Frankfurt, 10 Okt. (CNA) Penulis Ceko Radka Denemarková dan penulis Taiwan Yang Shuang-zi (楊双子) di Frankfurt Book Fair hari Rabu (7/10) membahas bagaimana sejarah negara mereka telah membentuk masyarakat di masing-masing negara.
Diskusi yang berjudul "Menceritakan Kisahnya: Perempuan, Kereta Api, dan Beratnya Sejarah" ini diadakan di paviliun Ceko. Republik Ceko menjadi tamu kehormatan pada pameran tahun ini, yang dibuka pada Rabu dan berlangsung hingga Minggu.
Kedua penulis tersebut mengangkat novel mereka, "Čokoládová krev" (Darah Cokelat) karya Denemarková dan "Taiwan Travelogue" (臺灣漫遊錄) karya Yang, untuk membahas perempuan, perkeretaapian, dan bagaimana sejarah dikenang.
Yang mengatakan ia menempatkan novelnya di Taiwan pada masa penjajahan Jepang sebagai cara untuk berbicara kepada masyarakat kontemporer dan membantu pembaca mempelajari tentang Taiwan.
Denemarková, seorang penulis terkemuka Ceko yang karyanya meliputi novel, drama, dan kritik sastra, telah lama menulis tentang totalitarianisme, memori sejarah, dan kebebasan individu.
Setelah beberapa kali mengunjungi Tiongkok, ia mengangkat apa yang ia lihat tentang hak asasi manusia, pengawasan, dan kehidupan di bawah rezim otoriter dalam novelnya "Hodiny z olova" (Jam-jam Timbal), yang diterbitkan pada 2018.
Penulis berusia 58 tahun itu telah dilarang masuk ke Tiongkok sejak 2017.
Dari "Burung Layang-layang Praha" ke "Burung Layang-layang Tainan"
Setelah diskusi, Denemarková mengatakan kepada CNA bahwa hubungannya dengan Taiwan terjadi secara tak terduga setelah ia meninggalkan Tiongkok.
Ia pertama kali mengunjungi Taiwan pada Januari 2020 dan tinggal selama lima bulan, di mana ia menyaksikan pemilihan presiden dan awal pandemi COVID-19, katanya.
"Krisis dapat mengungkapkan wajah sejati suatu masyarakat dengan lebih cepat, serta menunjukkan bagaimana solidaritas di antara masyarakat bekerja," ujarnya. "Saya melihat betapa beraninya pulau kecil Taiwan ini dan peran apa yang dimainkannya dalam geopolitik."
Ketertarikan Denemarková tidak terbatas pada Taiwan kontemporer. Ia mengatakan sangat tertarik pada sejarah kolonial pulau itu dan masa Teror Putih, melihat adanya kemiripan dengan sejarah Eropa Tengah, tempat asalnya.
Taiwan mencabut hukum darurat militer pada 1987, sementara Cekoslowakia memulai transisi menuju demokrasi pada 1989. Meskipun kedua masyarakat menghadapi situasi yang berbeda, pengalaman mereka mendorongnya untuk merenungkan pertanyaan yang sama: "Apa sebenarnya arti demokrasi?"
Renungan tersebut telah mempengaruhi novel yang sedang ia kerjakan, yang akan mengikuti dua keluarga, satu di Taiwan dan satu lagi di Eropa Tengah, dengan alur cerita paralel, kata Denemarková kepada CNA.
Sementara ini berjudul "Nanning Street", buku tersebut mengambil nama dari sebuah jalan di Tainan, Taiwan selatan, tempat ia tinggal selama residensi sastra pada 2020, tambahnya, seraya mengatakan bahwa ia sangat menghargai cara orang-orang di Taiwan berinteraksi dan saling mendukung.
Dikenal di Eropa sebagai "Burung Layang-layang Praha", Denemarková tersenyum saat berbicara tentang Tainan, mengatakan bahwa kini ia juga telah menjadi "Burung Layang-layang Tainan".
Perspektif baru tentang Taiwan dari Eropa Tengah
Sementara Denemarková melihat Eropa Tengah melalui pengalamannya di Taiwan, Yang memperoleh perspektif baru tentang Taiwan dengan mengeksplorasi sejarah Eropa Tengah.
Novel Yang "Taiwan Travelogue", yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Lin King (金翎), memenangkan International Booker Prize 2026 pada Mei, menjadi karya Taiwan pertama yang memenangkan penghargaan tersebut.
Dalam diskusi Rabu, Yang mengenang kunjungannya ke Republik Ceko dan Slovakia pada 2024, mengatakan bahwa perkembangan sejarah dan perjuangan kedua negara untuk kebebasan menawarkan banyak pelajaran yang dapat diambil oleh Taiwan.
"Bepergian jauh sebenarnya dapat membantu kita melihat diri sendiri ketika kita menoleh ke belakang," kata Yang.
Perjalanan dapat membuat orang mempertimbangkan kembali negara dan kehidupan mereka sendiri, serta memikirkan dengan siapa mereka ingin berdialog, ujarnya.
"Meskipun masyarakat yang berbeda memiliki pengalaman sejarah masing-masing, saling memahami dapat membantu mereka menemukan kekuatan untuk maju dan tumbuh bersama," katanya.
Taiwan di pameran
Sekitar 258 judul dari 58 penerbit dipamerkan di paviliun Taiwan selama pameran lima hari tersebut. Selain Yang, paviliun ini juga menghadirkan penulis Taiwan lainnya, termasuk Liu Ka-shiang (劉克襄), seorang penyair, esais, novelis, dan naturalis; serta Chou Chien-hsin (周見信), penulis novel grafis populer "Son of Formosa" (來自清水的孩子).
Berbicara pada upacara pembukaan paviliun hari Rabu, Lo Mei-shun (羅美舜), kepala kantor perwakilan Taiwan di Frankfurt, mengatakan bahwa para pengunjung paviliun akan menemukan apa yang paling mendefinisikan Taiwan: rakyatnya.
Lo menggambarkan setiap buku di paviliun Taiwan sebagai "undangan tulus" dari para penulis Taiwan untuk merasakan kisah dan kehangatan Taiwan.
Selesai/JC