Taipei, 19 Juli (CNA) "The Rope Curse 4: Kuntilanak" (粽邪4:坤蒂拉娜), film horor Taiwan yang mengangkat kisah kuntilanak dengan turut menggandeng bintang-bintang Nusantara dan syuting di Indonesia, akan tayang di bioskop pada 27 Agustus mendatang, bertepatan dengan Bulan Hantu.
Film dibuka dengan kasus pembunuhan tragis Mila, seorang pekerja migran Indonesia, di sebuah kedai makan. Pada malam yang sama, pemilik toko mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Yulan, seorang wanita Taiwan yang secara tidak sengaja memasuki lokasi kejadian, kemudian mengalami berbagai keanehan.
Ritual pun menemukan bahwa Yulan terkena fenomena berbahaya yaitu kutukan perpindahan jiwa, dan ternyata sumber dari semua kejadian ini berasal dari siaran langsung ritual pemanggilan arwah oleh seorang dukun Indonesia yang disaksikan Mila, yang secara tidak sengaja membangkitkan sosok kuntilanak.
Untuk mematahkan kutukan dan mengembalikan jiwa Yulan dalam batas waktu tujuh hari, Jia-min yang memiliki kemampuan supernatural dan putra Mila membawa pulang abu kremasi mendiang ke Indonesia. Ahli spiritual dari kedua negara pun bekerja sama membuka altar ritual pengusiran setan.
Film ini turut melakukan syuting di Indonesia dan diwarnai peran aktor papan atas Ferry Salim, pemengaruh Andovi Da Lopez, hingga mantan anggota JKT48 Yessica Tamara.
Dalam rilis pers pada 30 Juni, pihak produksi mencatat "The Rope Curse" menjadi satu dari sedikit waralaba horor Taiwan yang berhasil mencapai film keempat. Tiga seri sebelumnya telah meraih total pendapatan box office lebih dari NT$200 juta (Rp110,9 miliar).
Proses persiapan dan produksi "The Rope Curse 4: Kuntilanak" memakan waktu tiga tahun. Selain tetap mengangkat budaya kelenteng dan ritual eksorsisme Taiwan yang telah menjadi ciri khas seri ini, untuk pertama kalinya kisah dan lokasi syuting juga diperluas ke luar negeri.
Mengenai asal mula kisah yang diangkat, sutradara Liao Shih-han (廖士涵) mengungkapkan bahwa ketika melakukan riset lapangan untuk "The Rope Curse 3", ia secara tidak sengaja mengetahui kuntilanak. Saat itu juga ia merasa legenda tersebut sangat cocok dimasukkan ke dalam semesta "The Rope Curse".
"Kuntilanak yang muncul kali ini adalah salah satu roh jahat paling ganas dan paling sulit dihadapi sepanjang sejarah seri 'The Rope Curse'," kata Liao.
Produser Jeff Tsou (鄒介中) menambahkan bahwa "The Rope Curse 4: Kuntilanak" akan tetap mempertahankan "gaya horor folklor yang paling disukai penonton," sekaligus memperluas semesta "The Rope Curse" dan mengembangkan "kisah budaya horor eksorsisme khas Taiwan."
Kembali bergabung dalam seri "The Rope Curse", Vera Chen (陳雪甄) yang memerankan Yulan mengaku sangat gugup karena harus menghadapi sosok kuntilanak yang dianggap besar di kepercayaan Asia.
"Sejak bermain di 'The Rope Curse', saya merasa menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal seperti ini. Sebelum syuting, saya bahkan meminta kru membantu menghindari pantangan-pantangan tertentu. Kali ini karakter saya juga mengalami terobosan yang lebih besar, jadi saya harap penonton menantikannya."
Sementara itu, pemeran Jia-min, Wilson Hsu (許安植) mengatakan ia langsung bersemangat begitu menerima naskah. "Bisa kembali bekerja sama dengan para pemain yang sudah akrab memberi rasa aman."
"Kemampuan Jia-min dalam melakukan eksorsisme maupun kondisi psikologisnya berkembang jauh dibanding sebelumnya. Saya yakin penonton akan merasakan sesuatu yang benar-benar berbeda," kata Hsu.
Pihak produksi hari Selasa (14/7) juga merilis video di balik layar perdana yang menunjukkan ritual di Indonesia. Pada hari pertama syuting, tiga prosesi dari tiga kepercayaan digelar bersama untuk mendoakan kelancaran produksi film.
Seluruh kru mengaku menjalani proses syuting dengan penuh rasa hormat, tetapi tak menampik bahwa pengalaman tersebut benar-benar membuat bulu kuduk berdiri, menurut rilis pers pihak produksi pada hari itu.
Liao sendiri mengaku merinding ketika seorang konsultan kepercayaan menebaskan sebilah pedang ke punggungnya sendiri, menusukkan jarum hingga menembus pipinya, hingga menjulurkan lidah dan menyayatnya dengan pisau.
"Luka sayatan itu mulai mengeluarkan darah, dan kami semua spontan mengalihkan pandangan karena tidak berani melihat," ucapnya.
Liao mengungkapkan bahwa seluruh adegan ritual keagamaan Asia Tenggara yang menegangkan dalam film ini didasarkan pada budaya dan kepercayaan asli masyarakat setempat. Ia berharap karyanya dapat menghadirkan pengalaman horor yang benar-benar baru bagi para penonton.
Pemeran A-Guai, Hangee Liu (劉國劭), mengungkapkan bahwa ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam produksi film yang diawali dengan doa bersama yang menggabungkan dua aliran Taoisme dan kepercayaan Islam. Menurutnya, suasana yang sakral sekaligus penuh misteri ini meninggalkan kesan yang mendalam.
Chen mengaku bahwa sebelum syuting dimulai dirinya dipenuhi rasa antusias dan penasaran, dan ia bahkan sempat berkaca-kaca di lokasi. "Melihat orang-orang dari budaya dan agama yang berbeda saling mendoakan, saling mendukung, dan bekerja sama demi menghasilkan film terbaik benar-benar membuat saya terharu."
Sementara itu, Hsu mengatakan bahwa menghadapi budaya dan lingkungan yang asing memang menimbulkan rasa cemas, tetapi justru perasaan takut atas sesuatu yang belum dikenal itulah yang membantu mendalami peran di film horor.
Tsou mengatakan bahwa cerita rakyat Indonesia sangat kaya dan penuh nuansa mistis. Ia pun mengajak penonton datang ke bioskop untuk menyaksikan "terobosan dan kesungguhan" yang dihadirkan "The Rope Curse 4: Kuntilanak", yang menurutnya akan sangat berbeda dibandingkan seri-seri sebelumnya.
Mengenai pemutaran di Indonesia, pihak produksi hari Minggu mengatakan kepada CNA bahwa hal itu masih dibicarakan dan belum ada keputusan.
Selesai/IF