Oleh Sean Lin dan Muhammad Irfan, reporter staf CNA
Bagi Susan Solomon, menerima kabar bahwa ia telah memenangkan Penghargaan Tang 2026 dalam Pengembangan Berkelanjutan terasa sangat tidak nyata dan sangat merendahkan hati.
"Itu adalah perasaan yang luar biasa," katanya kepada CNA dalam sebuah wawancara, mengenang saat ia bergabung dalam daftar penerima penghargaan yang telah lama ia kagumi. "Jane Goodall, Gro Harlem Brundtland, Jim Hansen... mereka adalah orang-orang luar biasa yang sangat saya hormati. Saya benar-benar terkejut."
Pengakuan tersebut sangat layak bagi seorang ilmuwan yang karyanya secara fundamental telah mengubah pemahaman umat manusia tentang atmosfer, namun Solomon mengatakan bahwa itu bukanlah sesuatu yang pernah ia cari.
"Sebenarnya saya adalah orang yang sangat pemalu," katanya. "Saya hanya ingin membawa beberapa fakta ke dalam diskusi."
Menemukan Keajaiban
Komitmen terhadap bukti itu dimulai sejak dini. Pada usia sembilan tahun, Solomon duduk terpaku di depan televisi hitam-putih menyaksikan penjelajah laut Prancis Jacques Cousteau mengungkap misteri dunia bawah laut.
"Saat itu juga saya memutuskan bahwa saya akan menjadi seorang ilmuwan," kenangnya. "Ilmuwan seperti apa, saya belum tahu."
Akhirnya ia menemukan panggilannya di bidang kimia atmosfer, jalur yang membawanya ke Antartika, salah satu tempat paling keras namun paling indah di Bumi.
Itu meninggalkan kesan yang tak terhapuskan. Solomon masih ingat hamparan putih luas yang terbentang di bawah jendela pesawat, belum tersentuh oleh manusia.
"Kamu tidak melihat kota atau desa. Kamu tidak melihat kapal. Kamu tidak melihat cahaya," katanya. "Kamu benar-benar hanya melihat benua yang belum tersentuh ini."
Keindahannya sangat menakjubkan, tetapi pekerjaannya sangat berat. Para peneliti harus memperhitungkan setiap detail, katanya, karena perlengkapan yang terlupa tidak bisa dengan mudah diganti.
Dalam salah satu eksperimen, kenang Solomon, ia memanjat ke atap dalam suhu yang sangat dingin untuk menyesuaikan peralatan.
"Air mata saya benar-benar membeku," katanya. "Saya sadar setelah beberapa saat saya tidak bisa membuka kelopak mata saya."
Pengalaman-pengalaman itu memperkuat baik keagungan maupun kerapuhan alam.
"Ketika kamu melihat seperti apa alam yang belum tersentuh, kamu menyadari betapa pentingnya bagi kita untuk melindunginya."
Melawan Kebijaksanaan Konvensional
Pada usia baru 29 tahun, Solomon membuat terobosan yang menjelaskan lubang ozon Antartika. Sementara banyak ilmuwan mapan berfokus pada reaksi yang hanya terjadi di gas, ia mempertimbangkan sesuatu yang sebagian besar diabaikan orang lain: kimia yang terjadi di permukaan.
"Otak saya belum tercuci," katanya. "Saya benar-benar bisa memikirkan hal-hal di luar kebiasaan."
Kesediaannya untuk menantang asumsi mengubah ilmu atmosfer dan membantu membuka jalan bagi salah satu kisah sukses lingkungan terbesar umat manusia: aksi internasional melalui Protokol Montreal.
Protokol itu menghapus bahan kimia perusak ozon dan menunjukkan bahwa pemerintah, ilmuwan, dan industri dapat bekerja sama untuk menyelesaikan krisis global.
Sepanjang kariernya, mulai dari berpartisipasi dalam penilaian berkala Protokol Montreal hingga memimpin bersama penilaian ilmiah Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim pada tahun 2007, ia juga menyaksikan betapa pentingnya kerja sama internasional antarilmuwan untuk memengaruhi kebijakan.
"Salah satu hal yang paling informatif bagi saya adalah benar-benar melihat betapa pentingnya bagi ilmuwan di seluruh dunia untuk berinteraksi dan berbicara satu sama lain," katanya. "Hanya setelah para ilmuwan mencapai pandangan bersama, kamu bisa memberi informasi kepada para pembuat kebijakan."
Alasan untuk Berharap
Terlepas dari tantangan yang ia saksikan sepanjang kariernya, Solomon tetap optimistis.
Umat manusia telah menghadapi masalah lingkungan besar sebelumnya, mulai dari bensin bertimbal dan pestisida yang bertahan lama hingga kabut asap perkotaan, dan telah membuat kemajuan yang berarti, katanya.
"Kita memiliki alat untuk menyelesaikan masalah," katanya, mencatat bahwa teknologi terbarukan telah menjadi lebih terjangkau, kendaraan listrik semakin umum, dan banyak negara mempercepat transisi mereka dari bahan bakar fosil.
Saat ia bersiap untuk kunjungannya ke Taiwan akhir tahun ini, Solomon berharap generasi muda akan mengambil kekuatan dari keberhasilan dunia dalam menyelesaikan masalah lingkungan, bukan putus asa karena berita utama hari ini.
"Mudah untuk merasa putus asa," katanya. "Jangan biarkan itu membuatmu menjadi orang yang negatif."
Yang lebih penting, ia mendorong anak muda untuk merenungkan dengan cara apa mereka dapat memberikan manfaat bagi masa depan Bumi.
"Lihat apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu planet ini," katanya. "Karena planet ini benar-benar membutuhkan bantuanmu."
Selesai/ja