Taipei, 14 Agu. (CNA) Sayap pemudi Nahdlatul Ulama yang berbasis di Taiwan, Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Fatayat NU beberapa waktu lalu meresmikan Koperasi Yasmin, sebuah koperasi yang memasarkan produk-produk milik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) maupun olahan hasil kerajinan tangan para kadernya. Bertujuan melatih pembekalan wirausaha bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk persiapan pulang ke tanah air, ujar Novilia Arrasyid, ketua Fatayat NU Taiwan.
Baca berita sebelumnya https://indonesia.focustaiwan.tw/society/202608035009
“Organisasi Fatayat di bawah naungan PCINU Taiwan kebanyakan kadernya para pekerja migran Indonesia perempuan yang aktif berkumpul untuk membuat makanan ringan bersama, mengolah kerajinan tangan, dan mengikuti sejumlah pelatihan yang diadakan oleh Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei),” ujar Novilia yang telah bekerja selama 11 tahun ini.
Menurutnya, Koperasi Yasmin merupakan bagian dari kegiatan terpusat yang diperuntukkan tidak hanya untuk kader PCINU saja. Pihaknya terbuka untuk organisasi lain yang mau bekerja sama dengannya. Meskipun baru saja diresmikan, para kaum perempuan dari Fatayat NU telah terlebih dahulu berkreasi memasarkan produk-produk makanan ringan buatannya sendiri di antara sesama anggotanya.
Selain itu, beberapa kerajinan tangan seperti tas dan rajutan kerap kali dibuat dan dipamerkan pada acara-acara pemerintah kota setempat.
“Saat pemerintah kota Keelung mengadakan acara, kerajinan tangan kita selalu dipamerkan,” ujar perempuan yang mengenyam pendidikan di Universitas Terbuka semester 2 ini.
Pada saat hari libur, komunitas tersebut berkumpul dan membuat makanan ringan bersama atau mengerjakan kerajinan tangan di waktu senggang tersebut. Beberapa kader juga mempersiapkan kemampuannya dengan belajar sendiri sekaligus mengikuti pembelajaran UMKM bersama Kepala Bidang Perdagangan KDEI Taipei seperti belajar cara membuat sambel secara daring dan melihat peluang pasar.
“Koperasi Yasmin diperuntukkan sebagai wadah sitem perekonomian untuk kadernya. Kami terbuka juga dari organisasi lain untuk menitipkan produknya. Sebagai pembelajaran exit program untuk pulang ke Indonesia,” pungkas Novilia saat dihubungi CNA melalui sambungan telepon selulernya.
Novilia berharap, ke depannya koperasi Fatayat tidak hanya kaitan dengan jual-beli saja, banyak sekali curhatan dari kader yang sudah pulang bingung mau buka usaha apa.
“Dengan adanya koperasi ini, kita bisa membuat sistem dan siap untuk mengadakan pelatihan seperti kewirausahaan, agar kader kami punya skill saat pulang ke Indonesia, dan tidak lagi kembali datang ke Taiwan menjadi PMI,” ujar perempuan perawat lansia di kota Taoyuan ini.