Taipei, 19 Apr (CNA) Transit kapal perang Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) melalui Selat Taiwan pada hari Jumat (17/4) mencerminkan penegasan kembali Tokyo atas haknya untuk melakukan pelayaran bebas melalui jalur perairan internasional, menurut seorang akademisi.
Perlintasan oleh kapal perusak JS Ikazuchi, dari pukul 4.02 pagi hingga 5.50 sore, dilaporkan oleh Komando Palagan Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok pada Jumat malam. Komando tersebut mengatakan telah mengerahkan kekuatan laut dan udara untuk membayangi kapal Jepang tersebut.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Jumat mengatakan telah "melayangkan protes keras" atas transit tersebut kepada Tokyo.
Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menolak berkomentar, hanya mengatakan bahwa mereka memantau dengan cermat perairan dan wilayah udara di sekitar menggunakan sistem intelijen, pengawasan, dan pengintaian gabungan.
Ini merupakan transit keempat kapal perang Jepang di Selat Taiwan, setelah perlintasan pada September 2024 bersama kapal Australia dan Selandia Baru serta transit solo pada Februari dan Juni 2025.
Jason Kuo (郭銘傑), seorang profesor madya ilmu politik di National Taiwan University, mengatakan bahwa perlintasan kapal tersebut menunjukkan Tokyo menjalankan haknya atas kebebasan navigasi di laut lepas, sebagaimana diatur dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut.
Ia juga menandakan pergeseran dari operasi kebebasan navigasi yang secara historis dipimpin Amerika Serikat menuju partisipasi internasional yang lebih luas dalam urusan Selat Taiwan, kata Kuo dalam sebuah unggahan di media sosial.
Dengan demikian, apa yang secara tradisional menjadi arena strategis yang didominasi oleh Tiongkok dan AS kini menjadi lebih multilateral, ujarnya, sebuah situasi yang akan menguji kemampuan para pemangku kepentingan untuk menjaga sinyal strategis di selat sambil menghindari eskalasi dan salah perhitungan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Sabtu sore, Komando Palagan Timur PLA mengatakan telah mengerahkan aset laut dan udara untuk melakukan "patroli kesiapan bersama" di Laut China Timur, tanpa merinci cakupan latihan tersebut.
Komando tersebut menggambarkan aktivitas itu sebagai latihan tahunan rutin yang bertujuan menguji kemampuan operasional bersama.
Selesai/ja