Pemuda difabel Taiwan tuntaskan jalur ziarah Camino de Santiago Spanyol

10/08/2026 14:18(Diperbaharui 10/08/2026 14:18)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Dua belas pemuda Taiwan dengan keterbatasan fisik dan ekonomi berhasil menuntaskan rute ziarah dengan jalan kaki sejauh 100 kilometer di Spanyol. (Sumber foto : Direktorat Jenderal Pengembangan Pemuda)
Dua belas pemuda Taiwan dengan keterbatasan fisik dan ekonomi berhasil menuntaskan rute ziarah dengan jalan kaki sejauh 100 kilometer di Spanyol. (Sumber foto : Direktorat Jenderal Pengembangan Pemuda)

Taipei, 10 Agu. (CNA) Dua belas pemuda Taiwan dengan keterbatasan fisik dan ekonomi berhasil menuntaskan rute ziarah Camino de Santiago di Spanyol dengan berjalan kaki sejauh 100 kilometer, kata Direktorat Jenderal Pengembangan Pemuda (YDA) pada Minggu (9/8).

Dalam mewujudkan Proyek Harapan Nasional yang dicanangkan Presiden Lai Ching-te (賴清德), YDA mempromosikan program Taiwan Global Pathfinders Initiative, yang tahun ini telah mendukung lebih dari 3.000 pemuda mewujudkan impian mereka di luar negeri lewat "Skema Bantuan Impian", menurut rilis pers.

Di bawah naungan program tersebut, proyek "Perjalanan Tanpa Hambatan ke Santiago", yang digelar Taiwan Society of Adapted Physical Activity (TSAPA), membawa 12 pemuda yang terdiri dari difabel, pelajar pendidikan khusus, dan pemuda kurang mampu dari daerah terpencil berangkat menuju Spanyol. 

Tim itu berangkat pada 16 Juli, mengatasi penerbangan jarak jauh dan jet lag, dan telah berhasil menuntaskan perjalanan sepanjang 100 kilometer terakhir dari rute ziarah Camino de Santiago sebelum akhirnya kembali ke Taiwan pada 1 Agustus, kata YDA.

Peserta juga mengunjungi Museo Tiflológico, museum tunanetra Madrid. Dengan memejamkan mata dan meraba miniatur bangunan seperti Sagrada Família -- Gereja Katolik Roma besar, para peserta merasakan langsung tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas netra dalam mengeksplorasi dunia, sekaligus memahami rasa takut nyata yang muncul saat berada dalam kegelapan, kata YDA.

Tim memulai perjalanan jalan kaki menelusuri rute ziarah dari kota Sarria, berangkat pukul 5 pagi dalam kegelapan setiap harinya, serta menahan rasa sakit akibat jalan menanjak, tanjakan berbatu, dan melepuh di telapak kaki, kata YDA.

YDA menjelaskan bahwa selama menyusuri jalur ziarah, peserta mengamati bahwa tempat penginapan di perkampungan Morgade menyediakan kamar mandi tanpa ambang pintu, serta menyadari betapa pentingnya desain universal bagi penyandang disabilitas.

Mereka akan membawa pulang pengalaman ramah difabel dari Spanyol ini ke Taiwan dengan harapan dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan publik yang lebih ramah dan inklusif di masa depan, pungkas YDA.

(Oleh Hsu Chi-wei dan Agoeng Sunarto)

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.