Taipei, 14 Agu. (CNA) Pemeran, sutradara, dan produser film Taiwan "The Rope Curse 4: Kuntilanak" (粽邪4:坤蒂拉娜) yang berlatarkan Indonesia dan menggandeng bintang-bintang tanah air, pada Jumat (14/8) menceritakan kisah menarik mereka selama syuting, mulai dari belajar bahasa, adaptasi dengan makanan, hingga mengalami hal mistis.
Seperti ungkapan Wilson Hsu (許安植), aktris Taiwan yang memamerkan bahasa Indonesianya saat menjawab pertanyaan CNA tentang apa yang ia dapat selama syuting di Indonesia dalam sesi wawancara usai pemutaran khusus media di Taipei. "Semangat ya!" kata Hsu.
Hsu yang memerankan karakter Jiamin, seorang gadis Taiwan yang memiliki kemampuan supernatural, mengatakan, di tengah proses syuting yang melelahkan, ia meminta para rekan di Indonesia untuk mengajarinya beberapa kata, dan "semangat" menjadi salah satunya.
Hsu juga mengatakan ia merasa orang Indonesia optimistis dan suka tertawa. "Jadi, ketika bekerja bersama mereka, secara alami saya merasa jauh lebih santai."
Hal lainnya yang disukai Hsu dari rekan-rekan Indonesia adalah bahwa menurutnya, mereka tidak terlalu memikirkan apa yang mungkin salah. "Kalau keputusan yang kita ambil hari ini ternyata tidak tepat, ya kita tinggal mengganti dengan keputusan yang lain. Mereka tidak terus-menerus terpaku pada hal tersebut."
Hal ini pun, kata Hsu, jadi memengaruhi dirinya untuk juga merasakan hal yang sama. "Menurut saya, mereka sangat bebas dan rileks, dan itu sedikit banyak juga memengaruhi diri saya. Menurut saya, itu sangat bagus."
Sementara itu, aktris Vera Chen (陳雪甄) mengatakan dirinya dan rekan-rekannya sempat mengalami diare karena makanan yang sangat pedas. "'Tidak pedas' bagi mereka (orang Indonesia) adalah tingkat 'sangat pedas' bagi kita."
Chen, pemeran karakter Yulan, bibi Jiamin yang terkena kutukan, mengatakan para pemeran dari Taiwan juga mengalami hal-hal mistis selama tinggal di hotel di Indonesia.
"Kami bergantian [mengalami hal mistis], dan bahkan masing-masing tidak hanya sekali," kata Chen. Ia pun menceritakan sejumlah mimpi horor yang dialaminya, dan menjelaskan bagaimana "ahli agama" yang mendampingi mereka membantunya.
Di sepanjang minggu pertama, para pemeran Taiwan terus mengalami kesulitan karena gangguan-gangguan itu, padahal mereka harus melakukan adegan laga pada siang harinya. "Sementara di malam hari tidak bisa tidur," kata Chen.
Sementara itu, Lee Kang-sheng (李康生) yang memerankan pria dengan kemampuan supranatural Huo-ge, mengatakan dirinya lebih banyak memikirkan destinasi yang ia kunjungi selama di Indonesia. Mengingat ia hanya memiliki waktu tiga hari, sesuai dengan singkatnya porsi dia di film.
Di sisi lain, sutradara Liao Shih-han (廖士涵) memuji akting para pemeran dari Indonesia. "Ada satu hal yang mengejutkan saya. Saya berpikir, 'Wah, mereka berakting seolah-olah bukan sedang berakting.' Mereka sangat natural dan rileks."
Liao juga mengatakan ia merasa tidak perlu menjelaskan terlalu banyak kepada para pemeran Indonesia. Meski dengan rintangan perbedaan bahasa, "Mereka tetap bisa memahami apa yang ingin saya sampaikan. Setelah diperagakan, tetap menjadi adegan yang saya bayangkan."
"Sangat senang bisa bekerja sama dengan pemeran-pemeran Indonesia yang sangat berbakat. Bahkan pemeran-pemeran latarnya juga sangat hebat," kata Liao.
Produser Jeff Tsou (鄒介中) mengatakan pihak produksi merasa latar belakang Jiamin dan Yulan -- yang telah ada di seri "The Rope Curse" sebelumnya -- cocok dihubungkan dengan kisah kuntilanak.
Tsou pun mengatakan pihaknya berharap bisa menggunakan sudut pandang yang lebih berat untuk mengangkat sosok kuntilanak, sehingga penonton di Taiwan juga bisa lebih memahami sosoknya.
Ia juga mengingatkan bahwa sebelum dirilis resmi pada 27 Agustus, komunitas Indonesia di Taiwan mendapatkan kuota menonton gratis di sesi khusus yang menyediakan terjemahan bahasa Indonesia pada 23 Agustus.
Sesi ini akan berlangsung di SBC International Cinemas Zhongli dan Showtimes Cinema Stasiun Kereta Taichung dengan kuota yang terbatas dan bisa didapatkan melalui pendaftaran daring.
Dalam wawancara daring terpisah bersama CNA, pemengaruh asal Indonesia, Andovi da Lopez mengatakan perannya di film ini menjadi kali pertamanya memainkan film horor, film internasional, dan adegan laga. "Jadi banyak yang pertama-pertama gua lah."
Baca juga: Andovi jajal banyak pengalaman baru dengan berperan di film horor Taiwan
Andovi, yang memainkan peran kreator konten horor bernama Mardi, mengatakan adegan laganya "lumayan gila," di mana ia belajar dengan para pemeran pengganti baik dari Indonesia maupun Taiwan dan melakukan pengambilan gambar dari malam hingga pagi seiring dengan kebutuhan latar.
Sementara itu, aktor Indonesia, Ferry Salim kepada CNA mengatakan dirinya mempelajari bahasa Mandarin hingga ritual keagamaan untuk memainkan peran Master Lin, seorang ahli spiritual Indonesia yang pernah tinggal di Taiwan.
Baca juga: Ferry Salim belajar Mandarin hingga ritual keagamaan untuk film horor Taiwan
Ferry juga mengungkapkan ini kali pertama baginya dijemput pukul 3 pagi untuk syuting, seiring proses riasannya membutuhkan waktu empat jam, termasuk untuk pembuatan tato, penghitaman kulit, pembubuhan luka, hingga ekstensi rambut.
Film "The Rope Curse 4: Kuntilanak" diawali kematian tragis Mira, seorang pekerja migran Indonesia, di sebuah kedai makan di Taiwan, setelah menonton siaran langsung Mardi yang berisi ritual dukun yang membangkitkan sosok kuntilanak. Pemilik toko juga ditemukan tewas gantung diri.
Yulan, yang tidak sengaja memasuki lokasi kejadian, kemudian mengalami berbagai keanehan. Dengan bantuan guru Jiamin, Master A-Xi yang diperankan Chen Po-cheng (陳博正), ia diketahui terkena kutukan yang membuat sebagian jiwanya terbawa ke Indonesia.
Untuk mematahkan kutukan ini, Yulan, Jiamin, teman seperguruan Jiamin bernama A-Guai yang diperankan Hangee Liu (劉國劭), dan anak Mira bernama Zhen Hong yang diperankan Travis Fox (胡語恆), pergi ke Indonesia dengan membawa patung Zhong Kui, dewa pembasmi setan dan roh jahat.
Di sana, mereka didampingi Mardi yang juga adalah paman Zhen Hong serta Master Lin, rekan kenalan Master A-Xi.
Sementara akan dirilis di bioskop di seluruh Taiwan bertepatan dengan Bulan Hantu dalam kepercayaan Tionghoa, pemutaran film ini di Indonesia masih dibicarakan, kata pihak produksi hari Jumat.
Selesai/IF