Oleh Mira Luxita, staf reporter CNA
Program pengecekan kesehatan gratis bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang digelar Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) di Taipei, Taichung, dan Kaohsiung pada 14–17 Mei lalu menunjukkan tingginya masalah kesehatan mental di kalangan PMI. Dari 126 responden yang mengikuti skrining depresi, 88,9 persen menunjukkan gejala depresi dalam berbagai tingkatan.
Kondisi kerja yang berat dengan tuntutan jam kerja panjang
Menurut laporan yang disampaikan oleh Wirda Y. Dulahu, salah satu dosen keperawatan ahli kesehatan mental, pada aspek kesehatan mental, hasil skrining 126 PMI menunjukkan bahwa hanya 11,1 persen PMI yang tidak mengalami gejala depresi, sedangkan yang mengalami gejala depresi minimal 37,3 persen, depresi ringan 23,0 persen, depresi sedang hingga berat 24,6 persen, dan depresi berat 3,2 persen.
Sementara skrining kecemasan yang melibatkan 130 PMI menunjukkan hanya 23,6 persen yang tidak mengalami kecemasan, sedangkan sisanya mengalami kecemasan minimal (35,0 persen), ringan (25,0 persen ), sedang (5,7 persen), dan berat (3,6 persen).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental merupakan isu yang cukup menonjol pada PMI, dengan lebih dari tiga perempat responden menunjukkan adanya gejala depresi maupun kecemasan dalam berbagai tingkatan. Jika dikaitkan dengan hasil wawancara mendalam, tingginya gejala depresi dan kecemasan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai tekanan psikososial yang dihadapi PMI.
Menurut dia, kebanyakan permasalahan tersebut berasal dari masalah hubungan dengan pasangan, kondisi anak yang ditinggalkan di Indonesia, beban ekonomi keluarga, pengalaman traumatis, stigma sosial, serta tuntutan pekerjaan yang berat.
Meskipun demikian, PMI juga mengungkapkan kebutuhan yang kuat untuk memperoleh dukungan emosional melalui wadah berbagi cerita bersama sesama orang Indonesia yang dianggap lebih memahami pengalaman hidup mereka. Temuan ini menunjukkan bahwa selain pemantauan kesehatan fisik, penguatan layanan kesehatan mental dan dukungan sosial berbasis komunitas PMI perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan pekerja migran Indonesia di luar negeri, kata Wirda.
Perempuan mendominasi responden survei
Adanya gejala depresi dan kecemasan pada PMI di Taiwan dapat dipengaruhi oleh karakteristik responden dan kondisi kerja yang mereka hadapi. Mayoritas responden merupakan perempuan (69,1 persen), telah menikah (50,4 persen), dan bekerja sebagai caregiver atau perawat (45,5 persen).
Sebagai perempuan yang sebagian besar telah berkeluarga, mereka menghadapi tantangan emosional berupa perpisahan dengan pasangan dan anak dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini dapat menimbulkan perasaan rindu, kekhawatiran terhadap keluarga yang ditinggalkan, serta konflik peran antara tanggung jawab sebagai pencari nafkah dan sebagai ibu atau istri.
Selain itu, sebagian besar responden bekerja lebih dari 10 jam per hari (55,3 persen) dan hampir 60 persen bekerja selama tujuh hari per minggu, yang menunjukkan tingginya beban kerja dan terbatasnya waktu istirahat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kelelahan fisik maupun psikologis, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap munculnya gejala depresi dan kecemasan.
Temuan wawancara mendalam semakin memperkuat hasil ini, di mana PMI mengungkapkan berbagai tekanan yang berasal dari masalah keluarga, ekonomi, stigma sosial, pengalaman traumatis, dan tuntutan pekerjaan yang berat. Meskipun sebagian besar responden telah bekerja di Taiwan lebih dari lima tahun (68,5 persen), lamanya masa kerja tidak serta merta menghilangkan tekanan psikologis yang dialami.
Sebaliknya, tanggung jawab ekonomi yang terus berlanjut dan keterpisahan dengan keluarga dalam jangka panjang dapat menjadi sumber stres yang berkepanjangan. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesehatan mental PMI perlu tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga memperhatikan dukungan sosial, hubungan keluarga, serta penyediaan ruang berbagi dan dukungan sebaya di komunitas PMI.
Depresi sedang bisa berkembang jadi penyakit jiwa
Dalam wawancaranya bersama CNA, Wirda, pakar kesehatan mental mengatakan, saat di lapangan ia menemukan gangguan kesehatan mental, bahkan ada yang masuk depresi sedang. Dengan tim jiwa melakukan konseling, akhirnya terbuka dan ada yang menangis.
“Kami menemukan indikasi yang mengarah pada penyakit jiwa jika tidak dilakukan penanganan secepatnya,” ujar Wirda yang juga seorang dosen keperawatan di Sulawesi.
“Ada beberapa peserta terindikasi gangguan kesehatan mental yang mengarah ke tingkat sedang. PMI kerap mengalami tekanan dari pekerjaannya dan jauh dari keluarga. Saran saya, sebaiknya dibuka fasilitas untuk konseling. Mungkin PMI susah untuk terbuka dengan teman-teman karena faktor kepercayaan. Namun tim konseling profesional dapat membantunya,” ucap dia.
Wirda mengungkapkan, gangguan mental yang telah memasuki depresi dan kecemasan sedang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan seksama.
“Tim konseling telah melakukan konsultasi kepada mereka. Ada yang menangis mencurahkan masalahnya. Alhamdulilah setelah itu mereka sudah lega. Beberapa dari antara mereka ingin melakukan pemeriksaan seperti ini karena ada soslusi, jika tdk ditindaklanjuti maka akan mengarah ke penyakit jiwa,” ungkap Wirda yang kini menjadi mahasiswa doktoral Universitas Indonesia.
“Saran saya, bagi rekan-rekan PMI untuk memperhatikan waktu kerja. Tingginya jam kerja akan mengakibatkan kejenuhan, akan mengarah ke gangguan mental. Jika ada waktu libur, ikutlah kegiatan bersama PMI, agar bisa merasa difasilitasi. Jika depresi tingkat sedang tidak mendapatkan penanganan yang tepat, akan mengakibatkan penyakit kejiwaan,” sambung Wirda.
Wirda juga mengimbau, bagi PMI juga dapat memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan secara daring melalui website https://migrant-center.com/ sebuah platform yang diinisiasi oleh tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan PMI.
Selesai/IF