Teresa Liu: Dari rempah perkenalkan Indonesia pada publik Taiwan

15/06/2026 12:19(Diperbaharui 15/06/2026 12:39)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

 
Oleh Muhammad Irfan, staf reporter CNA

Tahun ini, Teresa Liu genap 32 tahun tinggal di Taiwan. Pindah ke Taiwan pada usia 15 tahun untuk belajar bahasa Mandarin, perempuan yang lahir di Lampung dan besar di Palembang dan Jakarta ini kemudian mulai meniti karirnya di dunia media. Dunia yang membawanya pada banyak penjelajahan kata hingga membuahkan tujuh buku. Yang terkini adalah tentang rempah Nusantara.

Buku terbarunya yang terbit tahun lalu berjudul "Southeast Asian Spices" (餐桌上的南洋香料百科). Menurut Liu, penggunaan istilah Asia Tenggara dalam judul tersebut bertujuan memudahkan pembaca Taiwan memahami topik yang diangkat. Pasalnya, pengetahuan masyarakat Taiwan mengenai Indonesia masih relatif terbatas.

“Jadi saya pilih judulnya Asia Tenggara. Di antaranya banyak rempah Indonesia, tetapi karena Indonesia belum begitu populer bagi masyarakat Taiwan, jadi saya memilih judul Asia Tenggara,” kata Liu.

Alasan paling kuat dari seorang Liu untuk mendedikasikan dirinya pada masakan Indonesia adalah karena ia orang Indonesia.

“Saya orang Indonesia dan enggak pernah lupa masakan Indonesia. Kalau bukan karena makanan mungkin saya sudah lupa Indonesia. Dan saya mau memperkenalkan makanan Indonesia pada orang Taiwan,” kata dia.

Liu menyebut meski baru menulis tentang rempah dan gastronomi Nusantara saat ini, perkenalannya dengan rempah sudah dimulai sejak ia tumbuh besar di Sumatra.

Menurut Liu, banyak bibinya yang gemar memasak sehingga ia mulai belajar sedikit demi sedikit dari mereka. Namun, ada beberapa makanan yang kala itu sulit ia nikmati, salah satunya daging sapi yang menurutnya memiliki aroma terlalu amis. Pandangannya berubah setelah ia mencicipi rendang, hidangan yang membuatnya mulai menyukai daging sapi.

“Nah, kalau dimasak rendang, dagingnya enggak ada. Karena banyak rempahnya,” kata Liu.

Kecintaannya pada masakan dan rempah Nusantara dan Asia Tenggara tak hanya berhenti pada penulisan buku. Seiring dengan buku yang ia terbitkan, ia juga mulai menghubungkannya dengan kegiatan lokakarya. Dari situ, sedikit demi sedikit masyarakat lokal Taiwan mulai mengenal masakan Indonesia.

Meskipun, sambung Liu, saat ini kepopuleran Asia Tenggara di Taiwan masih lebih banyak diwakili oleh Tailan yang punya arus promosi cukup besar di Taiwan.

“Dan ternyata banyak yang suka rendang Indonesia. Kata mereka rendang Indonesia enak. Dari situ saya bangga juga,” kata perempuan yang juga bekerja sebagai importir ini seraya menuturkan lokakarya yang ia gelar biasanya diikuti oleh 20 hingga 200 peserta. 

“Masakan Indonesia punya kesempatan,” kata dia.

Terus belajar

Liu bukan orang yang mudah berpuas diri. Sebagai upayanya untuk memperkenalkan kuliner Indonesia, ia tak berhenti dalam kata-kata yang ia tuangkan dan juga lokakarya yang ia gelar. Liu juga mulai belajar fotografi.

Menurut Liu, mulanya ia cukup malas menyajikan foto dalam lokakarya. Namun, untuk membuat visual yang menggugah selera peserta, ia pun mulai belajar fotografi. “Dan ternyata orang lebih suka, kok makanan Indonesia (terlihat) cantik. Makanan Indonesia itu enak, tetapi suka dibuat berantakan. Dari situ aku rapiin, dan orang lebih suka,” kata dia.

Semangat untuk terus belajar ini juga tidak lepas dari pengalamannya bekerja di media. Ia memulai kariernya di sebuah koran ekonomi selama dua tahun. Lalu lepas dari koran tersebut, ia pindah ke majalah ibu dan anak selama 10 tahun lamanya. Di masa-masa ini ia juga sudah menulis buku.

“Memang kalau bekerja di media kita jadi biasa untuk terus belajar,” kata Liu.

Teresa Liu dalam acara peluncuran buku "Southeast Asian Spices (餐桌上的南洋香料百科)" (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Teresa Liu dalam acara peluncuran buku "Southeast Asian Spices (餐桌上的南洋香料百科)" (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Perhatian pada penyajian dan kesehatan

Perbedaan budaya dan kebiasaan makan menjadi kendala dalam memperkenalkan makanan Indonesia di Taiwan. Untuk itu, Liu menyoroti beberapa hal terkait penyajian dan aspek kesehatan.

Dalam aspek penyajian, misalnya, Liu menilai orang Taiwan cukup sulit memahami dan memakan sayur kol mentah dengan potongan yang besar seperti yang sering ditemukan pada lalapan Indonesia. Menurutnya, hal ini bisa diakali dengan memotong kolnya menjadi lebih kecil dan merebusnya. 

Ia juga mengkritisi kurangnya promosi kuliner Indonesia di Taiwan dibandingkan dengan Tailan. Terkait hal ini, ia juga menegaskan masih banyak celah yang bisa dioptimalkan.

Adapun aspek kesehatan, masakan Indonesia punya teknik memasak dan bahan yang tak sangsi lagi memiliki manfaat untuk kesehatan. Misalnya, teknis memasak pepes atau banyaknya rempah yang digunakan pada makanan Indonesia. Kalau ada ketidakcocokan pada kadar keasinan antara masakan Indonesia dan selera lokal, maka cukup menyesuaikan dengan lidah orang Taiwan.

“Misalnya, makanan Indonesia punya garam dua sendok, ya di Taiwan cukup satu sendok. Jadi, sehat atau tidak itu bagaimana cara penggunaan bahannya dan cara memasaknya,” ucapnya.

Ditanya tentang kemungkinan ia membuka restorannya sendiri, sebagai perpanjangan tangan dari upayanya menulis, lokakarya, dan terus belajar tentang kuliner Nusantara, hingga kini Liu mengaku belum memikirkannya secara serius. Soalnya, menjalankan restoran bukan hal mudah baginya saat ini, di mana harus ada manajemen yang sehat dan pemilik juga harus selalu hadir secara fisik di restoran tersebut.

“Kalau sekarang kan aku kerja cukup bebas karena bisa menulis dari mana saja,” ucap dia.

Namun ia kini telah merintis produk makanan rendang beku seiring fokusnya pada rempah Indonesia. Menurut dia, hal ini lebih mudah dilakukan untuknya dan bagi konsumen, rendang beku ini lebih mudah untuk disantap, dengan kemasan yang sederhana, tetapi tetap menghadirkan kekayaan rasa khas rendang Indonesia.

“Apalagi orang Taiwan mulai senang dengan masakan Asia Tenggara. Yang populer Tailan, tapi melalui Tailan aku perkenalkan Indonesia,” kata dia.

Belajar melampaui

Apa yang ia dapat saat ini di lebih dari tiga dekadenya di Taiwan tak lepas dari usaha dan bagaimana ia menekuni profesi yang ia jalani. Melihat ke belakang saat ia memulai bekerja di Taiwan selepas sekolah, ia merasa harus bisa melampaui teman kerjanya yang lokal karena sebagai pendatang tidak akan bisa bertahan hidup di rantau jika hanya memiliki kemampuan yang rata-rata.

“Kita kalau mau bersaing dengan orang Taiwan, buat yang lahir di negara lain (sebagai pendatang) enggak gampang. Jadi harus punya kemampuan,” kata Liu.

Ia pun percaya pada peribahasa Tionghoa yang berbunyi, “batu yang terus berputar tidak akan ada lumutnya”. Maksud filosofis dari ungkapan itu, kata Liu, adalah bagaimana agar kita tekun pada bidang yang telah kita putuskan. 

“Kalau kerja enggak suka, terus pindah, nanti enggak akan ada hasilnya. Kalau kerja, profesi kita telaten terus akan ada hasilnya,” kata Liu.

Adapun proses membangun karier di rantau, selama ini tak pernah menjadi kendala yang berarti baginya. Liu bersyukur banyak proses yang ia lalui terbayar lewat kepuasan orang-orang yang bekerja bersama dia. Misalnya, ketika ia menggelar lokakarya dan orang lokal menyukainya, ia akan merasa sambutan hangat ini sungguh berarti.

“Jadi, sedikit demi sedikit mereka (orang lokal) mulai lebih mengenal Indonesia dan stereotip yang ada selama ini mulai hilang,” kata Liu.

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.