Taipei, 19 Juni (CNA) Ririn Arumsari, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja sebagai perawat lansia di Taipei, menjadi salah satu pekerja migran yang berhasil menerbitkan novel perdananya, terinspirasi dari kisah pengalaman kerjanya menjaga lansia di Taiwan.
Dalam wawancaranya bersama CNA, Ririn menuturkan kebahagiaannya bisa menerbitkan novel tersebut di tengah kesibukannya merawat lansia. Kisah Ririn tentu juga banyak dialami pekerja migran lainnya, tetapi Ririn berhasil menguaknya menjadi karya bermakna setebal 400 halaman.
Berawal dari kemenangannya di penghargaan sastra migran ke-8, kemudian ada salah satu penerbit yang tertarik dengan cerita yang Ririn tulis. Penerbit tersebut sempat mengontaknya untuk berdiskusi apakah tertarik menuliskan kisahnya menjadi sebuah novel. Sejak saat itu ia pelan-pelan mengembangkan cerpennya menjadi sebuah novel dalam waktu hampir dua tahun yang terbitkan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Mandarin.
Novel tersebut dicetak pada 27 Mei 2026, tetapi resmi diumumkan penerbitannya pada 1 Juni lalu. Novel yang berjudul “Kisah Sepi” menceritakan tentang “kesepian dan hubungan keluarga yang tidak sedarah” dari seorang pekerja migran yang datang ke Taiwan menjaga seorang kakek. Hubungan mereka tidak hanya sekedar sebagai pekerja dan pasien, tetapi sudah seperti keluarga sendiri. Namun di balik itu juga ada kisah dari keluarga pasien dan si perawat ini.
Novel yang dicetak dalam dua bahasa ini juga mempunyai dua sampul dalam satu buku. Ririn mengatakan, jika novelnya kini bisa didapatkan di seluruh toko buku di Taiwan, baik online maupun offline, termasuk juga berbagai platform belanja.
Novel solo pertamanya ini merupakan sambutan bahagianya setelah sebelumnya ia juga pernah menerbitkan beberapa buku antologi yang ditulis bersama teman-temannya.
“Saya sebelumnya bersama teman-teman pernah menerbitkan buku antologi sebanyak 20 buku,” ujar Ririn yang berasal dari Ponorogo ini.
Ririn mengungkapkan, ia mendapatkan ide untuk menulis kisah tersebut di sela-sela kesibukan.
“Ketika ada ide, saya langsung menuliskan lewat telepon genggam atau kertas. Biasanya saat-saat jam istirahat atau libur baru bisa mengembangkan ide-ide tersebut,” tutur Ririn yang masih lajang ini.
Novel perdananya diterbitkan oleh 遠流出版事業股份有限公司 (Yuan-Liou Publishing Co.,Ltd.)
dengan lebih dari 400 halaman di mana 200 berbahasa Mandarin, dan sisanya berbahasa Indonesia. Ia bertugas menulis pada bagian Bahasa Indonesia, sementara sisanya yang berbahasa Mandarin menjadi tanggung jawab penerbit, tutur Ririn yang telah bekerja di Taiwan selama 14 tahun ini.
Ririn juga diundang oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Arif Sulistiyo ke kantornya untuk memaparkan karyanya ini.
“Saya awalnya meminta bantuan bapak kepala KDEI untuk memperkenalkan novel saya dan mau mengirimkannya kepada beliau, eh malah diundang KDEI untuk datang secara langsung menyerahkan kepada pak Arif,” tuturnya.
Di KDEI Taipei, Ririn juga berbagi mengenai permasalahan yang dialami para pekerja migran, sekaligus mengusulkan wadah bagi rekan-rekan PMI yang suka menulis.
Pemenang penghargaan sastra migran ke-8 dan ke-9 ini juga menuturkan pesannya kepada para pekerja migran lainnya untuk menggunakan waktu senggangnya dengan membuahkan karya yang positif.
“Pelajari apa saja yang bisa kalian pelajari dan tetaplah mengejar mimpi-mimpi kalian,” ujar Ririn.