WAWANCARA /Kukuhkan Taiwan sebagai rumah, alasan pakar akupunktur Polandia pilih jadi WN Taiwan

08/05/2026 11:22(Diperbaharui 08/05/2026 11:22)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

 
Oleh Muhammad Irfan, Sunny Lai, Rick Yi, dan Jennifer Aurelia, reporter staf CNA

Taiwan yang terbuka memberi kesempatan bagi orang-orang dari berbagai negara untuk hidup dan berkarya di pulau ini. Melalui berbagai jalur, mulai dari pekerjaan, pernikahan, hingga pendidikan, para migran turut membangun Taiwan dan menunjukkan kolaborasi positif dengan masyarakat lokal. Di antara banyak migran berprestasi di Taiwan, salah satunya adalah dokter Marcin Zbylut (李馬欽), yang dikenal sebagai praktisi pengobatan  tradisional Tionghoa dan kini berpraktik di sebuah klinik di New Taipei.

Zbylut lahir di Polandia dan belajar molekuler biologi di Jerman dan Inggris. Di awal 2000-an, ia melabuhkan hidupnya di Asia, tempat ia yakin masa depan akan tumbuh. Dari banyaknya negara di Asia, Taiwan dianggap paling tepat untuk mencurahkan bakatnya sebagai pakar akupuntur.

“Saya tertarik dengan kesehatan, biologi, dan juga filosofi Tionghoa. Ini adalah ketertarikan yang bersatu. Sebenarnya cukup sederhana. Saat pertama kali saya ke Taiwan, saya mendaftar beasiswa Kementerian Pendidikan Taiwan (MoE) untuk belajar pengobatan tradisional Tionghoa. Tapi sebelumnya belajar Mandarin terlebih dahulu,” kata Zbylut.

Sebelum menetap di Taiwan, ia lebih dulu berkeliling sejumlah tempat di Asia seperti Jepang dan Tiongkok. Kehidupannya di Eropa juga sering bersinggungan dengan rekan kerja dari Asia. Bagi Zbylut, hal yang paling ia tekuni dari orang Asia adalah profesionalisme dan etos hidup mereka. Makanya ia berpikir bahwa masa depan akan ada di Asia kelak. 

“Lalu saya berpikir lagi, Asia mana yang akan saya datangi. Saya melakukan riset dan pengalaman, dan saya rasa Taiwan adalah tempat yang paling baik buat saya. Mungkin saya enggak akan sebahagia ini kalau tinggal di negara lain di Asia. Karena mereka ini punya rasa pertemanan, negara maju, dan juga cukup memiliki banyak pengaruh dari Barat. Makanya saya pilih Taiwan,” kata dia.

Selepas menamatkan pendidikan pengobatan tradisional Tionghoa-nya, ia bekerja di Rumah Sakit Tzu Chi di Hualien. Ia juga menikah dengan warga Taiwan yang sudah dikenalnya sejak di Eropa dan dikaruniai dua orang putra. Saat itu dia merasa cukup dengan izin tinggal tetap (APRC) yang ia kantungi.

Namun, atas alasan personal, kemudian ia mantap mengubah statusnya sebagai warga negara Taiwan.

“Ini alasan personal. Saya membesarkan dua anak seorang diri. Sebelumnya saya APRC. Secara praktik, ini sudah cukup. Saya bisa mendapatkan banyak hak dengan APRC saya. Namun, ketika istri saya meninggal dunia, saya melihat banyak hal yang sulit dipenuhi kalau saya bukan warga negara Taiwan. Pajak, misalnya, pendaftaran rumah tangga, dan juga untuk alasan profesional. Misalnya, lisensi dokter saya akan terbatas kalau saya hanya memegang APRC. Tapi lebih dari itu, di masa itu saya melihat saya sudah menjadi bagian dari masyarakat Taiwan sejak lama. Maka saya merasa perlu untuk mengejar hal ini (naturalisasi Taiwan),” kata dia.

Mengacu pada informasi yang diunggah di Kantor Registrasi Rumah Tangga Taiwan, ada sejumlah panduan dasar bagi mereka yang hendak dinaturalisasi menjadi Warga Negara Taiwan. Di antaranya, tinggal di Taiwan lebih dari 183 hari per tahun selama lima tahun berturut-turut dengan usia di atas 20 tahun dan memiliki kapasitas hukum. Selain itu, syarat umum lainnya adalah tidak punya catatan kriminal, kemampuan secara finansial atau keahlian, dan memiliki kemampuan bahasa Mandarin dasar. 

Secara umum, Undang-Undang Kewarganegaraan Taiwan mewajibkan pemohon naturalisasi untuk melepaskan kewarganegaraan asal. Namun, terdapat pengecualian resmi, termasuk bagi profesional tingkat tinggi seperti Zbylut, yang memungkinkan mereka tetap mempertahankan kewarganegaraan asal, sebagaimana tercantum di situs Kantor Registrasi Rumah Tangga Taiwan.

Sejak diperkenalkan pada 2016, Taiwan membuka jalur naturalisasi khusus bagi profesional asing tingkat tinggi tanpa mewajibkan pelepasan kewarganegaraan asal. Data Kementerian Dalam Negeri (MOI) menunjukkan jumlah warga asing yang dinaturalisasi melalui skema ini masih sekitar 300 orang, relatif stagnan dengan sekitar 281 hingga 2023, sementara 36 orang tercatat pada 2022 saja.

Angka tersebut menegaskan prosesnya sangat selektif dan ditujukan bagi talenta global yang dinilai mampu berkontribusi signifikan pada pembangunan Taiwan, terutama di sektor teknologi, ekonomi, dan pendidikan.

Namun pengalaman Zbylut, saat ia mencoba mendaftar menjadi Warga Negara Taiwan di tahun 2019, informasinya belum terbuka lebar seperti saat ini.

“Saat saya mendaftar itu tahun 2019. Sepengetahuan saya, programnya sudah ada sejak 2016 atau 2017 dan baru sedikit yang mendaftar. Saya lihat angkanya, sepertinya baru beberapa lusin yang mendaftar lewat jalur high level professional,” kata Zbylut.

Menurut Zbylut, pada masa itu hanya segelintir orang, termasuk beberapa pendeta, suster Katolik, dan individu yang terlibat dalam misi Kristen yang menempuh proses naturalisasi. Ia menuturkan bahwa informasi resmi terkait prosedur tersebut belum tersedia secara daring, sehingga ia dan warga asing lainnya yang ingin mengajukan naturalisasi harus mengandalkan informasi terbatas dan kerap menebak-nebak langkah yang perlu ditempuh.

“Jadi, saya harus menggali sejumlah dokumen berbahasa Mandarin. Karena harus direkomendasikan oleh beberapa agensi dan pihak pemerintah. Itu yang menjadi tantangan. Jadi kita harus tahu siapa yang bisa kita tanya,” kata dia yang menyebut proses naturalisasinya saat itu dibantu oleh pihak Rumah Sakit Tzu Chi, tempatnya bekerja dulu.

“Itu prosesnya hampir satu tahun penuh,” kata dia.

Dr.Marcin Zbylut (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Dr.Marcin Zbylut (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Menjadi seorang dokter pengobatan tradisional Tionghoa sekaligus warga negara Taiwan berlatar belakang kulit putih merupakan pengalaman yang sangat berkesan baginya.

Menurutnya, sekitar 90 persen pasien yang ia tangani sudah tidak lagi terkejut saat bertemu dengannya, karena mereka memang sudah mengetahui siapa dokter yang akan menangani mereka. Hal ini membuat para pasien tidak meragukan profesionalitasnya dalam bidang akupunktur.

Namun, ia mengakui bahwa masih ada pasien yang meragukan kemampuannya, sementara di sisi lain ada pula yang justru menganggapnya sangat luar biasa. Beberapa pasien, kata Zbylut, berpikir bahwa sebagai orang asing ia mungkin tidak sepenuhnya kompeten di bidang tersebut. Namun, ada juga yang memiliki ekspektasi lebih tinggi dan mengatakan bahwa sebagai orang asing yang menjadi dokter pengobatan tradisional Tionghoa, ia pasti sangat ahli dalam bidang tersebut.

Zbylut pun merasa kini ia sudah lebih tenang hidup di Taiwan sebagai seorang Taiwan. Menurut dia, banyak perubahan yang ia rasakan setelah ia juga memiliki kewarganegaraan Taiwan. 

Menurutnya, di balik alasan personalnya, terdapat juga alasan emosional. Sejak mulai tinggal di Taiwan pada 2005 hingga saat ini, ia telah membangun kehidupannya di sana dan merasa telah menjadi bagian dari masyarakat Taiwan.

“Alasan saya sebetulnya cukup praktikal, tetapi yang paling besar perubahannya adalah saya seluruhnya milik Taiwan. Perubahan terbesarnya adalah emosional. Ini adalah rumah saya. Tempat saya ingin tinggal,” kata dia.

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.