WAWANCARA /Ferry Salim belajar Mandarin hingga ritual keagamaan untuk film horor Taiwan

13/08/2026 14:08(Diperbaharui 13/08/2026 14:11)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Aktor Indonesia, Ferry Salim di film Taiwan "The Rope Curse 4: Kuntilanak" yang akan tayang pada 27 Agustus. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
Aktor Indonesia, Ferry Salim di film Taiwan "The Rope Curse 4: Kuntilanak" yang akan tayang pada 27 Agustus. (Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

Oleh Jason Cahyadi, penulis staf CNA

Aktor Indonesia, Ferry Salim mengatakan dirinya mempelajari bahasa Mandarin hingga ritual keagamaan untuk bermain peran dalam film "The Rope Curse 4: Kuntilanak" (粽邪4:坤蒂拉娜), yang akan tayang di bioskop di seluruh Taiwan pada 27 Agustus mendatang.

Baca juga: Film Taiwan tentang kuntilanak yang gandeng bintang Indonesia akan tayang 27 Agustus

"講國語一點一點 (bisa bahasa Mandarin sedikit-sedikit)," ucap Ferry dalam wawancara bersama CNA hari Kamis (12/8). Untuk film ini, ia mengaku belajar Mandarin selama hampir tiga bulan dengan didampingi guru.

"Tiap hari saya latihan, terus direkam. Terus dikirim ke Taiwan, didengerin sama si sutradara, lalu diperbaikin, apa lagi yang kurang ... susah ya ternyata bahasa Mandarin," kata pria kelahiran Palembang itu.

Di film Taiwan ini, Ferry memerankan Master Lin, seorang ahli spiritual Indonesia yang pernah tinggal di Taiwan. Untuk itu, "Di dalam film ini saya hampir 80 persen ngomongnya Mandarin," ujarnya.

Tak hanya mendalami bahasa, Ferry juga jadi mempelajari ritual-ritual keagamaan yang dilakoninya, mulai dari penempatan posisi diri hingga bagaimana memegang pedang.

Ferry mengatakan dirinya "sangat senang" karena ini adalah pengalamannya bermain di film internasional. "Pengalaman yang luar biasa, karena setiap sutradara kan pasti berbeda-beda, apalagi sudah beda budaya dan lain-lain, cara kerjanya dan lain sebagainya."

Tim Taiwan yang terlibat sangat kompak dan waktu kerjanya juga ketat, menurut aktor senior yang telah membintangi berbagai film dan serial tersebut.

Ditanya CNA tentang cerita menarik yang dialaminya, Ferry mengatakan ini pertama kali baginya dijemput pukul 3 pagi untuk syuting, seiring proses riasannya membutuhkan waktu empat jam, termasuk untuk pembuatan tato, penghitaman kulit, pembubuhan luka, hingga ekstensi rambut.

"Saya dijemput jam 3 pagi, perjalanan ke lokasi syuting itu sekitar satu jam setengah. Sampai [di] sana jam 4.30, jam 5 mulai dirias, jam 8 selesai dirias, jam 9 siap-siap untuk syuting," bebernya.

Beres-beres usai syuting juga menyisakan kisah tersendiri, karena tatonya harus dibersihkan menggunakan alkohol, dan setelahnya kulit menjadi merah dan terasa panas, kata Ferry.

(Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)
(Sumber Foto : WOWing Entertainment Group)

Ferry juga mengaku sedang mendiskusikan kemungkinan kedatangannya ke Taiwan, yang memang sudah sering ia kunjungi, dalam rangka promosi "The Rope Curse 4: Kuntilanak". Namun, jadwalnya sedang diatur, seiring filmnya yang lain, "Kuasa Gelap: Perjanjian Darah" akan dirilis di Indonesia pada 8 Oktober.

Ia juga mengungkapkan harapannya agar "The Rope Curse 4: Kuntilanak" dirilis di Indonesia karena "cukup mendapatkan banyak sekali antusias dari penonton Indonesia," terutama yang telah terlebih dahulu menonton triloginya di platform Netflix. "Ini harapan besar dari masyarakat Indonesia untuk bisa nonton."

Untuk diaspora Indonesia di Taiwan, "Jangan lupa untuk mendukung film-film yang ada pemain Indonesianya, untuk menonton film di bioskop-bioskop di Taiwan," tambah Ferry.

Film "The Rope Curse 4: Kuntilanak" diawali pembunuhan tragis Mila, seorang pekerja migran Indonesia, di kedai makan di Taiwan, setelah ia menonton siaran langsung yang berisi ritual dukun yang membangkitkan sosok kuntilanak. Pada malam yang sama, pemilik toko tewas gantung diri.

Yulan, wanita Taiwan yang tidak sengaja memasuki lokasi kejadian, juga mengalami berbagai keanehan, lalu diketahui terkena kutukan perpindahan jiwa. Untuk mematahkannya, para tokoh dari kedua negara pun bekerja sama.

Selain Ferry, selebritas Indonesia lainnya yang akan turut mengisi peran di film ini termasuk pemengaruh Andovi da Lopez dan eks anggota JKT48 Yessica Tamara. Sutradara Liao Shih-han (廖士涵) sebelumnya mengungkapkan bahwa "sekitar dua per tiga latar film" berada di Indonesia.

Sebelum dirilis resmi pada 27 Agustus, komunitas Indonesia di Taiwan secara khusus mendapatkan kuota terbatas menonton gratis di Distrik Zhongli, Taoyuan dan Taichung pada 23 Agustus, yang bisa didapatkan melalui pendaftaran, menurut unggahan resmi promosi "The Rope Curse 4: Kuntilanak" di media sosial.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.