Taipei, 16 Apr. (CNA) Penerbangan internasional ke dan dari Taiwan akan berkurang rata-rata sebanyak 52,6 per pekan pada Mei, sekitar 1,7 persen dari jadwal semula, akibat melonjaknya harga bahan bakar global, menurut data Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (CAA).
Rata-rata 3.029 penerbangan internasional dijadwalkan untuk berangkat atau tiba di Taiwan setiap pekan selama jadwal penerbangan musim panas dari 29 Maret hingga 31 Oktober tahun ini, menurut data CAA yang dipaparkan Legislator Kuomintang (KMT) Wan Mei-ling (萬美玲) dalam rapat legislatif pada Rabu (15/4).
Saat ini, pada April rata-rata terdapat 7,3 penerbangan yang dibatalkan dari jadwal ini setiap minggunya, yang mencakup sekitar 0,2 persen dari total, kata Wan.
Pembatalan akan meningkat menjadi 52,6 penerbangan per pekan pada Mei, dan turun menjadi satu per minggu pada Juli dan Agustus, ujar legislator tersebut.
"Pengurangan dan penggabungan penerbangan maskapai akan memberikan dampak besar bagi penumpang," kata Wan, merujuk pada maskapai yang membatalkan atau menggabungkan penerbangan untuk mengurangi tekanan operasional akibat kenaikan harga bahan bakar global.
Wan menanyakan kepada pejabat yang hadir dalam rapat, termasuk Menteri Perhubungan Chen Shih-kai (陳世凱), apakah pemerintah dapat menjamin tidak ada lagi pengurangan penerbangan pada musim puncak perjalanan yang akan datang.
Sebagai tanggapan, Chen mengatakan kementeriannya tidak dapat mewajibkan maskapai untuk tidak mengurangi penerbangan, tetapi akan berupaya memahami tantangan mereka dan memberikan bantuan sebisa mungkin untuk meminimalkan pengurangan.
CPC Corp., Taiwan, mengumumkan pada 1 April bahwa harga bahan bakar penerbangan untuk rute internasional telah mencapai US$1,2816 per liter (Rp22.212), menandai kenaikan 122 persen sejak dimulainya perang di Timur Tengah.
Bahan bakar penerbangan untuk rute domestik berada di angka NT$44,2 per liter, naik 116 persen, secara signifikan meningkatkan biaya operasional maskapai, menurut Kementerian Perhubungan dan Komunikasi (MOTC).
Dalam laporan yang dipresentasikan pada rapat hari Rabu, MOTC menyatakan bahwa pasokan bahan bakar dari CPC dan Formosa Petrochemical Corp. yang dimiliki swasta tetap stabil.
Namun, di bandara di beberapa negara, termasuk Myanmar, Vietnam, dan Filipina, beberapa pemasok bahan bakar telah mulai memberlakukan pembatasan, melarang pengisian bahan bakar melebihi rata-rata bulanan sebelumnya, meskipun maskapai tidak sepenuhnya dilarang mengisi bahan bakar di negara-negara tersebut, demikian disampaikan.
Akibatnya, saat ini lonjakan tajam biaya bahan bakar tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi operasional maskapai, kata kementerian.
Selesai/JC