaha tani skala kecil, serta ketergantungan terhadap pekerja migran.
Data Sensus Pertanian 2024 menunjukkan dari sekitar 1,4 juta pekerja sektor pertanian Malaysia, sebanyak 474.000 orang merupakan warga negara asing, atau lebih dari sepertiga total tenaga kerja.
Di negara bagian Kedah, yang dikenal sebagai lumbung beras Malaysia, sejumlah warga Rohingya yang mengungsi bekerja di sektor pertanian atau menjaga lahan persawahan.
Malaysia juga masih bergantung pada impor untuk sejumlah kebutuhan pangan. Negara tersebut mengimpor sekitar 2,5 juta ton jagung pakan setiap tahun dengan nilai sekitar 3 miliar ringgit Malaysia, yang pasokannya hampir seluruhnya berasal dari luar negeri.
Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan pemerintah tengah meningkatkan produksi jagung pakan dalam negeri serta mengaitkan modernisasi pertanian dengan ketahanan pangan guna menghadapi risiko terhadap rantai pasokan global.
Ketidakstabilan rantai pasokan pangan global, perubahan iklim, dan meningkatnya biaya produksi turut mendorong Malaysia mempercepat modernisasi sektor pertanian guna meningkatkan produktivitas, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, dan menekan ketergantungan terhadap impor.
Perusahaan beras nasional Malaysia, BERNAS, menjalankan "Smart Large-Scale Paddy Field Project" (SMART SBB), yang mengintegrasikan tenaga surya, Internet of Things (IoT), dan navigasi satelit. Teknologi tersebut memungkinkan petani memantau ketinggian air serta mengendalikan irigasi dan drainase melalui ponsel, sementara mesin pertanian otomatis juga mulai diterapkan.
Pameran teknologi pertanian Malaysia, Agri Malaysia 2026, yang baru saja berakhir, menarik banyak petani dan menampilkan berbagai teknologi mulai dari mesin pertanian, peralatan irigasi, pertanian pintar, rantai dingin hingga teknologi berkelanjutan. Pelaku usaha Taiwan turut bersaing dengan perusahaan dari Jepang, Korea Selatan, dan negara lainnya.
Petani asal Kedah bernama Faizal mengatakan daerahnya juga menghadapi kekurangan tenaga kerja sehingga membutuhkan mesin dan perangkat pintar yang dapat menghemat tenaga serta meningkatkan efisiensi. Menurutnya, peralatan Taiwan yang menggabungkan mesin dengan sistem kendali elektronik sesuai dengan kebutuhan perkebunan.
Petani keturunan India bernama Suresh mengatakan dirinya tertarik pada peralatan untuk penyiangan, penggemburan tanah, dan pemanenan. Ia menilai teknologi pintar yang dapat membantu menentukan kondisi tanaman dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja memiliki daya tarik praktis bagi petani Malaysia.
Ketua Taiwan Agricultural Machinery Manufacturer's Association (TAMMA) Yao Pei-chin (姚倍欽), yang memimpin pelaku usaha Taiwan dalam pameran tersebut, mengatakan keunggulan Taiwan bukan hanya terletak pada kemampuan memproduksi mesin pertanian, tetapi juga pengalaman panjang di bidang pertanian dan desain mesin yang dipadukan dengan teknologi elektronik, semikonduktor, dan AI.
Ia mencontohkan teknologi pengenalan gambar yang dapat menentukan tingkat kematangan buah sekaligus mendeteksi gejala penyakit pada daun. Setelah data dikirim ke sistem pusat, petani dapat menentukan apakah perlu melakukan penyemprotan pestisida, menyesuaikan penggunaan pupuk, atau mengambil tindakan lainnya.
"Mulai dari menentukan tingkat kematangan untuk panen, mendeteksi penyakit hingga mengirimkan pemberitahuan, teknologi AI dan elektronik dapat diintegrasikan," kata Yao.
Taiwan memiliki banyak wilayah pegunungan dan lahan pertanian yang terbatas. Kondisi tersebut membuat industri mesin pertanian Taiwan memiliki pengalaman dalam mengembangkan peralatan yang beragam, berukuran kecil, dan dapat disesuaikan dengan berbagai jenis tanaman serta kondisi geografis.
Yao mengatakan merek mesin pertanian dari Eropa dan Amerika Serikat, Jepang, serta Korea Selatan juga bersaing di pasar Malaysia. Jika Taiwan hanya mengandalkan mesin konvensional atau harga, akan sulit membangun keunggulan.
Menurutnya, keunggulan Taiwan terletak pada kemampuan mengintegrasikan AI, mesin pertanian, elektronik, dan semikonduktor untuk menciptakan keunggulan yang berbeda di pasar pertanian pintar Malaysia.
Yao juga mengatakan industri mesin pertanian Taiwan membutuhkan dukungan pemerintah melalui kantor perwakilan di luar negeri untuk memperluas pemasaran peralatan pertanian pintar ke pasar internasional. Ia berharap teknologi pertanian Taiwan, selain industri semikonduktor dan cip, dapat menjadi sektor lain yang memiliki daya saing global.
Malaysia memiliki beragam komoditas pertanian, mulai dari kelapa sawit, durian, pisang, nanas, hingga beras dan sayuran. Kebutuhan peralatan berbeda berdasarkan jenis tanaman dan skala perkebunan, sementara kondisi tropis yang panas dan lembap juga menjadi tantangan bagi mesin, sensor, dan perangkat elektronik.
Persaingan di bidang pertanian pintar tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kemampuan menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata seperti kekurangan tenaga kerja, biaya produksi, dan efisiensi.
Bagi pelaku usaha Taiwan, kemampuan mengintegrasikan mesin pertanian, semikonduktor, dan AI menjadi teknologi yang praktis merupakan kunci untuk memperluas kehadiran di pasar pertanian pintar Malaysia.
(Oleh Huang Tzu-chiang dan Agoeng Sunarto)