Taipei, 5 Mei (CNA) Pemerintah Kabupaten Chiayi hari Senin (4/5) mengundang imigran baru untuk mengikuti program pelatihan tenaga penerjemah sekaligus petugas pendamping yang direncanakan dimulai pada 17 Mei.
Dalam sebuah rilis pers, pemerintah kabupaten mengatakan Biro Urusan Sosial Kabupaten Chiayi aktif melatih imigran baru menjadi tenaga penerjemah dan pendamping, dengan memanfaatkan keunggulan mereka dalam bahasa dan budaya untuk membantu pekerja sosial.
Hingga Desember 2025, sebanyak 81 tenaga penerjemah dan pendamping asal Vietnam, Indonesia, Kamboja, Myanmar, dan Tailan telah berhasil menyelesaikan pelatihan dan terdaftar, kata pemerintah kabupaten.
Mereka yang telah memiliki masa layanan lebih dari tiga tahun dan rutin mengikuti pelatihan lanjutan juga akan dikembangkan menjadi tenaga penerjemah dan pendamping senior untuk membantu operasional pusat layanan keluarga imigran baru serta penanganan kasus, kata pemerintah kabupaten.
Biro Urusan Sosial juga melanjutkan pengembangan dengan melatih para tenaga penerjemah dan pendamping ini menjadi pengajar promosi komunitas multikultural, yang hingga April tahun ini telah berjumlah 21 orang, dan secara total telah memberikan lebih dari 45 sesi ceramah, menurut rilis pers.
Melalui pelatihan seperti teknik bercerita, pembuatan presentasi, serta diskusi isu lintas budaya, mereka dapat bekerja sama dengan pusat layanan imigran baru untuk masuk ke komunitas, memperkenalkan budaya negara asal, dan berbagi kisah kehidupan kepada masyarakat, kata pemerintah kabupaten.
Biro Urusan Sosial, bekerja sama dengan pendanaan dari Direktorat Jenderal Imigrasi, juga mengelola dua Pusat Layanan Keluarga Imigran Baru, yang memberikan pendampingan kepada imigran baru yang baru tiba di Taiwan melalui pekerja sosial, serta menyediakan layanan mengikuti lama tinggal dan tingkat adaptasi mereka, menurut rilis pers.
Biro tersebut menyatakan bahwa intervensi pekerja sosial serta dukungan tenaga penerjemah dan pendamping tidak hanya dapat membantu keluarga imigran baru mengurangi kesenjangan budaya, tetapi juga memperkuat keunggulan keluarga pernikahan lintas budaya, sehingga mendorong terciptanya keharmonisan dan integrasi sosial.
Selesai/ja