Oleh Sunny Lai dan Muhammad Irfan, reporter staf CNA
[Catatan Penyunting: Ini adalah bagian pertama dari dua seri tulisan tentang departemen di sebuah universitas di Taiwan yang didedikasikan untuk bahasa dan studi kawasan Asia Tenggara, serta orang-orang di baliknya.]
Di sebuah ruang kelas di National Chengchi University (NCCU) di Taipei, para mahasiswa menjawab pertanyaan dosen mereka dalam bahasa Indonesia.
Di lorong yang sama, kelas lain terlibat dalam sebuah debat hangat tentang politik Asia Tenggara, membahas topik mulai dari sejarah kolonial hingga status perempuan.
Empat tahun lalu, topik tersebut masih asing bagi Ethan Huang (黃逸廷), seorang Taiwan yang baru saja lulus dari Departemen Bahasa dan Budaya Asia Tenggara NCCU.
Karena penasaran dengan budaya asing dan didorong oleh keluarganya yang melihat peluang di Asia Tenggara, Huang memilih program yang relatif baru ini saat mendaftar ke NCCU.
"Saya hampir tidak memiliki pemahaman tentang Indonesia," kata Huang, yang memilih jalur bahasa Indonesia di departemennya, kepada CNA dalam sebuah wawancara baru-baru ini. "Segala sesuatu tentang bagian dunia itu sangat samar bagi saya."
Kini, pria berusia 22 tahun ini berbicara bahasa Indonesia dengan percaya diri, pernah belajar di Indonesia, dan berharap membangun karier di sana. Bahkan Huang memilih nama Indonesia untuk dirinya, Satriya.
Pengalamannya menggambarkan bagaimana program ini memperkenalkan mahasiswa Taiwan pada kawasan yang semakin penting bagi Taiwan, terutama seiring upaya negara ini mendiversifikasi ekonominya dari ketergantungan pada Tiongkok.
Bahasa dan studi kawasan
Di departemen ini, mahasiswa dapat memilih jalur bahasa Indonesia, Thailand, atau Vietnam, sekaligus mempelajari sejarah, politik, masyarakat, dan budaya kawasan tersebut.
Didirikan sebagai program sarjana pada tahun 2017 dan ditingkatkan menjadi departemen pada tahun 2024, ini adalah salah satu dari sedikit departemen universitas di Taiwan yang mengkhususkan diri pada bahasa dan studi kawasan Asia Tenggara.
Bagi ketua departemen Le Thi-Nham (黎氏仁), seorang akademisi asal Vietnam yang bergabung dengan NCCU pada 2018, bahasa tetap menjadi "pusat" kurikulum.
"Namun, bahasa saja tidak cukup," katanya.
Alih-alih hanya menghasilkan lulusan yang bisa berbicara bahasa Asia Tenggara, Le mengatakan departemen ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih luas dan interdisipliner tentang kawasan tersebut, dengan banyak mata kuliah studi kawasan diajarkan dalam bahasa Inggris.
"Kamu harus punya jurusan kedua," kata Le, menunjuk pada bidang seperti diplomasi, hukum, komunikasi, dan bisnis yang juga ditawarkan di NCCU.
Dengan memanfaatkan sumber daya akademik universitas yang lebih luas, mahasiswa dapat menggabungkan pelatihan bahasa mereka dengan pengetahuan profesional dan menjadi "lebih kompetitif di pasar kerja," ujarnya.
Mempelajari budaya
Pendekatan departemen yang lebih luas terhadap studi Asia Tenggara juga membentuk pengajaran bahasanya, dengan mata kuliah lanjutan yang melampaui tata bahasa dan kosakata untuk menekankan konteks budaya.
Farini Anwar (曾秀情), seorang pembawa acara program berbahasa Indonesia di Radio Taiwan International, menjadi salah satu dosen asal Indonesia di NCCU yang mengajar penerjemahan dan interpretasi Indonesia-Tionghoa.
Menurut dia, mahasiswa tahun ketiga dan keempat di departemen ini umumnya memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang lebih kuat dibandingkan mahasiswa yang pernah ia ajar di tempat lain di Taiwan, sehingga ia dapat lebih fokus pada makna dan nuansa budaya.
"Yang paling penting adalah budaya," kata Farini Anwar. "Mahasiswa perlu belajar bagaimana menerjemahkan antara dua budaya berbeda agar dapat menyampaikan makna yang sebenarnya."
Farini juga menekankan penerjemahan lebih dari sekadar mengganti satu kata dengan kata lain. Kekayaan budaya dan bahasa di Indonesia juga mungkin tidak seluruhnya dipahami oleh orang Indonesia sendiri.
"Misalnya, “mangga” berarti “mangga” dalam bahasa Indonesia tetapi “silakan” dalam bahasa Sunda. Ini salah satu contoh ya," kata Farini.
Setelah tinggal di Taiwan selama hampir tiga dekade, Farini juga melihat perubahan sikap terhadap bahasa Indonesia dari warga lokal Taiwan.
“Ketika saya pertama kali datang ke sini, banyak orang Taiwan tidak ingin belajar bahasa Indonesia,” kata Farini. “Mereka mengira itu adalah bahasa pekerja migran.”
Sementara, lanjut dia, saat ini para siswa mempelajarinya untuk berbagai keperluan mulai dari kebutuhan saat berlibur, pekerjaan, dan pemahaman yang lebih dalam tentang Indonesia serta hubungannya yang semakin erat dengan Taiwan, katanya.
Jalur karier dan hubungan kawasan
Sekitar 50 mahasiswa lulus dari departemen ini setiap tahunnya, menurut Le.
Ia menggambarkan jalur karier lulusan kini "sangat beragam," mulai dari pelayanan publik -- termasuk Kementerian Luar Negeri dan Direktorat Jenderal Imigrasi Nasional -- hingga perbankan, penerbangan, dan bisnis yang beroperasi di Taiwan dan Asia Tenggara.
Peluang seperti itu semakin berkembang seiring meningkatnya perdagangan antara Taiwan dan negara anggota ASEAN.
Perdagangan bilateral mencapai US$181,5 miliar (Rp3,2 kuadriliun) pada tahun 2025, naik 32,54 persen dari tahun sebelumnya dan naik 104 persen dari tahun 2019, menurut Direktorat Jenderal Perdagangan Internasional.
Namun, bagi Le, peran departemen ini melampaui sekadar memasok talenta untuk pasar kawasan yang berkembang.
Ia menggambarkan pendidikan sebagai "kekuatan lunak diplomatik," dengan mengatakan bahwa pengajaran dan penelitian dapat membantu masyarakat Taiwan lebih memahami masyarakat Asia Tenggara sekaligus memungkinkan orang dari kawasan tersebut lebih mengenal Taiwan.
Hubungan Taiwan dengan Asia Tenggara, katanya, seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga melalui pertukaran budaya dan koneksi antarmanusia.
Mahasiswa kemudian dapat membawa apa yang mereka pelajari ke luar kampus, membagikannya kepada keluarga dan teman, dan secara bertahap mengubah cara masyarakat Taiwan memandang kawasan yang masih kerap dilihat melalui stereotip, khususnya yang terkait dengan pekerja migran.
Dari bahasa menuju koneksi
Bagi Huang, hubungan antarmanusia yang dijelaskan Le tumbuh seiring dengan penguasaan bahasa Indonesianya.
Pada tahun ketiganya di program ini, ketika kemampuan bahasanya meningkat, ia misalnya dapat berkomunikasi lancar dengan staf di sebuah restoran Indonesia di Taiwan.
"Saat itulah saya merasa kemampuan bahasa Indonesia saya sudah mencapai tingkat yang saya inginkan," kata Huang.
Kelancaran yang lebih baik juga membuka pintu ke komunitas Indonesia di Taiwan, di mana para pekerja migran dan lainnya berbagi cerita dengannya tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sehari-hari yang jarang didengar oleh kebanyakan orang Taiwan.
Pertemuan-pertemuan itu membantu Huang melihat lebih jauh dari laporan berita yang sering menggambarkan pekerja migran, terutama melalui kisah "kesulitan."
Program pertukaran selama satu semester di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia semakin memperkenalkannya pada keragaman agama, bahasa, dan budaya di negara tersebut.
"Kamu tidak bisa melihat Indonesia sebagai satu kesatuan," kata Huang. "Ada ratusan kelompok etnis, bahasa, dan budaya."
Kini ia membagikan sisi-sisi Indonesia yang kurang dikenal itu kepada teman-temannya, berharap dapat memperluas pemahaman mereka tentang negara yang dulu ia sendiri tidak tahu banyak.
"Bahasa itu sendiri mungkin akan pudar jika saya tidak menggunakannya," katanya. "Tapi pemahaman saya tentang Indonesia tidak akan pernah hilang."
Selesai/ja