Manila, 9 Agu. (CNA) Sebanyak 147 warga Filipina menerima beasiswa yang didanai pemerintah Taiwan tahun ini untuk tahun akademik 2026-2027, dengan jumlah pendaftar melebihi 1.000 orang di tengah meningkatnya minat untuk belajar di Taiwan, kata kantor perwakilan Taiwan di Filipina pada hari Kamis (6/8).
Berbagai jenis beasiswa yang didanai oleh lembaga-lembaga Taiwan, termasuk Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pendidikan, diberikan dalam sebuah upacara yang diadakan oleh Kantor Ekonomi dan Budaya Taipei (TECO) di RCBC Plaza, Kota Makati, Metro Manila.
Sebanyak 147 beasiswa yang diberikan tahun ini melampaui rekor sebelumnya sebanyak 135 beasiswa yang dicapai pada tahun 2025.
Perwakilan Taiwan untuk Filipina, Wallace Chow (周民淦), mengatakan bahwa jumlah pendaftar meningkat dari 650 pada tahun 2025 menjadi lebih dari 1.000 tahun ini, mencerminkan pertumbuhan minat warga Filipina untuk belajar di Taiwan yang terus berlanjut.
Warga Filipina juga telah menjadi kelompok mahasiswa internasional terbesar kelima di Taiwan, dengan jumlah lebih dari 5.500 orang, kata Chow, yang memimpin kedutaan besar de facto Taiwan di Filipina karena tidak adanya hubungan diplomatik formal.
Ia mengaitkan peningkatan ini dengan pertukaran talenta yang dipromosikan di bawah Kebijakan Baru ke Selatan Taiwan dan menyatakan harapannya agar mahasiswa Filipina menganggap Taiwan sebagai "rumah kedua" dan membantu memperdalam hubungan antara kedua pihak.
Penerima beasiswa tahun ini akan belajar di bidang-bidang seperti AI, semikonduktor, humaniora, kedokteran, pariwisata, dan hubungan internasional, menurut TECO.
Corazon Avecilla-Padiernos, ketua dan perwakilan tetap Kantor Ekonomi dan Budaya Manila di Taiwan, mengatakan ia berharap para mahasiswa akan pulang tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan persahabatan dan prospek masa depan yang lebih baik setelah menyelesaikan studi mereka di Taiwan.
Sebagai kepala kedutaan besar de facto Filipina di Taiwan, Padiernos juga menyatakan harapannya agar para penerima beasiswa dapat menjadi jembatan antara generasi muda di Taiwan dan Filipina serta membantu memperdalam kerja sama bilateral.
Mengapa mahasiswa memilih Taiwan
Bagi beberapa penerima, lingkungan sosial Taiwan yang terbuka dan inklusif juga menjadi daya tarik tersendiri.
Paul Daniel Serano, yang skripsi sarjananya berfokus pada kesetaraan gender, mengatakan bahwa status Taiwan sebagai negara pertama di Asia yang melegalkan pernikahan sesama jenis, bersama dengan mata kuliah yang berkaitan dengan minat penelitiannya di National Chengchi University, membantu membentuk keputusannya untuk belajar di sana.
Mengenang kunjungannya ke Taiwan pada tahun 2024, Serano mengatakan ia juga terkesan dengan layanan publik yang efisien, lingkungan hidup yang nyaman, dan masyarakat yang beragam di negara tersebut.
Ia mengatakan mungkin akan tetap tinggal di Taiwan selama dua atau tiga tahun setelah lulus untuk mendapatkan pengalaman kerja, penelitian, dan kehidupan.
Penerima lainnya, Job Lorenzo, menyebutkan kedekatan Taiwan dengan Filipina, transportasi yang mudah, dan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir sebagai alasan ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat Taiwan.
Meskipun ia mungkin akan bekerja di Taiwan setelah menyelesaikan studinya, Lorenzo mengatakan tujuan jangka panjangnya adalah kembali ke tanah air dan memberikan kontribusi atas apa yang telah ia pelajari di Taiwan untuk negaranya.
Selesai/ML