New Taipei, 17 Jun. (CNA) Budaya Indonesia menjadi jembatan pertemuan bagi imigran baru dan warga lokal dalam kegiatan yang memadukan permainan angklung, pembuatan klepon, dan pelatihan kecerdasan buatan (AI) di New Taipei pada Sabtu (14/6).
Kegiatan bertajuk "印.像新北 多元文化AI共響" tersebut merupakan bagian dari program Layanan Pendampingan Keluarga Imigran Baru Distrik Sanchong, New Taipei yang dibimbing oleh Biro Sosial Pemerintah Kota New Taipei dan diselenggarakan oleh Asosiasi Pengembangan Kehidupan Imigran Baru Taiwan, menurut ketua asosiasi.
Ketua asosiasi yang baru didirikan tahun 2023, Huang Pin-Chen (黃品溱), mengatakan bahwa kegiatan ini ditujukan agar "warga lokal Taiwan dan imigran baru Indonesia duduk berdampingan, merasakan dan memahami budaya satu sama lain secara langsung."
Acara dimulai pada pukul 13.00 dengan penampilan angklung yang dibawakan oleh kelompok Gema Angklung. Setelah pertunjukan, para peserta diajak mencoba memainkan alat musik bambu asal Jawa Barat tersebut di bawah arahan para pemain.
Indra, imigran baru asal Indonesia sekaligus koordinator Gema Angklung, mengatakan dirinya senang dapat memperkenalkan angklung kepada sesama imigran baru maupun masyarakat Taiwan.
"Angklung mengajarkan kerja sama. Setiap orang memegang nada yang berbeda, sehingga harus saling mendukung untuk menghasilkan sebuah lagu," ujarnya.
Salah satu peserta, Jane, imigran baru asal Indonesia yang datang bersama putrinya yang berusia enam tahun, mengaku baru pertama kali memainkan angklung.
Ia mengatakan selama ini hanya pernah menyaksikan pertunjukan angklung di Taipei tanpa pernah mencobanya secara langsung. Kesempatan tersebut, menurutnya, menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada anaknya.
Usai sesi angklung, kegiatan dilanjutkan dengan lokakarya pembuatan klepon ubi jalar yang dipandu oleh Dewi, imigran baru yang sudah menetap 26 tahun di Taiwan.
Dewi mengatakan dirinya membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk mempersiapkan bahan dan perlengkapan kegiatan tersebut. Ia memilih memperkenalkan klepon karena jajanan tradisional itu memiliki filosofi yang dekat dengan kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, lapisan luar klepon yang lembut melambangkan pentingnya bersikap ramah dan santun terhadap sesama. Sementara gula merah di bagian dalam menggambarkan manisnya hubungan yang terjalin setelah orang saling mengenal dan membangun keakraban.
"Hubungan antarmanusia membutuhkan waktu. Namun, ketika sudah saling mengenal dan memahami satu sama lain, hasilnya akan terasa manis seperti gula merah di dalam klepon," katanya.
Dalam sesi tersebut, peserta diajarkan cara menguleni adonan, membentuk bulatan klepon, hingga memasukkan isian gula merah sebelum merebus dan menikmati hasilnya bersama.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pelatihan pemanfaatan AI. Para peserta belajar membuat desain tanda pengenal menggunakan teknologi AI dengan memberikan perintah.
Hasil desain tersebut kemudian dicetak dan dijadikan lencana nama yang dapat dibawa pulang.
Salah satu relawan kegiatan, Remy (蘇瑞庸), mengatakan tema AI dipilih karena teknologi tersebut semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam layanan sosial dan pendampingan lansia.
Menurutnya, sejumlah imigran baru yang telah lama menetap di Taiwan kini juga aktif menjadi relawan di pusat layanan perawatan jangka panjang. Karena itu, pemahaman mengenai AI dapat membantu mereka memberikan layanan yang lebih beragam kepada masyarakat.
Ia mencontohkan, teknologi AI dapat digunakan untuk membuat foto kenangan digital bagi lansia yang merindukan pasangan mereka yang telah meninggal dunia. Foto tersebut kerap membangkitkan kenangan dan memberikan dukungan emosional bagi para lansia.
Menurut ketua asosiasi, dengan kegiatan ini pihaknya berharap ketika budaya tradisional Indonesia bertemu dengan teknologi AI, akan lahir ruang komunitas yang lebih inklusif dan terbuka. "AI tidak hanya menjadi alat teknologi, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan sosial dan memberdayakan imigran baru," ujar Huang.
(Oleh Jennifer Aurelia)
Selesai/IF