Taipei, 2 Mar. (CNA) Serikat di Achem Technology Corp. hari Senin (2/3) mendatangi Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) untuk menyampaikan pengaduan, termasuk memprotes upaya perusahaan memindahkan kantor serikat dari lokasi yang berdekatan dengan asrama pekerja migran.
Didampingi Taoyuan Confederation of Trade Unions, Serikat Pekerja Achem Technology pada Senin pagi menggelar aksi di depan gedung MOL di Taipei.
Ketua Serikat Pekerja Achem Technology Wu Chia-ching (吳家慶) menyebutkan bahwa demi melindungi hak pekerja migran, serikat mulai merekrut mereka sejak dua tahun lalu, tetapi setelahnya, pihak agensi tenaga kerja dan manajemen perusahaan langsung datang untuk melakukan intervensi.
Setelah serikat mengajukan permohonan mekanisme penetapan putusan dugaan praktik ketenagakerjaan yang tidak seharusnya ke MOL, kedua pihak sempat mencapai kesepakatan damai, tetapi tak disangka, Achem kembali menuntut agar serikat memindah kantor sekretariatnya, kata Wu.
Kepada CNA, Wu mengatakan bahwa kantor sekretariat serikat berada dekat dengan asrama pekerja migran, dan tenaga kerja asing kerap datang untuk mengadukan masalah.
Tindakan perusahaan ini merusak praktik selama 30 tahun yang menyediakan tempat bagi serikat, dan jelas bertujuan untuk menghalangi anggota menyampaikan aspirasi kepada serikat, menurut Wu.
Di sisi lain, Wu menyatakan bahwa perusahaan secara sepihak mengubah mekanisme pengajuan cuti, bahkan meminta pekerja mencantumkan alasan pengajuan cuti khusus tahunan berbayar dan cuti pengganti.
Wu juga mengatakan pada akhir 2024 telah diumumkan bahwa Achem pada 2025 akan dilebur ke dalam YC Group, dan seluruh pekerjanya akan menandatangani kontrak kerja dengan grup tersebut.
Namun, hingga kini tidak ada tindak lanjut atas rencana merger tersebut, dan kontrak kerja yang telah ditandatangani justru ditarik kembali oleh perusahaan, kata Wu.
Serikat menuntut agar YC Group dan Achem kembali menjelaskan perkembangan merger kepada serikat, serta membahas ulang kontrak kerja pascamerger, ucapnya.
Wu menyatakan bahwa serikat baru-baru ini telah mengajukan permohonan investigasi atas dugaan praktik ketenagakerjaan yang tidak seharusnya kepada MOL, serta meminta perusahaan melakukan perundingan yang setara dengan serikat.
Namun, kata Wu, sikap perusahaan masih sangat arogan, sehingga pihaknya berharap kementerian segera turun tangan menangani masalah ini.
Menanggapi tuntutan, MOL menegaskan bahwa pekerja migran memiliki hak yang sama dengan tenaga kerja lokal untuk membentuk atau bergabung dengan serikat.
Terkait permintaan Achem agar serikat memindahkan kantor sekretariatnya, saat ini kasus tersebut masih dalam proses pemeriksaan penetapan putusan di MOL, kata kementerian.
Jika nantinya ditetapkan bahwa pemberi kerja melanggar Undang-Undang Serikat Pekerja, Achem akan didenda antara NT$100.000 (Rp53,4 juta) hingga NT$500.000 serta diumumkan nama pemberi kerja dan perwakilannya, kata MOL.
Sementara itu, kata kementerian, ketika pekerja mengajukan cuti khusus tahunan berbayar atau cuti pengganti, pemberi kerja tidak boleh menghalangi dengan meminta pekerja menjelaskan alasan pengajuan.
MOL mengatakan mereka telah meminta Pemerintah Kota Taoyuan untuk menyelidiki ini sesuai hukum, dan jika terbukti ada pelanggaran, sanksi akan segera dijatuhkan sesuai peraturan, sementara nama perusahaan dan penanggung jawabnya akan diumumkan.
Terkait merger antara Achem dan YC Group, MOL menyatakan perusahaan harus berpegang pada prinsip itikad baik dan sejak dini menjelaskan perkembangan serta langkah-langkah pendukung kepada serikat dan pekerja yang terdampak.
Kontrak kerja merupakan dasar penting yang mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak, sehingga masing-masing pihak harus menyimpan satu salinan untuk membantu memastikan kepatuhan terhadap hubungan hak dan kewajiban tersebut, kata kementerian.
(Oleh Wang Shu-fen dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF