Los Angeles, 14 Jun. (CNA) Ketua Partai oposisi Kuomintang (KMT) Taiwan, Cheng Li-wun (鄭麗文), mengatakan pada hari Minggu (15/6) bahwa aktivitas militer di Indo-Pasifik adalah "sangat normal" mengingat lingkungan keamanan kawasan yang kompleks, saat ia memberikan pandangannya tentang latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) yang akan datang yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Berbicara dalam konferensi pers di Los Angeles, Cheng mengomentari latihan dua tahunan tersebut, yang dijadwalkan dimulai pada 24 Juni di Hawaii dengan lebih dari 30 negara peserta.
"Mengingat lingkungan keamanan yang kompleks di kawasan ini, sangat normal jika latihan militer seperti ini terus berlangsung," katanya saat diminta CNA untuk memberikan pandangannya tentang latihan tersebut.
AS dan Tiongkok secara rutin melakukan aktivitas militer di kawasan ini, tambahnya, dan untuk mencapai perdamaian abadi pada akhirnya diperlukan penanganan langsung terhadap isu-isu tersebut.
Namun, sebagai partai oposisi, KMT akan menahan diri untuk tidak mengambil posisi formal terkait kebijakan militer hingga kembali berkuasa, ujar Cheng.
Pemerintahan yang dipimpin KMT akan membangun mekanisme kepercayaan bersama untuk mengurangi aktivitas semacam itu di Selat Taiwan, tambahnya.
Cheng menyampaikan pernyataan tersebut saat menutup tur selama 16 hari ke San Francisco, Boston, New York, Washington, dan Los Angeles -- yang diberi nama "Perjalanan Perdamaian dan Kemakmuran AS-Tiongkok-Taiwan" -- di mana ia mempromosikan Taiwan sebagai jembatan potensial antara Washington dan Beijing.
Merangkum perjalanannya, Cheng mengutip pertemuannya pada bulan April dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平), yang melanjutkan kembali pertukaran antar partai antara KMT dan Partai Komunis Tiongkok (CPC).
Selama kunjungannya ke AS, ia menekankan pendekatan yang berorientasi pada perdamaian dan mengatakan bahwa Presiden Donald Trump juga tidak ingin melihat Taiwan bergerak menuju kemerdekaan atau melihat pasukan Amerika terlibat dalam konflik akibat posisi pro-kemerdekaan.
Namun, ia menegaskan bahwa stabilitas lintas selat yang berkelanjutan akan sulit tercapai tanpa kepemimpinan kuat AS yang terus berlanjut di kawasan ini.
Dalam pidatonya kepada komunitas Taiwan perantauan setempat, Cheng berpendapat bahwa konsep "rantai pulau pertama" mencerminkan pola pikir Perang Dingin yang sudah usang dan seharusnya diubah menjadi "rantai perdamaian dan kemakmuran."
Ia berpendapat bahwa kepemimpinan AS dalam pertukaran teknologi, talenta, dan pasar di kawasan dapat menghasilkan "dividen perdamaian."
Cheng juga menegaskan pesan anti-perangnya dengan kalimat tajam: "Drone seharusnya digunakan untuk mengantarkan bubble tea, bukan rudal."
Terkait kebijakan pertahanan, Cheng mengatakan dukungan KMT terhadap pertahanan nasional tidak akan berubah, seraya menambahkan bahwa yang dibutuhkan Taiwan adalah militer yang efektif dan mampu mempertahankan negara.
Ia menekankan bahwa upaya dialog lintas selat tidak akan mengorbankan demokrasi, kebebasan, atau ketahanan pertahanan Taiwan.
Selesai/ML