Taipei, 11 Okt. (CNA) Pidato Presiden Lai Ching-te (賴清德) pada Hari Nasional mempertahankan sikap tegas terkait isu lintas selat sekaligus menegaskan kembali komitmen Taiwan terhadap perdamaian, kata seorang pakar ilmu politik pada hari Minggu (11/10), seraya menambahkan bahwa pidato tersebut tidak memberikan dalih bagi Beijing untuk melakukan pemaksaan atau provokasi militer.
Dalam pidato yang berjudul "Masa Depan Taiwan: Kota di Atas Bukit, Garam dan Terang Dunia," yang disampaikan pada Sabtu, Lai mengatakan Taiwan harus dengan berani dan percaya diri membangun "kota di atas bukit" di tengah era yang ditandai oleh perang, ekspansi otoriter, dan perubahan cepat dalam tatanan global.
Ia mengatakan visi tersebut merupakan aspirasi untuk masa depan Taiwan dan tanggung jawab yang bersedia diemban oleh negara, bukan tindakan memuji diri sendiri.
Chen Shih-min (陳世民), seorang profesor madya di Departemen Ilmu Politik National Taiwan University, mengatakan Lai menggunakan metafora tersebut untuk menyoroti upaya dan pencapaian Taiwan selama puluhan tahun dalam menjadi model demokrasi, kebebasan, dan pembangunan ekonomi.
Chen mengatakan pidato tersebut mencerminkan tiga prinsip utama: menjaga stabilitas, menyampaikan sikap yang jelas, dan menegaskan kembali peran Taiwan dalam menjaga perdamaian.
Lai secara konsisten mengadopsi pendekatan pragmatis dalam pidato-pidato utamanya, dengan fokus pada pencapaian domestik, peran internasional Taiwan, dan hubungan lintas selat, kata Chen, seraya menambahkan bahwa pidato terbaru ini tidak memberikan alasan bagi Beijing untuk melakukan pemaksaan atau provokasi militer.
Terkait hubungan AS-Tiongkok, Chen mengatakan bahwa meskipun para pengamat luar sering percaya bahwa persaingan strategis antara kedua kekuatan tersebut menguntungkan Taiwan, Lai menegaskan bahwa Taiwan juga menyambut dialog antara Washington dan Beijing untuk mengelola persaingan dan mengurangi risiko konflik di Selat Taiwan.
Penegasan kembali Lai bahwa Taiwan adalah penjaga perdamaian, dan bahwa penguatan kemampuan pertahanan dimaksudkan untuk mencegah perang, bukan memicu konflik, juga membantah klaim bahwa Taiwan adalah kekuatan yang mengganggu stabilitas, kata Chen.
Secara terpisah, Tsai Jung-hsiang (蔡榮祥), seorang profesor ilmu politik di Universitas National Chung Cheng University, mengatakan pidato Lai berfokus pada tiga bidang: menegaskan kembali definisi perdamaian, memperjelas narasi sejarah, dan memperkuat hubungan dengan komunitas internasional.
Tsai mengatakan Lai menekankan bahwa perdamaian harus dijaga melalui kekuatan, termasuk pengembangan senjata asimetris, peningkatan kemampuan pertahanan, dan kerja sama dengan mitra Indo-Pasifik.
Tsai juga mengutip pernyataan Lai tentang kinerja ekonomi Taiwan, termasuk proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan lebih dari 11 persen, perdagangan dengan Amerika Serikat yang melebihi perdagangan dengan Tiongkok dan Hong Kong, serta indeks acuan Bursa Saham Taiwan yang mencapai 49.000 poin, menjadikannya pasar saham terbesar keempat di dunia dalam hal kapitalisasi pasar.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa ekonomi Taiwan terus berkembang dan semakin terhubung dengan dunia meskipun ketergantungan ekonomi terhadap Tiongkok berkurang, kata Tsai.
Selesai/ja