Christiana Dewi: Imigran baru sukarelawan sekolah, imigrasi, rumah sakit, hingga pengadilan

07/04/2026 16:41(Diperbaharui 07/04/2026 16:41)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Christina Dewi, sosok imigran baru yang aktif menjadi sukarelawan di Taiwan. (Sumber Foto : Dewi)
Christina Dewi, sosok imigran baru yang aktif menjadi sukarelawan di Taiwan. (Sumber Foto : Dewi)

Oleh Miralux, reporter staf CNA

Kegiatan yang sangat padat menghiasi aktivitas keseharian seorang imigran baru asal Indonesia ini. Dari pukul 7 pagi hingga malam, ia terus menjadi relawan, dari mengajar bahasa Indonesia di sekolah, penerjemah di rumah sakit dan kantor imigrasi, hingga membantu menerjemahkan kasus di kejaksaan, pengadilan, dan kantor polisi.

Christina Dewi (51) menuturkan kepada CNA bahwa kesibukannya yang tak lepas dari membantu sesama dikarenakan kasih. Ia berpesan bahwa selama hidup, manusia hendaknya saling mengasihi dan membantu. Pondasi tersebut ia dapatkan dari gereja tempatnya bertumbuh dan belajar Mandarin saat baru tiba di Taiwan. 

Seabreg kegiatan menjadi sukarelawan setiap hari

Setiap hari Senin hingga Jumat pada pukul 06.30, Dewi yang tinggal di pusat kota Taipei harus mengejar MRT dan bus untuk mencapai sekolahnya di New Taipei. Ia harus mengajar di sembilan institusi dari pukul 07.55 hingga 13.20. Berlarian mengejar transportasi umum menjadi makanan kesehariannya untuk mengejar waktu. 

Untuk Senin, setelah mengajar, Dewi harus menuju kantor Direktorat Jenderal hingga sore, untuk melayani sebagai penerjemah atau membantu secara umum bagi pengunjung, baik yang dari Indonesia maupun negara lain.

Sore harinya, ia harus meluncur ke rumah sakit yang berada di New Taipei, untuk bertugas sebagai penerjemah dalam pengurusan dokumen seperti tes medis dan penunjuk arah.

Dewi berfoto bersama Presiden Lai Ching-te dan imigran baru dari berbagai negara lainnya. (Sumber Foto : Dewi)
Dewi berfoto bersama Presiden Lai Ching-te dan imigran baru dari berbagai negara lainnya. (Sumber Foto : Dewi)

Sementara usai mengajar pada Rabu, Dewi beranjak ke Taipei City Hospital Zhongxin Branch di wilayah Beimen, guna menjadi penerjemah dan penunjuk arah bagi warga Indonesia yang tidak dapat berbahasa Mandarin.

Pada Selasa dan Jumat siang hingga sore, Dewi melayani di Taipei City Hospital Ren Ai Branch sebagai penerjemah, membantu orang Indonesia terutama pekerja migran yang melakukan tes medis maupun siapapun yang datang dan membutuhkan jasa pelayanannya.

"Saya sih anjurkan untuk PMI (pekerja migran Indonesia) agar mengurus medical check up sendiri yah. Sekarang biaya tes medis sebesar NT$620 (Rp331 ribu), kalau diurus sendiri. Saya dengar kalau diurus agensi biayanya hingga NT$2.000. Jadi, kalau temen-teman PMI mau dibantu pengurusan tes medis di rumah sakit ini, bisa temui saya setiap Selasa dan Jumat sore," ujarnya. 

Menjelang sore hingga malam pun perempuan asal Tanggerang ini membantu sebagai penerjemah untuk pihak kepolisian.

"Jika ada kasus penipuan, pihak kepolisian memanggil saya untuk menjadi pihak penerjemah. Kadang ada anak yang meminjamkan kartu ATM ternyata itu dibuat untuk penipuan. Ia sendiri yang meminjamkan tidak sadar kalau kartunya dibuat untuk penipuan. Polisi dan kejaksaan serta pengadilan meminta saya untuk menerjemahkan kasus tersebut," ucapnya.

Untuk menjadi penerjemah di bidang ini, Dewi harus menempuh ujian dan mendapatkan lisensi serta sertifikat resmi dari pemerintah Taiwan, ujarnya yang sudah malang melintang di bidang penerjemahan pengadilan dan kantor polisi selama 15 tahun.

Menjadi penerjemah mereka yang pedih hatinya

Kepada CNA, Dewi menceritakan dua peristiwa yang hingga kini tak dapat ia lupakan dari dunia penerjemahannya. Pertama, ia pernah membantu untuk menerjemahkan seorang PMI perawat lansia yang diperkosa majikannya.

Saat itu, Dewi harus menemaninya divisum. Tak hanya menerjemahkan secara kronologis bagaimana saat ia dirudapaksa, tetapi harus juga menenangkan korban agar tak menangis karena saat itu tertekan dan lelah.

Dewi memberi dukungan secara mental agar sang korban mau mengeluarkan unek-uneknya serta kronologi secara detil saat diinterogasi. 

"Dia cerita kronologisnya karena waktu itu pertama kali saya membantu saat dia datang dengan luka-luka dan seharian bersamanya, bahkan saya juga sampai tidur di kantor. Mbaknya juga emosi menangis, jadi saya bisa mengerti tetapi saya jadi penerjemah enggak boleh terbawa emosi," kata Dewi. 

"Saat saya lesu, saya ke toilet cuci muka dan berdoa agar tidak terhanyut dan menjadi menangis. Saya katakan pada diri saya bahwa saya harus kuat, dan tidak boleh menerjemahkan dengan perasaan. Saya harus menenangkan diri, harus buat hati lebih jernih dan tenang, agar bisa menerjemahkan secara benar," ucapnya.

Tak hanya menguatkan mental, Dewi pun harus bekerja sama dengan sang korban agar ia bisa mengatakan hal yang sebenarnya dan tidak ada yang ditutup-tutupi karena malu. 

"Kamu harus jujur dan mengatakan apa yang kamu katakan, mungkin buat kamu sulit, tetapi kamu harus detail dan jujur," kata Dewi kepada sang korban.

Saat Dewi mendengar bahwa korban berhasil memenangkan kasusnya, ia pun lega dan bersyukur bahwa selama ini usahanya juga diberkati dan membuahkan hasil.

Kasus kedua, Dewi menceritakan ia pernah membantu menerjemahkan seorang pekerja migran hilang kontak di sebuah rumah duka di New Taipei, yang kehilangan bayinya yang berusia 1 tahun karena dianiaya tenaga kerja asing tak berdokumen lainnya yang dimintanya untuk menjaga sang anak saat ia bekerja. 

"Sebenarnya bukan saya yang menerjemahkan, tetapi saya dipanggil oleh petugas sosial New Taipei karena penerjemah korban belum datang. Sampai di sana saya bertemu orang tua korban yang menunggu proses dikremasi anaknya karena tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia. Saat itu rasanya beban mental buat saya karena melihat korban terus-terusan menangis bahkan hampir pingsan," ujar Dewi. 

"Selain menjadi penerjemah, saya harus siapkan mental untuk melihat anak bayi yang telah meninggal dengan tubuh yang dianiaya, kemudian membopong ibu si anak korban tersebut yang lunglai lemas melihat jenazah anaknya. Saya berusaha rangkul dia. Saya dengan sekuat tenaga membantu dia agar tetap kuat dan menerjemahkan apa yang ia ketahui," tutur Dewi.

"Di situ tugas saya tak hanya menjadi penerjemah tetapi juga seorang teman yang melihat kepedihan seoarang ibu bagaimana anaknya meninggal. Benar-benar tidak ada yang membantu. Saya seharusnya jadi penerjemah, malah jadi orang yang harus membantunya," tambah Dewi.

Setelah menunggu beberapa saat, Dewi baru melihat pihak kepolisian datang dan menginterogasinya, juga mesti siap untuk membantu menerjemahkan dan menguatkan mentalnya.

Pengalaman lainnya, kata Dewi, ia juga pernah menerjemahkan kasus PMI yang dianiaya temannya di pengadilan Kabupaten Changhua.

Dewi berfoto di Kantor Kepresidenan. (Sumber Foto : Dewi)
Dewi berfoto di Kantor Kepresidenan. (Sumber Foto : Dewi)

Prestasi dan penghargaan

Tak sia-sia telah berkencimpung menjadi sukarelawan selama 15 tahun, Dewi mengoleksi berbagai penghargaan, termasuk sertifikat hingga dari wali kota Taipei dan New Taipei.

Pada sekitar 2015, saat Ko Wen-je (柯文哲) menjabat sebagai wali kota Taipei, Dewi pernah mendapat penghargaan darinya karena membantu membuat anggaran bersama.

"Saya dulu pernah ikut membuat anggaran dengan menyertakan proposal imigran baru. Saat itu ada kegiatan rakyat ikut serta partisipasi membuat anggaran," kenang Dewi.

Dewi juga mendapat penghargaan dari wali kota Taipei saat ini, Chiang Wan-an (蔣萬安) pada 2025.

Dewi juga mengenang kegiatan tahun 2012 silam saat ia diundang presiden saat itu Ma Ying-jeou (馬英九) ke Kantor Kepresidenan. Ia pun membawa klepon untuk diperkenalkan pada Ma. 

"Klepon adalah makanan khas Indonesia yang sederhana, hijau melambangkan kehidupan, kulitnya lembut. Jadi orang harus supel tidak kaku. Terus kalau ada gula merah manis di dalamnya melambangkan kalau berteman harus menjadi teman yang lebih manis sifatnya. Itulah cerita makna tentang klepon yang saya ceritakan pada Presiden Ma," ujar Dewi yang mendapat inspirasi dari sang ibu sebelum berangkat ke Taiwan. 

Dewi bersama mantan Presiden Ma Ying-jeou (tengah) di Kantor Kepresidenan. (Sumber Foto : Dewi).
Dewi bersama mantan Presiden Ma Ying-jeou (tengah) di Kantor Kepresidenan. (Sumber Foto : Dewi).

Ada sejumlah kegiatan dan penghargaan lainnya yang diikuti dan didapatkan Dewi, seperti perkumpulan menari bersama ibu-ibu imigran baru hingga sebagai anggota grup musik Gema Angklung.

Ia pun juga pernah diberi penghargaan sebagai penulis dan perancang kurikulum buku evaluasi bahasa Indonesia sekolah dasar, dari jilid 1 hingga 12. 

"Salah satu pengajar bahasa Indonesia yang merancang buku adalah saya. Waktu itu dapat penghargaan dari Universitas Ming Chi University of Technology. Saya diberi penghargaan karena menerbitkan buku tersebut pada delapan tahun yang lalu," ujarnya.

Datang ke Taiwan saat gempa dahsyat

Dewi menuturkan ia tak pernah membayangkan dirinya harus tinggal di Taiwan setelah menikah. Ia dan suaminya bertemu di Jakarta, diperkenalkan saudaranya ketika sang suami menjadi pebisnis di sana. Setelah enam bulan berpacaran, ia yang sedang bekerja di sebuah toko di Ciputat Banten Tanggerang pun dilamar.

Dewi datang ke Taiwan pada 1999, sekitar sepekan sebelum gempa dasyat 21 September, tanpa kemampuan berbahasa Mandarin dan hanya bisa berbicara bahasa Hakka. Namun, tekadnya tak terbendung. Ia setiap hari belajar Mandarin lewat gereja dan mengikuti anaknya di sekolah.

Dewi bersama suami dan kedua putranya. (Sumber Foto : Dewi)
Dewi bersama suami dan kedua putranya. (Sumber Foto : Dewi)

"Saya belajar Mandarin sendiri dengan suami dan sempat kursus juga. Kemudian saya mengambil sekolah SMK jurusan masak terus kuliah di salah satu universitas di daerah Zhonghe, New Taipei. Jurusan marketing bisnis," ungkap Dewi. 

Di awal kedatangannya di Taiwan, Dewi sempat frustasi, terutama pada bulan pertama dikarenakan makanan yang berbeda, tidak bisa Mandarin, serta cuaca yang dingin.

"Saya tidak kerasan. Mau nangis. Saya tahan sendiri. Sehingga saya bengong di taman tiga kali muter-muter sampai depresi. Adaptasi lumayan susah karena waktu itu saya tidak bekerja dan semuanya harus mengandalkan suami. Pertama kali tinggal di Miaoli dan aktivitasnya lebih terbatas. Setelah sepuluh tahun saya baru tahu bahwa di Taiwan ada banyak imigran baru," ungkap Dewi.

Di kahir wawancara, Dewi berpesan bahwa imigran baru di Taiwan tidak sendirian, dan harus mengulurkan bantuan terlebih dahulu sebelum meminta bantuan. 

"Jangan sungkan jika butuh bantuan, ungkapkan pada rekan-rekan sekitar yang kamu kenal. Kita harus berani mengekspresikan diri dan jangan lupa, kita harus juga membantu orang lain. Kita harus kuat terlebih dahulu sebelum membantu orang lain," pesan Dewi.

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.