Jembatan dua budaya: Kisah relawan migran baru di Taiwan

26/07/2026 16:13(Diperbaharui 26/07/2026 16:13)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Indrawati Tanoto, migran baru asal Indonesia yang menjadi relawan di Museum Nasional Taiwan. (Sumber foto: CNA)
Indrawati Tanoto, migran baru asal Indonesia yang menjadi relawan di Museum Nasional Taiwan. (Sumber foto: CNA)

Oleh Muhammad Irfan, reporter staf CNA

Di balik kesibukan bekerja, mengurus keluarga, atau menjalani profesi sehari-hari, banyak migran baru di Taiwan memilih meluangkan waktu mereka untuk menjadi relawan. Mereka tidak menerima upah, tetapi memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga: kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat sekaligus membangun jembatan antara budaya Indonesia dan Taiwan.

Bagi sebagian orang, aktivitas sukarela mungkin hanya dipandang sebagai cara mengisi waktu luang. Namun bagi para migran baru, kerelawanan menjadi ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan identitas baru sebagai bagian dari masyarakat Taiwan. Lewat perpustakaan, museum, hingga organisasi sosial, mereka membuktikan bahwa migrasi bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan juga tentang bagaimana seseorang dapat memberi arti bagi lingkungan barunya.

Agus Lee (李志雄) misalnya, datang ke Taiwan 26 tahun lalu sebagai pekerja migran Indonesia. 

“Seperti banyak orang lainnya, tujuan awal saya bekerja demi masa depan yang lebih baik,” kata Agus.

Namun hidup membawanya ke arah yang tak pernah ia bayangkan. Setelah menikah dengan warga Taiwan, ia menetap dan menjadi bagian dari masyarakat setempat.

Kesempatan menjadi relawan datang pada masa pandemi COVID-19. Saat itu jam kerjanya di pabrik berkurang drastis. Dari bekerja lima hari seminggu, ia hanya bekerja empat hari sehingga memiliki waktu luang lebih banyak. Seorang guru yang dikenalnya kemudian mengajaknya bergabung sebagai relawan di Taiwan Toy Library Association.

“Tugas pertamanya adalah membantu memilah dan mengirimkan mainan bekas yang masih layak pakai ke Afrika,” kata Agus. Dari aktivitas sederhana itu, Agus menemukan makna baru tentang berbagi.

Menurutnya, menjadi relawan juga memberinya kesempatan untuk terus belajar. Pengalaman datang ke Taiwan dari nol, tidak menguasai bahasa maupun budaya setempat, menjadi bekal yang kini bisa ia bagikan kepada pekerja migran maupun pelajar Indonesia yang baru datang.

Agus Lee, migran baru asal Indonesia yang menjadi relawan di Taiwan Toy Library Association. (Sumber foto: CNA)
Agus Lee, migran baru asal Indonesia yang menjadi relawan di Taiwan Toy Library Association. (Sumber foto: CNA)

Ia percaya bahwa bekerja di luar negeri tidak seharusnya hanya berorientasi mencari penghasilan. Taiwan, katanya, menawarkan banyak pelajaran tentang budaya kerja, kewirausahaan, hingga semangat masyarakatnya. Semua pengalaman itu dapat dibawa pulang sebagai modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik di Indonesia.

Semangat serupa dimiliki Pratya Harani (海蘭妮). Perempuan asal Jawa Tengah ini telah tinggal di Taiwan selama lebih dari 25 tahun. Awalnya ia datang sebagai pekerja migran, kemudian menikah dan menetap di Taiwan.

Perjalanannya menjadi relawan bermula ketika mengikuti sekolah malam bagi penduduk baru. Di sana ia bertemu seorang guru asal Myanmar yang melihat potensinya dan mengajaknya bergabung sebagai pendongeng di New Taipei City Library.

“Saya memulai dengan membaca cerita untuk anak-anak,” kata dia.

Namun Harani bukan sekadar membacakan buku. Aktivitas itu menjadi sarana untuk terus memperdalam kemampuan bahasa Mandarin sekaligus berinteraksi dengan masyarakat Taiwan.

Sudah sekitar delapan tahun ia menjalani peran tersebut, bahkan sejak perpustakaan itu pertama kali membuka program storytelling bagi penduduk baru. 

Tentu saja perjalanan itu tidak selalu mudah. Pada awalnya, kemampuan bahasa Mandarinnya masih jauh dari sempurna. Sebagai perempuan Jawa yang sama sekali tidak memiliki latar belakang keluarga Tionghoa, ia sering kali salah mengucapkan intonasi atau pelafalan kata.

“Anak-anak yang malah sering mengoreksi ucapan saya dengan polos. Tapi saya enggak merasa malu, Justru ini sebagai proses belajar bagi saya sendiri,” kata dia.

Pratya Harani, migran baru asal Indonesia yang menjadi pembaca cerita di New Taipei City Library. (Sumber foto: CNA)
Pratya Harani, migran baru asal Indonesia yang menjadi pembaca cerita di New Taipei City Library. (Sumber foto: CNA)

Sebelum tampil di perpustakaan, ia bahkan berlatih membaca cerita bersama anak-anaknya di rumah. Mereka sering tertawa mendengar pelafalannya yang keliru, tetapi justru dari situlah kepercayaan dirinya tumbuh. “Bagi saya, menjadi relawan berarti berani belajar di depan banyak orang” ucap Harani.

Sementara itu, Indrawati Tanoto (施鷺音) memiliki cerita yang berbeda. Lulusan Sastra Cina Universitas Indonesia ini pertama kali mengenal Taiwan ketika bekerja sebagai interpreter dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Taipei, Beijing, Shanghai, hingga Hong Kong.

Rutinitas terbang itulah yang kemudian mempertemukannya dengan Taiwan, hingga akhirnya ia memutuskan menetap sejak 1997. Kini, di luar pekerjaan utamanya, Indra aktif menjadi relawan pemandu berbahasa Indonesia di National Taiwan Museum. Ia juga terlibat dalam kelompok angklung bersama komunitas Indonesia untuk memperkenalkan budaya Nusantara kepada masyarakat Taiwan.

Menariknya, Indra mengaku dulu tidak pernah menyukai pelajaran sejarah ketika masih bersekolah. Baginya, sejarah identik dengan hafalan nama tokoh, tanggal, dan peristiwa. Semua berubah ketika mengikuti pelatihan menjadi pemandu museum.

“Di museum, sejarah tidak diajarkan sebagai kumpulan fakta, melainkan sebagai rangkaian cerita yang hidup. Pendekatan itu bikin saya menikmati setiap proses belajar, meski pada awalnya saya sempat merasa kewalahan karena begitu banyak informasi yang harus dipelajari dalam waktu singkat,” kata Indra.

Latihan yang dilakukan berulang kali, ditambah praktik langsung mendampingi pengunjung museum, perlahan menghilangkan rasa takutnya. Kini ia justru merasa setiap koleksi museum menyimpan kisah menarik yang layak dibagikan kepada orang lain.

Etnis Tionghoa

Pengalaman hidup sebagai keturunan Tionghoa Indonesia juga memberi perspektif tersendiri bagi Indra.

Saat masih tinggal di Indonesia, ia tumbuh pada masa ketika penggunaan bahasa Mandarin dan identitas Tionghoa mengalami berbagai pembatasan. Ketika akhirnya menetap di Taiwan, ia sempat mengira latar belakang budaya dan kemampuan bahasa Mandarinnya akan membuat proses adaptasi berjalan mudah.

“Ternyata kenyataannya berbeda,” kata Indra.

Bahasa sehari-hari masyarakat Taiwan banyak menggunakan bahasa Taiwan (Taiyu), sementara dialek Hokkien yang didengarnya sejak kecil di rumah memiliki banyak perbedaan. Ia pun kembali harus belajar dari awal.

Di sisi lain, identitasnya juga berubah tergantung di mana ia berada. Di Indonesia ia kerap dipanggil “orang Cina”, tetapi di Taiwan ia justru dikenal sebagai “orang Indonesia”. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa identitas seseorang tidak selalu sesederhana asal-usul etnis atau kewarganegaraan.

Bagi Indra, Indonesia tetap menjadi kampung halaman, sementara Taiwan telah menjadi rumah keduanya.

Cerita lain datang dari Mary Ann Villanueva Co (黃瓊寬), perempuan keturunan Tionghoa Filipina yang telah tinggal di Taiwan selama sekitar dua dekade.

Marry Ann Villanueva Co, migran baru asal Filipina yang menjadi pembaca cerita di New Taipei City Library. (Sumber foto: CNA)
Marry Ann Villanueva Co, migran baru asal Filipina yang menjadi pembaca cerita di New Taipei City Library. (Sumber foto: CNA)

Ia awalnya datang untuk mengajar bahasa Inggris. Namun setelah memutuskan menetap, ia aktif dalam berbagai kegiatan sukarela, mulai dari mendongeng di perpustakaan, mengajar bahasa Inggris secara gratis di sekolah Buddha, hingga membantu anak-anak menyeberang jalan selepas sekolah.

Motivasinya sederhana. Menurut Mary Ann, dirinya dapat berada pada posisi sekarang karena banyak orang yang pernah menolongnya. Karena itu, membantu orang lain merupakan cara untuk membalas kebaikan yang pernah ia terima.

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika membacakan legenda buah nanas kepada anak-anak.

Cerita tersebut mengajarkan pentingnya membantu orang tua dan keluarga. Seusai sesi bercerita, seorang anak mengatakan bahwa ia ingin mulai membantu keluarganya dan tidak ingin menjadi anak yang malas.

Ucapan spontan itu membuat banyak orang di ruangan tersebut terharu.

Bagi Mary Ann, momen seperti itulah yang menjadi alasan mengapa ia terus menjadi relawan. Ia melihat bagaimana sebuah cerita sederhana mampu mengubah cara berpikir seorang anak.

Mengubah diri lewat kerelawanan

Dulu Marry Ann merasa tidak percaya diri berbicara di depan banyak orang karena sadar bukan penutur asli bahasa Mandarin. Namun melalui berbagai kegiatan sukarela, kepercayaan dirinya tumbuh sedikit demi sedikit.

Kini ia merasa mampu berbicara, mengajar, dan berbagi pengalaman dengan lebih baik.

Keempat kisah tersebut memiliki benang merah yang sama. Menjadi migran baru memang tidak mudah. Ada rasa takut, cemas, kendala bahasa, hingga proses beradaptasi yang panjang.

Namun mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang.

Agus mengajak para penduduk baru terus belajar karena pemerintah Taiwan membuka banyak kesempatan pendidikan maupun pelatihan bagi imigran.

Indra menekankan bahwa bahasa memang penting, tetapi kemampuan profesional yang dimiliki seseorang jauh lebih menentukan masa depan. Apa pun bidang yang dipelajari, semuanya akan menjadi bekal berharga ketika dipadukan dengan kemampuan berkomunikasi.

Mary Ann mengingatkan pentingnya membangun komunitas agar para migran baru dapat saling membantu menghadapi persoalan sehari-hari.

Sementara Harani berpesan agar para pendatang baru tidak takut mencoba. 

“Rasa cemas akan selalu ada, tetapi keberanian untuk melangkah harus lahir dari diri sendiri,” kata Harani.

Selesai/ML

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.