Taipei, 22 Apr. (CNA) Sejumlah kelompok masyarakat hari Rabu (22/4) berkumpul di depan gedung Yuan Eksekutif (Kabinet), menyerukan bahwa negara seharusnya memegang posisi sebagai penjamin hak hidup anak dan remaja, bukan membebankan tekanan kepada pekerja sosial di garis depan.
Aksi ini digelar setelah Chen Shang-chieh (陳尚潔), seorang pekerja sosial, pada Kamis divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Distrik Taipei atas pembunuhan akibat kelalaian dalam kasus kematian anak laki-laki berusia satu tahun yang dikenal sebagai Kai Kai (剴剴) pada 2023 usai kekerasan berulang oleh pengasuh.
Putusan menghabiskan sekitar 12 halaman untuk membahas posisi Chen sebagai penjamin Kai Kai, dengan berpendapat bahwa terdakwa lalai menjalankan kewajibannya hingga mempercayai alasan pengasuh untuk menghindari tanggung jawab, sehingga berulang kali melewatkan kesempatan untuk menyelamatkan korban.
Baca juga: Pekerja sosial dijatuhi hukuman 2 tahun dalam kasus penganiayaan bayi 'Kai Kai'
Menanggapi ini, di depan gedung Kabinet pada Rabu, terdengar teriakan berbagai slogan termasuk, "Pekerja sosial menolak dijadikan kambing hitam, posisi penjamin harus ditanggung negara. Negara harus meminta maaf, sistem harus berubah. Pekerja sosial adalah pihak yang memperbaiki sistem, bukan pelaku kejahatan."
Adalah Taipei Social Workers Union bersama sejumlah organisasi masyarakat lainnya yang berkumpul untuk menyerahkan petisi hingga menyerukan agar negara meminta maaf dan mengatasi masalah struktural dalam sistem.
Huang Chun-chia (黃浚嘉) dari Hualien Social Workers Union mengatakan pekerja sosial turun ke jalan bukan untuk melampiaskan emosi, melainkan karena peduli negara dan masyarakat, serta perhatian terhadap perlindungan anak-anak serta dijalankannya sistem kesejahteraan dan keadilan sosial.
Ia menegaskan bahwa ketika sumber daya tidak mencukupi dan sistem memiliki keterbatasan, seharusnya bukan pekerja sosial yang menanggung seluruh tekanan.
A Chueh (阿雀), pekerja sosial senior dari Kaohsiung Social Workers Union, mengatakan ia setiap harinya mengendarai sepeda motor untuk mengunjungi kasus, mendatangi rumah klien, sekolah, dan rumah sakit, dengan berpegang pada ketulusan serta keyakinan untuk membantu orang lain.
Namun, dalam dua tahun terakhir ia mengalami banyak "kejutan keras", menyadari bahwa pekerja sosial bisa diborgol, dituntut secara hukum, harus mengeluarkan biaya untuk menyewa pengacara, atau bahkan menjadi sasaran perburuan kesalahan, yang membuatnya cemas meski ingin terus bertugas, ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa identitas sebagai pekerja sosial diberikan negara, tetapi ketika terjadi masalah, mereka harus menyelamatkan diri sendiri, sehingga menimbulkan pertanyaan akan di mana posisi negara sebagai "majikan besar".
Kelompok pekerja sosial menyerahkan surat petisi dan daftar tanda tangan yang diterima perwakilan dari Departemen Dalam Negeri, Kesehatan dan Kesejahteraan, dan Ketenagakerjaan di Kabinet.
Isi petisi mencakup bahwa negara, "Pihak yang seharusnya memegang posisi penjamin atas hak hidup anak dan remaja, dan bukannya membebankannya kepada pekerja sosial di garis depan," harus secara resmi meminta maaf dan mengakui bahwa sistem telah gagal melindungi anak.
Petisi juga meminta dihentikannya pendekatan pencitraan dan perbaikan di permukaan, serta dilakukannya peninjauan menyeluruh terhadap celah di sistem antara layanan penitipan anak, bantuan sosial, kebijakan perumahan, dukungan keluarga, dan perlindungan anak, guna mendorong reformasi holistik sistem.
Negara, seru petisi, juga harus secara proaktif menjelaskan keterbatasan sistem kepada publik, menghindari pembesaran fakta yang tidak akurat serta budaya saling menyalahkan, hingga menghentikan praktik menjadikan pekerja sosial garis depan dan institusi sebagai pelampiasan emosi masyarakat.
Petisi juga meminta negara mencegah tindakan "manipulasi opini" yang merusak persatuan sosial, sekaligus meningkatkan ketahanan dalam menghadapi risiko dari peristiwa sosial.
Dalam evaluasi dan prosedur penanganan kasus besar, kata petisi, pekerja garis depan harus dilibatkan secara aktif untuk berpartisipasi dalam analisis dan investigasi bersama.
(Oleh Lai Yu-chen dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF