Taipei, 15 Sep. (CNA) Sebuah studi oleh para peneliti di National Yang Ming Chiao Tung University (NYCU) telah mendokumentasikan seleksi alam yang sedang berlangsung yang membentuk kerentanan terhadap penyakit di antara populasi Taiwan saat ini.
Studi tersebut menganalisis data genetik dari 72.635 individu Han Taiwan menggunakan Taiwan Biobank, sebuah basis data penelitian biomedis nasional, kata NYCU dalam siaran pers yang dikeluarkan Selasa (15/9).
Dengan membandingkan frekuensi varian genetik (dikenal sebagai frekuensi alel) di berbagai kelompok usia, tim tersebut mengidentifikasi 168 varian yang tampaknya sedang mengalami seleksi alam, termasuk 159 varian yang menunjukkan penurunan bertahap atau menghilang di seluruh generasi, kata universitas tersebut.
Para peneliti mencatat adanya "sinyal konsisten" yang melibatkan sifat sel darah merah, dengan 149 varian yang menurun frekuensinya di antara kelompok usia yang lebih muda terkait dengan volume sel darah merah yang lebih besar dan konsentrasi hemoglobin yang lebih rendah, kata NYCU.
Pola yang konsisten seperti itu, menurut NYCU, menunjukkan bahwa seleksi alam secara progresif mengurangi prevalensi varian genetik yang terkait dengan volume sel darah merah yang lebih besar.
Para peneliti berhipotesis bahwa tren ini terkait dengan adaptasi historis terhadap penyakit menular seperti malaria, yang pernah meluas di Taiwan hingga sekitar 60 tahun yang lalu.
Jenis seleksi alam ini, di mana variasi genetik yang merugikan kelangsungan hidup secara bertahap dihilangkan selama beberapa generasi, dikenal sebagai "purifying selection" (seleksi pemurnian), kata NYCU.
Sementara itu, tim juga mengidentifikasi jejak seleksi alam pada gen yang terkait dengan perbaikan DNA dan kanker, menurut siaran pers tersebut.
Salah satunya, haplotipe BRCA1 yang membawa beberapa varian patogenik (penyebab penyakit), ditemukan menurun frekuensinya di antara generasi yang lebih muda, kata NYCU.
Pengetahuan tentang varian patogenik yang langka dan spesifik populasi seperti itu dapat memberikan manfaat di bidang seperti penilaian risiko penyakit dan pengobatan presisi, tambahnya.
Studi ini dipimpin oleh Ko Wen-ya (可文亞), profesor madya di Departemen Ilmu Hayati dan Institut Ilmu Genom NYCU, bekerja sama dengan Yoko Satta dari Graduate University of Advanced Studies di Jepang.
Studi ini diterbitkan di American Journal of Human Genetics pada bulan Juli.
Selesai/