Taipei, 19 Juli (CNA) Militer Taiwan menggelar serangkaian latihan penguatan lintas wilayah selama sepekan terakhir. Menurut para pakar pertahanan, latihan tersebut berfokus pada lokasi-lokasi yang dinilai paling rentan terhadap serangan Tiongkok sekaligus penting untuk menguji rencana operasi militer Taiwan pada masa perang.
Dalam salah satu latihan, Angkatan Darat menggunakan rute alternatif melalui Jalan Raya Suhua untuk memindahkan tank tempur, kendaraan lapis baja, dan artileri dari Kabupaten Hualien di wilayah timur menuju Kelurahan Suao di pesisir timur laut Taiwan.
Dalam latihan terpisah, satu komando Angkatan Darat yang bermarkas di Taiwan timur mengerahkan pasukan ke Orchid Island (Lanyu) dan Green Island (Ludao) untuk mensimulasikan operasi pengusiran pasukan musuh. Sementara itu, komando lain yang berbasis di Kabupaten Yilan mengirim kendaraan lapis baja dan artileri melintasi Terowongan Hsuehshan untuk pertama kalinya guna memperkuat sebuah lokasi yang tidak diungkapkan di Taiwan bagian barat.
Latihan uji kemampuan perkuat wilayah rentan
Peneliti di Institute for National Defense and Security Research (INDSR), Chieh Chung (揭仲), mengatakan lokasi-lokasi yang dipilih untuk latihan tersebut merupakan kawasan yang telah diidentifikasi militer Taiwan sebagai sasaran paling mungkin dari serangan utama Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA).
Sebagai contoh, Chieh menjelaskan bahwa Orchid Island, yang terletak sekitar 65 kilometer dari pesisir tenggara Taiwan, dulunya dianggap memiliki nilai strategis yang terbatas. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan meninjau kembali penilaian tersebut setelah Tiongkok menempatkan kapal serbu amfibi Type 075 di perairan lepas pantai tenggara negara itu.
“Kini ada kemungkinan bahwa jika Orchid Island berhasil direbut, PLA dapat menggunakannya sebagai pangkalan sementara bagi satuan helikopter untuk memperkuat pasukan tempur di pulau utama Taiwan,” ujar Chieh. “Hal itu akan jauh lebih mudah dan efisien dibandingkan menerbangkan helikopter langsung dari Provinsi Fujian melintasi Selat Taiwan.”
Peneliti INDSR lainnya, Su Tzu-yun (蘇紫雲), mengatakan latihan di Orchid Island dan Green Island melibatkan pemindahan personel serta peralatan militer melalui jalur darat dan laut sebelum kembali bergerak ke wilayah pedalaman. Menurutnya, operasi yang kompleks seperti ini memerlukan latihan secara berkala.
Saat dimintai penjelasan mengenai arti penting dua latihan penguatan lainnya di pulau utama Taiwan, Chieh menegaskan bahwa latihan tersebut bukan sekadar perpindahan pasukan biasa, melainkan bertujuan memvalidasi rencana operasi pada masa perang.
Ia menjelaskan bahwa angkatan bersenjata Taiwan telah menyusun berbagai rencana operasi untuk menghadapi beragam skenario, dan latihan yang dilakukan selama sepekan terakhir dirancang untuk menguji efektivitas rencana-rencana tersebut.
“Tanpa latihan yang melibatkan pengerahan pasukan secara langsung, tidak ada cara untuk mengetahui apakah personel benar-benar memahami rencana operasi atau telah melakukan persiapan yang memadai,” katanya.
Menguji rencana mobilitas saat perang
Lebih jauh, Chieh mengatakan bahwa hanya dengan menggerakkan kendaraan militer melalui rute yang telah direncanakan dalam formasi perang, angkatan bersenjata dapat memastikan apakah rencana mobilisasi tersebut benar-benar dapat diterapkan di lapangan.
Sebagai contoh, ia menyinggung insiden saat latihan militer Han Kuang 2025, ketika sebuah peluncur rudal Patriot tersangkut di Distrik Xindian, New Taipei, setelah mengenai kanopi bangunan saat berbelok. Kendaraan itu akhirnya terjebak selama lebih dari dua jam.
Menurut Chieh, insiden tersebut menunjukkan adanya “ketidaksesuaian” antara rencana pergerakan kendaraan militer dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga proses pengerahan yang seharusnya berjalan lancar menjadi terhambat.
“Medan maupun lingkungan perkotaan bisa saja berubah sejak rencana operasi disusun hingga situasi darurat benar-benar terjadi. Karena itu, pasukan perlu dikerahkan lebih dulu untuk memverifikasi apakah rencana tersebut masih relevan,” ujarnya.
Su menambahkan bahwa memindahkan personel dan peralatan militer pada dasarnya sudah merupakan tugas yang rumit, dan tantangannya semakin besar ketika kendaraan harus bergerak dalam formasi.
Sebagai contoh, misi penguatan dari Yilan menuju Taiwan bagian barat melibatkan kendaraan lapis baja CM33, kendaraan pembawa mortir CM23, serta meriam howitzer kaliber 105 milimeter, sebagaimana disampaikan Komando Teater Keempat.
“Latihan semacam ini mutlak diperlukan, sama seperti perusahaan yang secara rutin menggelar simulasi kebakaran,” kata Su.
(Oleh Sean Lin dan Muhammad Irfan)