New Taipei, 18 Juli (CNA) Taiwan sedang menilai kembali hubungan ekonominya dengan Papua Nugini setelah keputusan negara tersebut untuk menutup kantor perwakilan Taipei di sana, termasuk pembelian gas alam, kata Menteri Luar Negeri Lin Chia‑lung (林佳龍) pada Sabtu (18/7).
Berbicara kepada wartawan, Lin mengatakan kementerian telah mengadakan pertemuan untuk meninjau kembali pertukaran ekonomi Taiwan dengan Papua Nugini setelah pengumuman mendadak itu pada Rabu, yang memerintahkan penutupan segera Kantor Ekonomi Taipei di Port Moresby.
Di antara kemungkinan respons, Lin mengatakan Taiwan sedang meninjau kembali pembelian gas alam cair (LNG) dari Papua Nugini, dengan mencatat bahwa impor sekitar 1,2 juta ton per tahun menyumbang sekitar sepertiga dari ekspor LNG Papua Nugini dan merupakan sumber pendapatan utama bagi negara tersebut.
Pada 2024, Papua Nugini mengekspor LNG senilai US$5,36 miliar (Rp96,3 triliun), menjadikannya eksportir LNG terbesar kesembilan di dunia. Pasar utamanya adalah Jepang, Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia, menurut Observatory of Economic Complexity.
LNG menyumbang lebih dari 40 persen dari total ekspor Papua Nugini, menurut Kantor Statistik Nasional negara tersebut.
Sementara itu, Lin mencatat bahwa misi teknis Taiwan di Papua Nugini yang berfokus pada pertanian dan perikanan telah menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi.
Dalam siaran pers pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Papua Nugini Justin Tkatchenko mengatakan pemerintah memerintahkan penutupan segera kantor perwakilan Taiwan, dengan mencatat bahwa keputusan tersebut menegaskan komitmen negara itu terhadap kebijakan "satu Tiongkok".
Pemerintah Taiwan menolak keputusan sepihak Papua Nugini, mengajukan protes, dan berjanji untuk tetap mengoperasikan kantornya seperti biasa.
Pemerintah Papua Nugini tidak melakukan konsultasi atau diskusi dengan Taipei selama proses tersebut, kata Lin dalam sebuah acara di New Taipei.
Lin mengaitkan keputusan Papua Nugini dengan tekanan politik dan ekonomi dari Beijing. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Amerika Serikat atas dukungannya terhadap Taiwan.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan kepada CNA melalui surel pada Jumat bahwa langkah Papua Nugini adalah contoh lain dari upaya Beijing untuk mengintimidasi Taiwan.
Kantor perwakilan Taiwan di Papua Nugini didirikan pada 1990 setelah perjanjian dagang yang ditandatangani tahun sebelumnya, meskipun tidak ada hubungan diplomatik formal.
Selesai/