Taipei, 6 Okt. (CNA) Sebuah asosiasi nasional yang mewakili usaha waralaba Taiwan baru-baru ini menyerukan pembukaan sektor jasa yang lebih luas bagi pekerja asing, dengan mengutip survei terbaru yang menunjukkan bahwa 98,8 persen bisnis semacam itu mengalami kekurangan tenaga kerja.
Pemerintah seharusnya mempertimbangkan untuk mengizinkan pekerja asing masuk ke lebih banyak industri jasa guna membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja yang terus-menerus, kata Jimmy Tsai (蔡德忠), ketua Taiwan Chain Stores and Franchise Association (TCFA), dalam sebuah forum hari Jumat (2/10).
Tsai menyarankan agar jumlah pekerja asing awalnya dibatasi pada 5 persen dari total tenaga kerja setiap perusahaan untuk memberi waktu bagi bisnis untuk menyesuaikan pelatihan dan praktik manajemen mereka.
TCFA mengadakan forum tersebut untuk menyoroti kesulitan perekrutan yang dihadapi sektor jasa, yang semakin diperparah oleh rendahnya angka kelahiran di Taiwan, berdasarkan survei terhadap 160 bisnis rantai dan waralaba yang dilakukan pada Juli dan Agustus.
Sekretaris Jenderal TCFA, Hung Ya-ling (洪雅齡), mengatakan kekurangan tenaga kerja menjadi risiko bagi ekspansi dan pertumbuhan perusahaan, menurut siaran pers.
Di sektor jasa, pekerja asing baru diizinkan bekerja di sektor perhotelan dan pelabuhan komersial sejak awal tahun ini, dengan kelompok pertama sebanyak 35 orang Indonesia tiba di Taiwan pada 14 September untuk bekerja di sebuah hotel.
Baca juga: KP2MI: Kebutuhan Taiwan akan tenaga kerja dapat lengkapi bonus demografi Indonesia
Menurut siaran pers tersebut, 98,8 persen gerai toko rantai menghadapi kekurangan tenaga kerja, dengan 82,5 persen melaporkan kekurangan sedang atau lebih parah.
Survei tersebut juga menemukan bahwa 57 persen responden telah mengalami kekurangan selama lebih dari satu tahun, sementara lebih dari 80 persen tidak melihat adanya perbaikan tahun ini dibandingkan tahun lalu, kata TCFA.
Kekurangan tenaga kerja juga memengaruhi operasional sektor ini, dengan 77,5 persen perusahaan melaporkan beban kerja karyawan yang lebih berat, 60,5 persen kesulitan dalam penjadwalan staf, dan 29,4 persen mempersingkat jam operasional, menurut survei tersebut.
Survei menunjukkan bahwa 79,7 persen responden menyebut rendahnya minat anak muda terhadap pekerjaan di sektor jasa sebagai tantangan utama perekrutan, diikuti oleh jam kerja yang panjang (43,7 persen), beban kerja yang berat (41,8 persen), dan stres terkait pekerjaan (39,9 persen).
Berbicara di forum tersebut, Tsai juga meminta pemerintah untuk melonggarkan pembatasan jam kerja bagi mahasiswa asing, memperpanjang masa pencarian kerja setelah lulus, dan menyediakan layanan satu pintu untuk mempertahankan mahasiswa internasional setelah lulus.
Saat ini, lulusan asing dengan gelar diploma atau lebih tinggi dapat bekerja di Taiwan selama dua tahun setelah lulus tanpa izin kerja atau pembatasan industri, setelah itu mereka dibatasi hanya pada pekerjaan khusus atau teknis, tidak termasuk posisi tingkat awal seperti pekerjaan di bidang layanan makanan.
Selesai/JC