FEATURE /Bahasa musik yang menyatukan

26/07/2026 11:22(Diperbaharui 26/07/2026 12:22)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Komponis Indonesia, Gardika Gigih tampil bersama penyanyi suku adat Paiwan dari Taiwan, Seredaw di New Taipei City Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)
Komponis Indonesia, Gardika Gigih tampil bersama penyanyi suku adat Paiwan dari Taiwan, Seredaw di New Taipei City Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)

Oleh Muhammad Irfan, Reporter Staf CNA

"Kami terkoneksi melalui vibrasi," Dinar Rizkianti, komponis asal Jawa Barat, Indonesia menggambarkan kesannya berkolaborasi dengan Balai, musisi suku adat Paiwan yang berasal dari Pingtung, dalam Voice of the Ocean, sebuah program residensi dari Pemerintah Kabupaten Taitung yang digelar tahun lalu.

Dinar tidak sendiri, dari Indonesia ada juga Bunga Dessri Nur Ghaliyah, peneliti dan juga musisi tradisi asal Jawa Barat serta Gardika Gigih, yang dikenal sebagai komponis dengan banyak lintasan karya mulai dari komposisi untuk konser, film, hingga improvisasi.

Setelah residensi tahun lalu, tahun ini ketiganya kembali ke Taiwan untuk tampil di New Taipei City Austronesian Cultural Festival yang digelar di Shihsanhang Museum of Archeology di Bali, New Taipei, Sabtu (25/7).

Dikutip dari laman Departemen Urusan Kebudayaan Kabupaten Taitung, Voices of the Ocean adalah program residensi seniman musik Austronesia internasional yang berbasis di Taitung, Taiwan. Program ini mengundang musisi dari seluruh kawasan Pasifik untuk berkolaborasi dengan seniman masyarakat adat setempat, berbagi ritme budaya, menyelenggarakan lokakarya publik, dan tampil bersama untuk menghubungkan komunitas pulau melalui suara.

Komponis musik tradisi Dinar Rizkianti memainkan instrumen musik Sunda, kacapi dalam kolaborasinya dengan musisi suku adat Paiwan, Balai di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)
Komponis musik tradisi Dinar Rizkianti memainkan instrumen musik Sunda, kacapi dalam kolaborasinya dengan musisi suku adat Paiwan, Balai di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)

Jika Dinar dan Bunga berkolaborasi dengan Balai, maka Gigih berkolaborasi dengan musisi senior dari suku Paiwan, Seredaw Tarliayalgan. Ketiganya menggubah sejumlah lagu. Balai, Bunga, dan Dinar misalnya, menciptakan "Mother Ocean" dan "Party Agogo", sementara Gigih dan Seredaw serta musisi tradisi asal Filipina, Govinda Sanglay berkolaborasi pada "Pa pu ent ni I na" (Mother’s Call) dan "Ki se nai ni tja ga laus" (Blessing of the Ancestors). 

Pada Rabu, lagu "Ki se nai ni tja ga laus" resmi dirilis di sejumlah layanan pemutar musik digital.

"Karya ini terinspirasi dari nyanyian doa yang biasa dinyanyikan oleh suku Paiwan," kata Gigih bercerita tentang karya yang ia garap. Lagu ini berasal dari nyanyian komunitas Paiwan yang dinyanyikan Seredaw dan kemudian direspons Gigih lewat piano dan Govinda dengan alat musik saronai.

"Pertama mendengar nyanyian itu saya sampai menangis saking kuatnya energi dari lagu Seredaw itu," kata Gigih, seraya menambahkan dari situ mereka sepakat untuk membuat sebuah lagu utuh dari nyanyian tersebut. Semuanya digarap saat residensi yakni sejak Agustus sampai September 2025.

Gigih tak memungkiri pengalamannya melakukan residensi musik dengan masyarakat adat di Taiwan membuka wawasannya tentang betapa dekatnya relasi kultural antara dirinya sebagai orang Indonesia dengan mereka. Saat mengikuti upacara di salah satu desa adat Paiwan di Taitung misalnya, ritual melingkar sambil bernyanyi dan berputar mengingatkannya pada prosesi serupa di Ngada, Flores.

"Meskipun kita sudah punya beragam ekspresi budaya, tapi tetap ada energi yang nyambung. Dari kosakata, makanan, dari situ baru proses co-creation-nya mulai," kata Gigih yang juga punya latar belakang antropologi ini.

Musisi tradisi Bunga Dessri bernyanyi dengan instrumen rebabnya di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 26 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)
Musisi tradisi Bunga Dessri bernyanyi dengan instrumen rebabnya di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 26 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)

Pengalaman Dinar lain lagi. Saat kunjungan keduanya ke Taiwan kali ini, Dinar sempat menyanyikan lagu Sunda "Bangbung Hideung". Sesaat setelah ia tampil, seorang tetua adat suku Pinuyumayan menghampirinya dan menyebut ada kemiripan di nada tinggi "Bangbung Hideung" dengan nyanyian lagu adat mereka.

"Dan ketika mereka menyanyikan versi mereka, iya memang ada kemiripan," kata Dinar.

Bunga yang satu kelompok dengan Dinar menambahkan: "Dia bilang ini mengingatkan dirinya pada masa kecilnya, di mana ia dan masyarakat Pinuyumayan juga suka membawakan lagu seperti ini," kata dia.

Bunga menyebut dirinya sangat terkesan dengan bagaimana masyarakat adat di Taiwan hidup bersama seni. Dalam pandangannya, tanpa harus menjadikan seni sebagai sesuatu yang tinggi, nyanyian dan tarian sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. 

"Di setiap kesempatan mereka bernyanyi, ini juga membuat kami merasa diterima di sini," kata dia.

Lagi pula kita saudara

Kolaborasi antara Balai dengan Dinar dan Bunga disebut tidak terlalu rumit. Kepada CNA, Balai, seorang musisi Paiwan dari Pingtung yang memenangkan penghargaan Penyanyi Adat Terbaik di Golden Melody Awards ke-27 menyebut, kolaborasi itu muncul dari percakapan antara mereka sesaat setelah dipertemukan dalam program residensi.

Dari situ, ketiganya menyaksikan penampilan masing-masing dan langsung merasa terhubung. Dari proses yang sangat natural ini mereka menciptakan dua karya. Namun lebih dari itu, hubungan Dinar, Bunga, dengan Balai dan kawan-kawan masyarakat adatnya jadi semakin akrab di luar proyek musikal saja.

"Mereka sudah seperti saudara kandung saya," kata dia seraya tertawa.

Balai menyebut meski semua musisi yang berpartisipasi di program ini berasal dari pulau-pulau yang berbeda tetapi estetika yang mereka tuju cukup serupa. 

Sehingga ketika ia membuat karyanya, rasa senang, sedih, yang mereka ekspresikan mungkin memuat perasaan yang berbeda, tetapi tujuannya adalah sama. Pada penampilan Sabtu, Bunga dan Dinar memainkan komposisi yang mereka buat dengan instrumen tradisional dari Sunda yakni rebab dan kacapi. 

"Walaupun kita berasal dari pulau yang berbeda-beda, tetapi sesungguhnya kita bersama. Lagi pula kita saudara," kata Balai.

Musisi Taiwan dari suku adat Paiwan, Balai di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)
Musisi Taiwan dari suku adat Paiwan, Balai di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)

Mengutip dari Departemen Urusan Budaya Kabupaten Taitung, tujuan utama dari program ini adalah menyatukan masyarakat kepulauan melalui musik dan menegaskan laut sebagai penghubung sejarah serta memori kultural. Selain itu, program ini berfokus pada pelestarian tradisi lisan dan advokasi isu lingkungan, khususnya dampak perubahan iklim dan resiliensi masyarakat adat. 

Menanggapi ini, Gigih menyebut gagasan yang ditawarkan oleh program ini menarik untuk membuka lagi pandangan kritis soal perbatasan. Menurut dia, meski saat ini individu modern dibatasi oleh konsep negara-bangsa ternyata banyak bahasa budaya yang melampaui perbatasan itu. Seperti di antaranya lewat praktik musikal yang ia kerjakan di program ini.

"Ketika kita bermusik di sini dan mencoba untuk saling cerita lewat tradisi yang sama, terus jadi membayangkan, 'Oh mungkin orang dulu itu secair itu,'" kata dia.

Penyanyi suku adat Paiwan, Seredaw menyanyi diiringi musisi Filipina Govinda Sanglay di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)
Penyanyi suku adat Paiwan, Seredaw menyanyi diiringi musisi Filipina Govinda Sanglay di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)

Senada, Govinda dari Filipina menyebut program ini sangat menarik karena setahu dia tidak banyak program serupa yang berhasil mengumpulkan banyak suku Austronesia di kawasan dalam satu acara. Apalagi lewat bahasa musik seperti ini.

"Jadi saya sangat mengapresiasi program ini," kata Govinda yang fokus pada alat musik asal Filipina, Kulintang.

Kerja sama dengan Pemkot New Taipei

Meski program ini didanai Pemerintah Kabupaten Taitung, untuk penampilan kali ini, Voice of Ocean bekerja sama dengan acara tahunan New Taipei City Austronesian Cultural Festival yang digelar sejak 2020. 

Menurut laman Pemerintah Kota New Taipei, acara ini dipusatkan di area terbuka dan taman arkeologi di Distrik Bali. Penyelenggaraan festival ini awalnya digagas bertepatan dengan momentum Hari Penduduk Asli Taiwan untuk menghadirkan perpaduan kaya antara tradisi kuno dan inovasi modern lewat empat pilar utama, yaitu pertunjukan musik dan tari, lokakarya keterampilan tradisional, pasar kreatif, serta festival kuliner khas.

Dari laman itu juga dinyatakan, tujuan utama dari festival ini adalah sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus platform pertukaran internasional guna memperkuat hubungan antarkomunitas rumpun bangsa Austronesia di seluruh dunia. 

Wali Kota New Taipei, Hou Yu-ih (berkacamata) berfoto bersama sejumlah perwakilan negara sahabat dan masyarakat adat di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)
Wali Kota New Taipei, Hou Yu-ih (berkacamata) berfoto bersama sejumlah perwakilan negara sahabat dan masyarakat adat di New Taipei Austronesian Cultural Festival di Distrik Bali, New Taipei, 25 Juli 2026. (Sumber foto: CNA)

Dalam sambutannya, Wali Kota New Taipei Hou Yu-ih (侯友宜) menyebut ini adalah kali pertama festival bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Taitung. Menurutnya, Taitung dikenal memiliki banyak program dan musisi Austronesia yang luar biasa, dan kini mereka akan bekerja berdampingan dengan New Taipei.

"Daerah Bali [di New Taipei] sendiri memiliki banyak situs bersejarah. Selain Situs Arkeologi Shihsanhang, juga terdapat Situs Bafenkeng. Kawasan ini merupakan muara sungai sekaligus tempat yang sejak dahulu menjadi lokasi favorit untuk mendarat dan memulai kehidupan baru. Karena itu, wilayah ini menghimpun begitu banyak warisan budaya dan jejak sejarah," kata Hou.

Hou menambahkan banyak kesamaan budaya, kerajinan, bahkan bahasa antara masyarakat adat Taiwan dengan orang Austronesia lainnya. Ia menyebut, karena kita berasal dari asal-usul dan akar yang sama, hidup bersama di bumi ini, maka kita harus saling menghargai.

"Kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar. Oleh sebab itu, marilah kita menjaga erat persaudaraan dan persahabatan di antara kita," ucap Hou, seraya berharap kekuatan budaya dapat dihimpun bersama melalui festival ini agar warisan tersebut terus hidup dan membuat tanah tempat berpijak menjadi semakin baik.

Dalam acara ini, sejumlah perwakilan dari suku adat Taiwan juga tampil menghadirkan tarian dan nyanyian khas mereka. Begitu juga dengan beberapa perwakilan negara sekutu Republik Tiongkok (Taiwan) seperti Kepulauan Marshall serta beberapa negara lainnya seperti Malaysia dan Indonesia.

Pada acara ini, Hou juga menandatangani nota kesepahaman museum saudari antara Museum Shihsanhang New Taipei dengan Alele Museum di Kepulauan Marshall.

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.