Taipei, 7 Mei (CNA) Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) harus menanggung kesakitan saat berbaring di rumah sakit selama sepekan, setelah terjatuh dari lantai 2 rumah majikannya saat membersihkan jendela, meskipun pekerjaannya seharusnya hanya merawat lansia, kata Ketua Serikat Buruh Industri Perawatan Taiwan (SBIPT) Fajar.
Yuni (nama samaran), yang baru bekerja dua bulan di majikannya yang berada di New Taipei, dilarikan ke Far Eastern Memorial Hospital Taipei pada 27 April lalu, dan dirawat selama enam hari. Ia harus rela kehilangan tiga giginya yang terlepas, dan patah tulang kaki dan tangannya, kata Fajar.
Mulanya, seperti biasa, Yuni membersihkan seisi rumah majikannya. Entah kenapa saat itu ia mempunyai inisiatif untuk naik ke meja dekat jendela, dan membersihkan jendela geser di bagian luarnya, sehingga membuatnya tergelincir dan jatuh, menurut Fajar.
Saat dihubungi CNA, Fajar menceritakan bahwa Yuni mengadu kepadanya bahwa ia dipekerjakan di luar pekerjaan yang tertera dalam kontrak kerja.
"Seharusnya kontrak kerjanya menjaga pasien (nenek) tetapi ia juga harus bekerja membersihkan rumah, memasak untuk orang satu rumah dan bertanggung jawab untuk memelihara kucing majikan," ujar Fajar saat mengunjungi Yuni pada 29 April silam.
Tepat pada 1 Mei, Yuni kembali menghubungi Fajar untuk meminta pendampingan karena ia harus dijaga dan tidak bisa sendirian di rumah sakit. Sehari setelahnya, tim SBIPT pun datang untuk menjenguk Yuni.
Namun, mereka terkendala dengan pihak agensi yang kala itu datang mengunjungi Yuni dan meminta SBIPT untuk tidak ikut campur dan menemuinya di dalam kamar, menurut Fajar.
Sebelum tim SBIPT meninggalkan Yuni, ia sempat mengatakan harapannya bahwa ia tak ingin dipulangkan ke Indonesia dengan keadaan seperti ini. "Yuni ingin sembuh dan tetap ingin bekerja di Taiwan," ungkap Fajar.
Fajar menambahkan, saat ini kasus Yuni sudah dilaporkan ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) untuk ditindaklanjuti. Ia pun berpesan pada pekerja migran agar tetap menjunjung tinggi keselamatan.
"Keselamatan adalah hak, bukan pilihan. Jika kondisi kerja membahayakan, sampaikan keberatan atau cari bantuan. Tetap waspada, kenali batas kerja dan lindungi diri. Kita bekerja untuk hidup lebih baik, bukan mempertaruhkan nyawa," pesannya.
Selesai/JC