Kontrak jaga lansia, PMI ini malah dipekerjakan di restoran dan kebun

26/05/2026 18:25(Diperbaharui 26/05/2026 18:25)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Gambar hanya untuk ilustrasi semata. (Sumber Gambar : Dokumentasi GANAS).
Gambar hanya untuk ilustrasi semata. (Sumber Gambar : Dokumentasi GANAS).

Taipei, 26 Mei (CNA) Hanya berbekal uang receh yang tersisa, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan diusir majikannya setelah melaporkan dugaan pelanggaran ketenagakerjaan karena dipekerjakan tidak sesuai kontrak sebagai perawat lansia, melainkan membantu restoran dan bekerja di kebun milik majikan.

Yuni (nama samaran) menuturkan kepada CNA bahwa ia bekerja pada majikan tersebut sejak Juni 2025 hingga 9 Mei 2026. Selama lebih dari satu tahun, ia mengaku dipekerjakan tidak sesuai kontrak. Dalam kontraknya, Yuni bertugas merawat lansia, tetapi ia justru diminta membantu menyiapkan nasi kotak di restoran milik majikannya di Taoyuan.

Selain membantu di restoran, Yuni juga diminta mengerjakan pekerjaan kebun setiap pagi mulai pukul 07.00 hingga 10.00, seperti mencangkul, memetik sayur, menyiram tanaman, dan memangkas ranting.

“Setiap hari saya bekerja dari pukul 07.00 hingga 20.00, bahkan kadang lembur sampai pukul 22.00, tetapi gajinya tetap seperti perawat lansia biasa,” ujar Yuni.

Ia menjelaskan, pada pagi hari dirinya bekerja di kebun, kemudian membantu memasak dan menyiapkan nasi kotak hingga siang, lalu melanjutkan pekerjaan membersihkan restoran hingga malam hari.

Menurut Yuni, lansia yang seharusnya ia rawat masih dalam kondisi sehat dan lebih sering dijaga oleh cucunya. Karena itu, majikannya mempekerjakan Yuni untuk membantu usaha restoran dan pekerjaan kebun.

Yuni mengaku telah lama menyampaikan keluhan kepada agensinya, tetapi tidak memperoleh solusi. Pada awal Mei, seorang temannya akhirnya melaporkan kasus tersebut ke layanan pengaduan 1955.

Ketua Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas (GANAS), Fajar, menyayangkan Yuni saat itu melapor tanpa pendampingan organisasi ketenagakerjaan sehingga tidak memahami langkah-langkah yang perlu dipersiapkan.

Setelah menerima laporan, petugas Departemen Ketenagakerjaan mendatangi restoran milik majikan Yuni pada Kamis (7/5) dan menemukan Yuni sedang bekerja. Namun, karena takut dan kurang memahami situasi, Yuni tidak memberikan penjelasan kepada petugas sehingga ia tidak langsung dipindahkan dari lokasi tersebut.

Menurut Yuni, setelah majikannya mengetahui bahwa dirinya yang melapor, ia langsung diusir pada 9 Mei tanpa menerima gaji. Ketika menghubungi agensi, Yuni mengaku tidak mendapat bantuan. Dengan uang receh yang tersisa, ia naik bus selama sekitar empat jam menuju Stasiun Taoyuan.

“Setelah sampai di stasiun, saya tidak tahu harus ke mana,” tutur Yuni, yang pertama kali datang ke Taiwan pada 2023.

Ia kemudian menghubungi GANAS dan diarahkan menuju tempat penampungan (shelter) Serve the People Association (SPA).

Fajar mengatakan bahwa pada 14 Mei lalu telah dilakukan mediasi antara Yuni, majikan, dan Departemen Ketenagakerjaan. Dalam mediasi tersebut, gaji Yuni akhirnya dibayarkan. Menurut Fajar, majikan dan agensi terkait kini telah menerima sanksi. Hingga berita ini ditulis, Yuni masih berada dalam pengawasan shelter SPA.

Yuni mengatakan dirinya sebenarnya ingin tetap bekerja di Taiwan dan mencari majikan maupun agensi baru. Namun, hingga kini ia masih menunggu penerbitan izin kerja baru.

Fajar berpesan agar PMI yang mengalami pekerjaan tidak sesuai kontrak rajin mengumpulkan bukti, seperti video yang memperlihatkan lokasi dan tanggal secara jelas. Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan mental dan pendampingan organisasi ketenagakerjaan saat melapor ke layanan 1955 agar pekerja memahami langkah yang harus dilakukan apabila mendapat intimidasi dari majikan.

Menurut Fajar, sejumlah kasus yang pernah ditangani GANAS menunjukkan banyak PMI yang melapor tanpa pendampingan akhirnya mengalami intimidasi dan memilih menghentikan proses pengaduan karena takut. Beberapa di antaranya bahkan mengalami kesulitan memperpanjang izin kerja, dipersulit pindah agensi, hingga diancam dipulangkan ke Indonesia.

(Oleh Miralux)
Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.