Taipei, 5 Juli (CNA) Seiring Taiwan memberlakukan peraturan perundungan di tempat kerja mulai Juli, seorang dokter spesialis kejiwaan mengingatkan para pekerja untuk selalu memperhatikan kesehatan mental mereka dan belajar "istirahat total" agar dapat melangkah lebih stabil di dunia kerja.
Baca juga: Aturan baru Taiwan tentang perundungan di tempat kerja: Apa yang perlu diketahui
Yang Meng-fan (楊孟凡) dari Rumah Sakit Umum Kuang Tien mengatakan individu yang berada di bawah lingkungan kerja bertekanan tinggi dengan ketidakseimbangan kekuasaan jangka panjang cenderung secara tidak sadar dirinya menginternalisasi tekanan lingkungan tersebut sebagai bentuk menyalahkan diri sendiri.
Akibatnya, mereka bahkan kehilangan kemampuan untuk menyuarakan hak mereka, katanya dalam sebuah pers rilis hari Rabu (31/6).
Para pekerja yang terbiasa menanggung semuanya dalam diam dan menyalahkan diri sendiri atas segala kegagalan merupakan kelompok yang paling membutuhkan dukungan dan perhatian hangat, ujar Yang.
Amandemen Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang berlaku mulai Kamis memberikan hak kepada pekerja untuk langsung mengajukan pengaduan kepada otoritas lokal jika kasus perundungan melibatkan pimpinan tertinggi atau pemilik perusahaan.
Yang menilai bahwa perubahan ini mengirimkan sinyal kuat kepada para pekerja bahwa mereka tidak berjuang sendirian dan masih memiliki pilihan di saat menghadapi perlakuan yang tidak adil.
Dia mengingatkan bahwa terlepas dari apakah stres tersebut berasal dari pekerjaan, manajemen, atau lingkungan fisik kantor, pekerja harus waspada jika kesehatan mental mereka mulai terganggu.
Munculnya gejala seperti sering mengalami insomnia, kecemasan, kesulitan berkonsentrasi, atau bahkan ketidakmampuan untuk benar-benar rileks selama hari libur mengindikasikan bahwa kapasitas fisik dan mental seseorang telah melampaui batas kemampuan maksimalnya, menurutnya.
Jika kondisi ini terus diabaikan tanpa penanganan medis, kata Yang, hal itu berisiko berkembang menjadi gangguan penyesuaian, depresi, atau gangguan kecemasan.
Yang menyarankan agar pekerja bisa belajar untuk melakukan "istirahat total" secukupnya. Ia menegaskan ini bukanlah bentuk pelarian pasif dari kenyataan, melainkan upaya sadar untuk memberikan ruang kosong bagi pikiran dan tubuh serta membangun batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Pekerja harus menyadari bahwa pekerjaan hanyalah sebuah salah satu bagian dari panggung kehidupan, bukan keseluruhan naskah kehidupan itu sendiri, pungkas Yang.
(Oleh Edison Su dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC