Taipei, 30 Sep. (CNA) Taiwan mencatat lebih dari 130.000 kunjungan rawat jalan dan gawat darurat terkait flu pada pekan lalu, dengan epidemi yang diperkirakan akan mereda pada pertengahan Oktober, kata Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) pada Selasa (29/7), sambil memperingatkan bahwa aktivitas flu meningkat di beberapa negara tetangga.
Menurut data pemantauan terbaru CDC, 138.654 orang mencari perawatan medis untuk penyakit mirip influenza di klinik rawat jalan dan departemen gawat darurat pekan lalu, turun 3,2 persen dari pekan sebelumnya, sebagian besar karena layanan klinik yang berkurang selama periode liburan baru-baru ini.
Wakil Direktur Pusat Intelijen Epidemi CDC, Lee Chia-lin (李佳琳), mengatakan 87 kasus baru dengan komplikasi influenza berat dan 30 kematian dilaporkan pekan lalu.
Data pemantauan laboratorium menunjukkan bahwa influenza A tetap menjadi strain dominan yang beredar di masyarakat, dengan subtipe A(H1N1) menyumbang 87,7 persen dari kasus, kata Lee.
Sejak dimulainya musim flu 2025-2026, Taiwan telah mencatat 1.673 kasus berat dan 334 kematian, kata Lee.
Di antara kasus berat tersebut, 65,9 persen adalah orang berusia 65 tahun ke atas, dan 83,4 persen memiliki penyakit kronis. Dari total tersebut, 67,7 persen belum menerima vaksin flu musim ini, tambahnya.
Juru bicara CDC Lin Ming-cheng (林明誠) mengatakan epidemi flu diperkirakan akan berfluktuasi dalam waktu dekat sebelum mulai menurun sekitar pertengahan Oktober.
Namun, ia mengatakan masih mungkin kunjungan medis mingguan terkait flu dapat meningkat menjadi 150.000-160.000 kasus sebelum penurunan, seraya menambahkan bahwa CDC akan terus memantau situasi.
CDC juga memperingatkan bahwa aktivitas flu sedang meningkat di Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, sementara Hong Kong berada pada tingkat tinggi dan Amerika Serikat juga mengalami peningkatan kasus.
Sementara itu, seorang anak laki-laki berusia 2 tahun termasuk di antara kematian terbaru terkait flu. Ia meninggal setelah mengalami infeksi berat yang menyebabkan ensefalitis nekrotikans akut, menurut dokter CDC Lin Yung-ching (林詠青).
Anak laki-laki dari Taiwan selatan tersebut, yang tidak memiliki kondisi medis mendasar dan belum menerima vaksin flu musim ini, mengalami demam di atas 40 derajat Celsius dan batuk berdahak pada awal September.
Ia dinyatakan positif influenza A di sebuah klinik dan diberi resep obat antivirus, tetapi demamnya tetap tinggi setelah ia pulang ke rumah.
Anak tersebut kemudian dirawat di rumah sakit setelah mengalami perubahan kesadaran dan kejang. Pemindaian otak menunjukkan pembengkakan, dan ia dirawat di unit perawatan intensif.
Kondisinya memburuk, dengan pembengkakan otak menyeluruh dan ensefalitis nekrotikans akut. Ia meninggal setelah dua pekan dirawat di rumah sakit, menurut Lin.
Penyelidikan lanjutan menemukan bahwa tiga anggota keluarga yang tinggal bersama anak tersebut juga mengalami gejala serupa dan dipastikan terinfeksi influenza, kata Lin.
CDC mengingatkan masyarakat bahwa tahap pertama program vaksinasi flu dan COVID-19 yang didanai pemerintah Taiwan untuk tahun 2026 akan dimulai pada 1 Oktober.
CDC mendesak kelompok berisiko tinggi untuk segera divaksinasi guna melindungi diri sendiri dan keluarga mereka.
Terkait kemungkinan ketersediaan vaksin gabungan flu dan COVID-19 di Taiwan tahun depan, Lin mengatakan Komite Penasihat Praktik Imunisasi di bawah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan akan mengevaluasi manfaat dan harga vaksin sebelum memberikan rekomendasi.