Republik Tiongkok, Taiwan, merayakan Hari Nasional ke-115-nya pada 10 Oktober, diisi upacara hingga beragam pertunjukan di berbagai wilayah, serta resepsi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Parade militer, pertunjukan udara, dan berbagai penampilan lainnya memeriahkan perayaan Hari Nasional ke-115 Republik Tiongkok, Taiwan, di depan Kantor Kepresidenan di Taipei pada 10 Oktober, sementara upacara bendera hingga pertunjukan kembang api diadakan di berbagai wilayah.
Gala Hari Nasional di Banqiao Stadium pada tanggal 9 malam turut dimeriahkan band Indonesia, Grrrl Gang.
Perayaan Hari Nasional juga turut diadakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia pada 7 Oktober malam. Di Jakarta, resepsi menghadirkan stan layanan medis dan kesehatan serta pertanian cerdas Taiwan.
Perwakilan Taiwan untuk Indonesia, Bruce Hong, berterima kasih ke pemerintah dan masyarakat Indonesia atas dukungan terhadap hubungan erat Taiwan-Indonesia, serta mengatakan kemitraan kedua pihak terus bertumbuh di berbagai bidang.
Resepsi juga digelar di Surabaya, menampilkan pameran pariwisata Taiwan hingga hasil program pendidikan INTENSE Program.
Presiden Lai Ching-te dalam pidato Hari Nasional pada 10 Oktober mengatakan pemerintahannya akan meningkatkan kuota pekerja migran seiring dengan kenaikan upah pekerja lokal dan mendorong perekrutan langsung antarpemerintah, serta telah melonggarkan peraturan untuk membantu profesional dan mahasiswa asing menetap di Taiwan.
Seiring Republik Tiongkok, Taiwan, merayakan Hari Nasional ke-115-nya pada 10 Oktober, Presiden Lai Ching-te menyampaikan pidato di depan Istana Kepresidenan yang mengangkat berbagai isu.
Di antaranya, Lai mengatakan pemerintahannya telah meluncurkan Skema Penyempurnaan Tenaga Kerja Lintas Batas, dan akan menambah kuota pekerja migran seiring dengan kenaikan upah pekerja lokal, memperluas peluang pekerja migran berpengalaman untuk beralih menjadi pekerja terampil asing, serta mendorong perekrutan langsung antarpemerintah.
Lai juga menyoroti perubahan Undang-Undang Perekrutan dan Penempatan Tenaga Profesional Asing, yang disebutnya memperluas kesempatan bagi tenaga profesional internasional dan mahasiswa asing untuk datang dan menetap.
Sejumlah pejabat menyoroti peran Tionghoa perantauan bagi Republik Tiongkok, Taiwan, dalam peringatan Hari Tionghoa Perantauan ke-74 di Taipei pada 11 Oktober.
Federation Of Overseas Chinese Associations menyelenggarakan peringatan Hari Tionghoa Perantauan ke-74 di Taipei pada 11 Oktober.
Pelaksana Tugas Menteri Dewan Urusan Komunitas Luar Negeri, Lee Yen-hui mengatakan Tionghoa perantauan merupakan “ibu penyelamat negara” di masa revolusi, dan kini tetap menjadi kekuatan penting bagi Taiwan.
Tionghoa perantauan telah lama mengembangkan kiprah di berbagai negara, mewariskan kebudayaan, membangun ekonomi setempat, serta membantu pelajar keturunan untuk belajar dan bekerja di Taiwan.
Ketua Yuan Legislatif, Han Kuo-yu mengatakan setiap perjuangan masyarakat Tionghoa di luar negeri adalah kisah yang mengharukan, dan komunitas Tionghoa perantauan adalah salah satu kekuatan paling penting bagi negara.
Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan, Shih Chung-liang pada 5 Oktober mengatakan integrasi teknologi metaverse ke dalam layanan kesehatan di Taiwan dapat meningkatkan visibilitas internasional dan daya saing Taiwan di sektor medis.
Konferensi Aplikasi Pencitraan Medis AI 3D & Metaverse Taiwan 2026 digelar di Taipei pada 5 Oktober.
Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan, Shih Chung-liang mengatakan teknologi metaverse dapat digunakan dalam pendidikan anatomi, konsultasi praoperasi dengan pasien, perencanaan bedah, serta navigasi dan panduan selama operasi.
Taiwan telah menyumbangkan sistem medis berbasis metaverse ke beberapa negara sahabat diplomatik dan mengundang tenaga kesehatan mereka ke Taiwan untuk pelatihan penggunaannya.
Menurutnya, teknologi ini dapat makin meningkatkan profil internasional dan daya saing Taiwan di bidang kesehatan.
Pusat Pengembangan Budaya Hakka Taiwan pada 2 Oktober menggelar forum yang membahas perkembangan sejarah dan corak budaya masyarakat Hakka di Indonesia melalui hasil penelitian, data sejarah, dan pengalaman lokal.
Pusat Pengembangan Budaya Hakka Taiwan pada 2 Oktober menggelar forum Hakka Indonesia di Taiwan Hakka Museum.
Direktur pusat tersebut, Hsieh Sheng-hsin mengatakan forum ini menghubungkan hasil penelitian, data sejarah, dan pengalaman lokal, sehingga kisah masyarakat Hakka Indonesia dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, serta menjadi landasan bagi penelitian Hakka internasional dan pertukaran budaya di masa mendatang.
(Oleh Jason Cahyadi dan Muhammad Irfan)