Taipei, 8 Apr. (CNA) Pejabat keamanan tertinggi Taiwan hari Rabu (8/4) memperingatkan bahwa Beijing menggunakan pertukaran lintas Selat Taiwan sebagai alat "front bersatu" untuk menabur perpecahan internal -- secara tidak langsung mempertanyakan kunjungan ke Tiongkok oleh ketua partai oposisi utama Taiwan.
Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional (NSB) Tsai Ming-yen (蔡明彥) menyampaikan peringatannya saat mempresentasikan laporan tentang status intelijen dan keamanan Taiwan di hadapan Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Nasional Yuan Legislatif.
Tsai menolak berkomentar secara langsung mengenai kunjungan Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun (鄭麗文) ke Tiongkok, yang ia gambarkan sebagai "tur perdamaian".
Baca juga: Ketua KMT berangkat ke Tiongkok dalam "tur perdamaian" di tengah kontroversi
Namun, ia mengkritisi pertukaran antara Beijing dan Taipei secara umum saat memberikan penilaian keamanan nasional yang lebih luas, dengan mengatakan bahwa Tiongkok menggunakan strategi "tekanan gabungan damai dan perang" terhadap Taiwan yang menggabungkan paksaan dan pertukaran.
Ini termasuk intimidasi militer dan pelecehan "zona abu-abu" untuk menciptakan suasana konflik yang seakan akan segera terjadi dan kecemasan publik di Taiwan, sambil juga mempromosikan pertukaran lintas selat yang dibingkai sebagai keterlibatan damai untuk menonjolkan apa yang disebut "dividen perdamaian", katanya.
Tsai mengatakan upaya-upaya tersebut bertujuan menciptakan dua bentuk perpecahan. Yang pertama adalah memperdalam perpecahan di masyarakat Taiwan dengan memperbesar suara pro-Tiongkok dan berpotensi menghalangi pembelian senjata dari Amerika Serikat (AS).
Mereka juga bertujuan untuk melemahkan pembenaran keterlibatan AS di Selat Taiwan dengan membingkai "reunifikasi damai" sebagai opini lokal yang dominan, kata Tsai.
Tujuan politik dan "front bersatu" ini tetap tertanam dalam berbagai pertukaran lintas Selat Taiwan, ujar Tsai.
Beralih ke perkembangan regional yang disorot dalam laporan, Tsai mengatakan penetapan zona reservasi wilayah udara yang luas baru-baru ini oleh Tiongkok di lepas pantai Jiangsu dan Zhejiang dari 28 Maret hingga 6 Mei tampaknya memiliki niat militer dan politik.
Secara militer, ucapnya, hal ini kemungkinan dimaksudkan untuk menguji operasi pesawat militer asing, khususnya milik AS.
Sebuah pesawat pengintai AS terlihat memasuki zona tersebut pada Senin, yang menunjukkan motif politik untuk mengukur pengaruh Washington di Indo-Pasifik menjelang kemungkinan pertemuan bilateral tingkat tinggi.
Menanggapi aktivitas "zona abu-abu" Tiongkok, Tsai mengatakan Taiwan telah membentuk mekanisme koordinasi antarlembaga yang mencakup peringatan dini, pelaporan waktu nyata, penegakan hukum maritim, serta perbaikan cepat dan investigasi kerusakan pada infrastruktur bawah laut seperti kabel komunikasi.
Ia menambahkan bahwa pengalaman Taiwan dalam kesadaran domain maritim telah menjadi landasan pertukaran intelijen dengan mitra internasional.
Selesai/IF