Kaohsiung, 5 Juli (CNA) Beer Rock Festival 2026 di Kaohsiung yang digelar dari Jumat (3/7) hingga Minggu menghadirkan sejumlah gerai khusus yang menyajikan makanan yang terinspirasi dari kekayaan kuliner Indonesia, bahkan mengundang salah satu merek martabak legendaris dari tanah air, Martabak Bangka Toko Lily, sebagai bentuk memperkenalkan kuliner Nusantara yang autentik.
Di festival, ada 14 gerai yang berpartisipasi. Meski hampir seluruhnya adalah gerai Taiwan, makanan yang mereka sajikan mewakili unsur makanan yang populer di Indonesia seperti sate, ayam goreng dengan berbagai bumbu rempah, dan mi khas peranakan.
"Ini kreasi ayam goreng yang kami buat. (Sebelum digoreng), kami rendam dengan sejumlah rempah seperti jahe, dan lain-lain," kata salah satu gerai yang berasal dari Kaohsiung, kepada CNA.
Dalam siaran pers yang dirilis Biro Pengembangan Ekonomi Kota Kaohsiung, gerai-gerai yang menjual cita rasa kulinernya di sudut khusus festival tersebut adalah gerai terpilih yang mendaftar di Kaohsiung Beer Snacks Food Competition yang pendaftarannya ditutup pada 29 Mei lalu.
Para pemenang telah memenuhi kriteria pemungutan suara daring oleh masyarakat serta babak final dengan dewan juri profesional yang melakukan penilaian berdasarkan "keselarasan dengan bir", "kelezatan cita rasa", dan "kreativitas masakan" yang mendukung tema utama festival sebagai salah satu festival bir terbesar di Taiwan, kata biro tersebut.
Dari 14 gerai tersebut, satu gerai yakni Martabak Bangka Toko Lily diundang khusus dari Indonesia.
"Pertama kali saya dapat undangan ini rasanya tidak percaya, karena sebagai toko martabak di daerah, kesempatan seperti ini seperti mimpi," kata Deddy Susanto (41), generasi kedua penerus Martabak Bangka Toko Lily yang dimulai oleh kedua orangtuanya pada 1991.
Tokonya terkoneksi dengan pihak festival melalui kerabatnya yang pernah tinggal di Taiwan. Namun, sebelum itu, sepengetahuan Deddy, penyelenggara juga pernah ke Indonesia untuk menjajaki sejumlah merek kuliner setempat.
Dengan hanya persiapan satu bulan, Deddy membawa empat orang lainnya untuk membantu dia di Taiwan, yakni dua pegawai yang membantu memasak di toko mereka di Cianjur; adik ipar Deddy, Kartika yang bertindak sebagai kasir; dan ibunya, Asui Co, pendiri merek martabak yang kini dianggap sebagai legendaris di Cianjur, Jawa Barat itu.
"Memang ini resep bapak dan ibu. Turun-temurun, karena bapak dan ibu kan dari Bangka. Bisa dibilang pionir martabak Bangka di Cianjur," kata dia.
Untuk acara ini, Deddy menyebut pihak pengundang sangat memfasilitasi. Demi menyajikan makanan Indonesia yang autentik, pihak festival menjamin semua akomodasi baik dari keberangkatan dan tempat tinggal selama di Taiwan, begitu juga dengan set dapur, ujarnya.
"Hanya bawa loyang buat martabak manis saja karena di sini enggak ada. Selain itu juga beberapa bahan yang enggak bisa dibeli di Taiwan seperti mentega tertentu, kami bawa dari Indonesia. Bahkan kotaknya saja mereka yang sediakan," kata Deddy.
Menyesuaikan dengan konsumen Taiwan
Untuk acara ini, Martabak Bangka Toko Lily menyajikan tiga menu. Yakni dua martabak manis dan satu martabak telur. Hal ini ia pilih karena ketiganya adalah varian klasik yang bisa merepresentasikan martabak khas Indonesia.
Selain itu, ia juga menyesuaikan dari sisi ukuran. Biasanya martabak di Indonesia dibuat dalam loyang yang besar sehingga porsinya juga lebih cocok untuk dimakan bersama. Sementara untuk festival ini, pihaknya menyajikan porsi kecil yang lebih nyaman untuk dimakan sambil minum bir, sesuai tema festival.
"Karena kan setahu saya kalau kebiasaan orang Tionghoa, makanan itu harus habis. Jadi kami buat yang lebih kecil porsinya," kata Deddy yang juga merupakan Tionghoa-Indonesia.
Will, warga Taiwan yang mencicipi Martabak Bangka Toko Lily, menyebut ini bukan kali pertamanya mencoba martabak. Sebagai suami dari seorang Indonesia yang kini tinggal di Taiwan, ia mengakui makan Martabak Bangka Toko Lily di Taiwan menjadi obat rindu pada cita rasa martabak asli Nusantara.
Hal ini diiyakan istrinya, Mona, yang semula pindah ke Taiwan untuk studi 16 tahun lalu. "Jarang (menemukan martabak) yang seperti ini di Taiwan," ucapnya yang mencoba martabak manis.
Warisan keluarga
Martabak Bangka Toko Lily memang bukan sekadar toko martabak biasa. Ia adalah warisan keluarga dan kisah kegigihan yang dimulai dari Asui Co (61) dan sang suami, Tionghoa-Indonesia asal Bangka yang merantau ke Cianjur pada 1985.
Menurut Asui, pilihan merantau ke Cianjur karena di sana ada beberapa saudara suaminya. Berbekal kemampuan membuat kue, pasangan muda ini saat itu merintis bisnis usaha kue pukis.
"Buat nambah-nambahin dagang martabak manis, beberapa tahun kemudian, nambah martabak telur. Dan saat itu baru kami (yang jual) martabak Bangka di Cianjur," kata Asui.
Asui dan suami tidak menyangka kalau kemudian menu tambahan inilah yang populer di kalangan masyarakat Cianjur dan bertahan hingga 30 tahun lebih.
"Yang membuat toko martabak kami bertahan karena pelanggan. Selain itu kami juga mencoba terus berinovasi di rasa dan kukuh pada resep yang dipegang oleh Bapak (suami Asui)," kata Asui seraya menyebut beberapa kreasi yang populer di Cianjur saat ini adalah martabak pisang keju.
Asui dan suami merintis toko ini mulai dari berdagang di kaki lima. Namun, seiring waktu, mereka mulai bisa menyewa toko sendiri dan akhirnya bisa membeli toko yang selama ini mereka sewa. Nama Toko Lily sendiri diambil dari toko serba ada, tempat mereka memangkal gerobak kaki lima mereka dulu.
"Orang sudah terlanjur tahunya (dengan nama) itu. Saat ini juga toko kami ada di seberang toko tersebut," kata Asui.
Ajang tahunan Beer Rock Festival tahun ini digelar dari Jumat hingga Minggu di Dream Mall Kaohsiung, diisi sejumlah bintang internasional termasuk anggota "TWICE" Chou Tzu-yu (周子瑜), duo "FLARE U", raja K-pop Rain, grup vokal pria asal Korea Selatan "BtoB" dan "RIIZE", serta anggota "Super Junior" Yesung.
Selesai/JC