Ketua yayasan amal Indonesia harapkan lebih banyak kolaborasi dengan Taiwan

19/07/2026 10:14(Diperbaharui 19/07/2026 10:14)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Pendiri MMLWF Natalia Tjahja (kanan) dan Presiden IPC Andrew Parsons. (Sumber Foto : MMLWF)
Pendiri MMLWF Natalia Tjahja (kanan) dan Presiden IPC Andrew Parsons. (Sumber Foto : MMLWF)

Jakarta, 19 Juli (CNA) Pendiri Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF), Natalia Tjahja, Sabtu (18/7) mengatakan dirinya berharap ke depannya dapat menjalin pertukaran dan kerja sama dengan organisasi-organisasi amal di Taiwan untuk membantu lebih banyak penyandang disabilitas dan masyarakat rentan.

Natalia mendirikan MMLWF yang diberi nama mendiang putri semata wayangnya, karena tergerak oleh perhatian yang dicurahkan tenaga medis di Singapura sebelum ia wafat pada usia 7 tahun karena sakit. Pada Juli tahun lalu, yayasan meluncurkan inisiatif amal 100 Celebrity Talk for Para Athletes (CTFP) di Negeri Singa.

Melalui pengumpulan pesan-pesan penyemangat dari para pemimpin dunia, atlet, artis, dan tokoh masyarakat dari berbagai negara, di CTFP, yayasan membuat kartu berwarna merah yang diberikan kepada atlet penyandang disabilitas di seluruh dunia, dengan harapan menyebarkan nilai-nilai penghormatan, inklusivitas, dan harapan.

Baca juga: Dua diaspora Indonesia di Taiwan raih penghargaan CTFP

Memperingati satu tahun pelaksanaan inisiatif tersebut, Presiden Komite Paralimpiade Internasional (IPC) Andrew Parsons merekam sebuah video ucapan selamat, sekaligus menyampaikan harapan agar seluruh lapisan masyarakat terus mendorong terwujudnya masyarakat yang semakin inklusif.

Ia mengapresiasi upaya yang telah dilakukan melalui CTFP dan menyatakan bahwa olahraga para tidak hanya mampu mendobrak prasangka dan berbagai hambatan, tetapi juga menciptakan lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas.

Natalia hari Sabtu mengatakan kepada CNA bahwa video itu merupakan bentuk penghargaan dan penyemangat atas kerja keras yayasan selama bertahun-tahun. Ia mengaku bersyukur atas rencana Tuhan dan percaya "dunia bersedia melihat serta menerima inisiatif amal sederhana yang kami jalankan."

Natalia telah beberapa kali menjalin kerja sama dan pertukaran kegiatan sosial dengan individu maupun organisasi dari Taiwan. Pada 2017, yayasan bekerja sama dengan Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) untuk mengundang anak-anak Indonesia sehingga dapat mengenal Taiwan melalui berbagai kegiatan.

Pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, Natalia juga meluncurkan program "Asia Cooking Journey", yang menyediakan makanan bagi tenaga medis di garis depan penanganan pandemi. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah koki dari Taiwan turut berpartisipasi.

Mengenai rencana ke depan, Natalia mengatakan ia berharap dapat terus mengembangkan CTFP, serta memiliki kesempatan untuk menjalin pertukaran dan kerja sama dengan organisasi-organisasi amal di Taiwan, termasuk Yayasan Tzu Chi, guna membantu lebih banyak penyandang disabilitas dan masyarakat yang membutuhkan.

(Oleh Gwyneth Sharon dan Jason Cahyadi)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.