Taipei, 19 Apr. (CNA) Wakil Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei Johanes Andi Susanto menilai perlunya kekompakan orang tua diaspora Indonesia di Taiwan memperkenalkan budaya bangsa Indonesia kepada anak-anak mereka yang tumbuh besar di Taiwan, sebagai upaya melestarikan budaya dari luar negeri, disampaikan dalam acara peringatan Hari Kartini yang digelar di Puppetry Art Center Taipei, Minggu (19/4).
Menurut Andi, acara tahunan yang sudah digelar tujuh kali oleh Indonesian Diaspora Network (IDN) Taiwan ini bisa jadi salah satu contoh bagaimana budaya Indonesia ditanamkan kepada anak-anak sejak dini. Oleh karena itu, ia mengapresiasi kegigihan tim IDN Taiwan untuk tetap menyelenggarakan acara ini setiap tahunnya.
“Ini jadi edukasi buat anak-anak Indonesia yang ada di Taiwan, sehingga bisa mengenal perjuangan pejuang kita, Raden Ajeng Kartini untuk perempuan Indonesia agar lebih maju. Lebih jauh lagi memperkenalkan budaya Indonesia, sehingga sejak awal mengenal dan kecintaan terhadap Indonesia semakin besar,” kata Andi.
Dalam acara yang diikuti oleh 55 peserta ini, anak-anak diminta menggunakan pakaian adat khas Nusantara dan diajak berlenggak-lenggok bak model. Andi mengaku terhibur melihat kreativitas anak-anak dan bagaimana kepolosan yang mereka tunjukkan memperlihatkan sisi unik dan kepercayaan diri masing-masing.
“Kita melihat bagaimana aslinya anak-anak. Bahkan tadi ada yang berjalan sambil tertidur, ada yang cuek, ada yang mungkin baru sekali mengikuti kegiatan seperti ini. Tapi dari sini terpupuk keberanian mereka untuk tampil,” kata Andi.
Ia pun berharap agar orang tua diaspora Indonesia di Taiwan tidak melupakan tugas mereka untuk tetap mengajarkan budaya Indonesia kepada anak-anak mereka. Ia tak memungkiri, tinggal di luar negeri bukan hal mudah, tetapi jangan biarkan akar budaya anak-anak Indonesia luntur di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.
Andi juga berpesan kepada komunitas Indonesia di Taiwan agar menjaga kekompakan dan saling mengingatkan.
“Perkenalkan Indonesia di Taiwan dengan baik sehingga lebih dikenal di kalangan masyarakat Taiwan dan ke depan makin banyak kolaborasi antara orang Indonesia dan Taiwan,” kata Andi.
Diperkenalkan lewat Hari Anak
Penasihat IDN Global Kartika Dewi, yang menggagas acara peringatan Hari Kartini sejak tujuh tahun lalu menyebut mulanya acara ini diinisiasi setelah IDN Taiwan, sebagai komunitas diaspora Indonesia di Taiwan, berpartisipasi dalam pameran wayang bersama Puppetry Art Center Taipei.
Dari pertemuan pertama ini, Dewi mengusulkan agar IDN Taiwan bisa menyelenggarakan peringatan Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April di pusat wayang Taipei ini.
Namun, di awal pihak Puppetry Art Center Taipei masih ragu. Soalnya, mereka juga asing dan tak punya pemahaman soal Hari Kartini. Tetapi IDN Taiwan mencoba menjelaskan konsep mereka yang akhirnya diterima dengan baik oleh pihak Puppetry Art Center Taipei.
“Apalagi di bulan April ini ada Hari Anak di Taiwan, jadi saya pikir cocok. Penyelenggaraan pertama ini diikuti oleh banyak peserta dan akhirnya dari tahun ke tahun kami mulai diberi kepercayaan oleh pihak Puppetry Art Center Taipei ini,” kata Dewi.
Senada dengan Andi, Dewi menyebut, perhelatan ini juga digagas agar anak-anak Indonesia yang besar di luar negeri tidak lupa identitas budaya Indonesia. Caranya tentu di antaranya dengan menampilkan Indonesia dalam keseharian. Selain itu, melalui acara tahunan seperti ini, anak-anak bisa punya kesempatan yang sama untuk menikmati momen ke-Indonesia-an seperti yang dialami teman-teman mereka di Indonesia.
“Anak-anak biasa ikut seperti ini di Indonesia, tapi di sini tidak ada kesempatan. Makanya untuk anak-anak, walaupun mereka merantau, mereka enggak ketinggalan momen merayakan peringatan-peringatan di Indonesia seperti Hari Kartini ini,” kata Dewi.
Kemauan Sendiri
Salah satu peserta, Aqila Aisha Alika, yang bersekolah di Gong Guan Elementary School dan kini duduk di kelas enam, menyebut dirinya sejak awal sudah tertarik untuk mengikuti kegiatan peragaan busana yang jadi bagian dari peringatan Hari Kartini ini. Baju kebaya yang ia kenakan dibawa dari Indonesia, sementara mahkota khas Melayu yang terhias rapi di kepalanya dibuat oleh sang ibu yang kini menempuh studi doktoral di Yuan Ze University.
“Make up juga ini sama ibu aku. Karena dia pernah punya pengalaman jadi seorang make up artist,” kata Aqila yang pindah dari Sumatera Barat ke Taiwan saat menginjak kelas lima SD mengikuti kedua orang tuanya yang sedang berjuang menamatkan pendidikan S3 mereka.
Aqila menyebut meski dirinya merantau di usia yang sangat muda dan bersekolah bersama teman-teman lokal, interaksinya dengan sesama anak Indonesia di Taiwan tidak terputus. Di sekolahnya ada anak Indonesia lain yang duduk di sejumlah kelas yang berbeda. Selain itu, sebagai Muslim ia juga aktif mengikuti sekolah agama secara rutin yang mana banyak diikuti juga oleh anak-anak Indonesia di Taiwan lainnya.
Ia juga senang bisa ikut acara ini karena acara ini menjadi tempat dia belajar dan berteman. "Agak deg-degan, tapi aku sudah latihan malam sebelumnya, seru sih," kata Aqila.
Selesai/JA