PMI di Hsinchu diduga alami pelecehan oleh pasien, dijanjikan bonus tambahan

25/05/2026 18:38(Diperbaharui 25/05/2026 18:46)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Foto hanya untuk tujuan ilustrasi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA) 
Foto hanya untuk tujuan ilustrasi. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA) 

Taipei, 25 Mei (CNA) Bunga (nama samaran), pekerja migran Indonesia (PMI), mengaku mengalami pelecehan seksual oleh pasien lanjut usia berusia lebih dari 70 tahun yang dirawatnya, termasuk permintaan hubungan seksual dan upaya menyentuh bagian tubuhnya secara tidak pantas, saat ditemui CNA di sebuah tempat penampungan.

Peristiwa tersebut bermula pada tahun lalu ketika Bunga, yang baru tiba untuk bekerja di Taiwan, mengalami pelecehan seksual dari pasien yang dirawatnya, yakni seorang pasien yang meskipun menderita penyakit dan memerlukan perawatan, masih mampu berjalan serta memiliki dorongan seksual yang tinggi, ujar Bunga.

Setiap kali Bunga membersihkan lengan dan kaki pasien tersebut, laki-laki lanjut usia itu kerap berupaya menyentuh payudara Bunga; beberapa kali ia tidak sempat menghindar sehingga payudaranya tersentuh, hingga ia marah dan mengancam akan melaporkannya kepada majikan.

Tidak hanya itu, saat Bunga membelakangi pasien untuk mengambil sesuatu, pasien tersebut juga menyentuh bagian pantatnya. Bunga kemudian menegur dan mengancam akan berhenti bekerja apabila tindakan tidak senonoh itu terus dilakukan.

Bunga akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada majikannya dan menyatakan akan berhenti bekerja serta meminta pindah majikan jika perlakuan serupa terulang. Majikannya sempat menegur ayahnya yang melakukan tindakan tersebut.

Namun, menurut Bunga, pasien tersebut justru semakin menjadi-jadi dan menawarkan sejumlah uang sebagai bonus apabila ia bersedia melakukan hubungan seksual atau membiarkan dirinya disentuh, dengan syarat tidak melaporkan kepada anaknya.

Pasien tersebut juga sempat mengatakan kepada Bunga apakah ia tidak merasa kesepian, bahkan menyampaikan, “Lebih enak kan kalau tiap malam ada yang mengelus sebelum tidur, biar enak,” seperti ditirukan Bunga.

Bunga yang mengalami tekanan psikologis kemudian menceritakan hal tersebut kepada rekan sesama pekerja migran Indonesia, namun ia justru mendapat saran untuk diam dan menerima perlakuan tersebut dengan imbalan bonus.

Merasa tidak sesuai dengan hati nurani, Bunga yang telah menikah dan memiliki suami yang juga bekerja di Taiwan menolak saran tersebut dan melaporkan kasusnya kepada agensi.

Selama tiga bulan tinggal bersama pasien di sebuah rumah di Hsinchu, Bunga mengaku telah berulang kali melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada agensi, namun hanya diminta bersabar karena gaji masih dalam proses potongan bank.

Tidak mendapatkan penyelesaian, Bunga mengancam akan melaporkan kasus tersebut kepada kepolisian jika tidak segera ditangani, hingga akhirnya agensi menindaklanjuti dan memindahkannya ke majikan lain.

“Harga diri saya lebih dari sekedar bonus. Saya tidak peduli dengan tawaran pasien yang mengiming-imingi tambahan bonus. Saya merasa ini tidak sesuai dengan hati nurani. Saya tahu di luar sana banyak teman-teman PMI yang dilecehkan tetapi ada yang menerima perlakuan tersebut karena alasan uang. Saya bukan seperti itu, jadi saya putuskan untuk berhenti dan pindah majikan,” ujar Bunga kepada CNA.

Saat ditanya oleh CNA, apakah Bunga akan melaporkan pelecehannya kepada pihak berwajib, Bunga mengatakan ia tidak sempat merekam untuk bukti. 

“Yang terpenting sekarang saya bebas dari pasien tersebut. Saya dengar dari agensi, sampai sekarang pasien tersebut tidak ada perawat yang menjaganya. Tuh, pasien amit-amit permintaannya macam-macam. Dia tidak mau dijaga perawat yang kurang menarik, dan kurang seksi,” ujar Bunga.

Berkaitan dengan beberapa kasus pelecehan yang pernah ditangani oleh Lina, koordinator Serve the People Association (SPA), Lina menyarankan bahwa jika seorang PMI mengalami kasus pelecehan seksual, harus segera melapor. Lina pun menambahkan bahwa pihaknya sering mendapat aduan kasus pelecehan seksual dari PMI. Ia berpesan bagi yang mendapat pelecehan, harus berani untuk melapor dan silakan untuk menghubungi dirinya di nomor WhatsApp +886960-669-170. 

(Oleh Miralux)

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.