Berikut berita pilihan Taiwan berbahasa Indonesia CNA edisi ke-13:
Taiwan pantau situasi pasca serangan AS-Israel ke Iran
Menanggapi gejolak di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara ke Iran, Taiwan menyatakan akan memantau perkembangan.
AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke Iran sejak 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pemimpin senior lainnya. Iran pun meluncurkan serangan balasan ke beberapa negara Arab yang menjadi tuan rumah aset AS.
Menanggapi konflik, Presiden Taiwan Lai Ching-te pada 28 Februari mengatakan pemerintah telah mengaktifkan mekanisme respons terkait untuk memastikan keselamatan warga Taiwan di Timur Tengah, dan terus menjalin komunikasi erat dengan negara-negara yang sejalan serta mitra global.
Lai menyebut pemerintah juga akan memantau perkembangan dan menilai potensi dampak di berbagai sektor, mengevaluasi efeknya terhadap ekonomi, stabilitas keuangan, dan mata pencaharian masyarakat Taiwan, serta merespons dengan penuh kehati-hatian.
Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan kepada CNA bahwa sekitar 3.000 warga negara Taiwan yang sedang berada di Timur Tengah dan telah berhasil dihubungi, berada dalam keadaan aman, dan belum ada permintaan evakuasi.
Warga Taiwan di Bahrain dan Dubai juga menceritakan kepada CNA bagaimana mereka menyaksikan langsung serangan balasan Iran, dan kepanikan masyarakat yang ditimbulkannya.
WNI ditangkap di Taipei pasca berupaya tukar uang palsu
Seorang pria warga negara Indonesia telah ditangkap, setelah berusaha menukarkan ratusan keping koin palsu di sebuah bank di Taipei pada 26 Februari.
Polisi mendatangi bank di Distrik Xinyi, Taipei setelah menerima laporan, dan menemukan seorang WNI yang datang seorang diri dengan visa turis ke Taiwan berusaha menukarkan 677 keping koin nominal NT$50 palsu, yang dibelinya dengan harga murah di Indonesia, demi mendapatkan selisih keuntungan. Ia pun ditangkap dan diproses hukum.
Taiwan peringati 79 tahun terjadinya Insiden 228
79 tahun setelah Insiden 228, kelompok masyarakat sipil Taiwan menghidupkan kembali upaya pelestarian memori kolektif demi melawan pengikisan sejarah. Salah satunya dengan pawai damai yang digelar di Taipei pada 27 Februari.
Di Taiwan, 28 Februari 1947 tercatat sebagai dimulainya serentetan penindasan berdarah pemerintah terhadap pengunjuk rasa, setelah agen pemerintah memukuli seorang pedagang tembakau di Taipei. Perkiraan jumlah korban jiwa akibat peristiwa ini mencapai 28.000 orang.
Pada 27 Februari sore, ratusan orang berpakaian hitam berkumpul di Taipei untuk mengikuti pawai damai yang digelar lembaga swadaya masyarakat. Aksi diisi pembacaan nama-nama korban dalam bahasa Hokkien dan Hakka serta aksi teatrikal, dan melewati titik-titik bersejarah penting dalam insiden itu.
Chang Chia-en, wakil CEO tim peringatan 228, mengatakan kepada CNA bahwa tingginya partisipasi kaum muda dalam pawai ini mencerminkan kampanye untuk mewariskan sejarah Taiwan ke generasi berikutnya.
CNA sempat menemui Chen Cheng, salah satu korban. Kini berusia 96 tahun, ia masih trauma setelah dibawa dari rumah ayahnya untuk dipenjara selama setahun. Padahal ia tidak pernah terlibat pada aksi protes apapun.
Insiden yang sering dianggap titik penting dalam demokratisasi Taiwan ini juga CNA temukan pernah diberitakan di Indonesia, termasuk melalui terbitan pendek Sin Po yang mengutip statistik korban yang dilansir CNA.
Tiga WN Vietnam ditangkap di Taipei atas prostitusi ilegal
Kepolisian Taipei pada 24 Februari menangkap tiga wanita warga negara Vietnam dalam sebuah operasi penggerebekan dugaan praktik prostitusi ilegal.
Melalui patroli siber, kepolisian menduga di sebuah gedung hunian-komersial di Distrik Zhongshan, Taipei, ada wanita warga asing yang melakukan transaksi seksual ilegal.
Setelah melakukan pengintaian dan menguasai bukti, petugas pada 24 Februari memasuki gedung itu dan menangkap tiga warga negara Vietnam yang masing-masing masuk ke Taiwan dengan visa turis, berstatus pekerja migran dan telah hilang kontak, serta datang untuk bekerja tetapi tidak sesuai dengan isi izin kerjanya. Setelahnya, mereka diproses hukum.
Dua tewas, tiga terluka termasuk PMA dalam tabrakan di Taoyuan
Tabrakan antara truk dan kendaraan pribadi terjadi di Taoyuan pada 1 Maret, mengakibatkan dua orang tewas dan satu lainnya kritis, sementara tiga orang, termasuk dua pekerja migran, terluka.
Di Distrik Yangmei, Taoyuan sebuah mobil pribadi kecil yang hendak belok kiri di persimpangan tertabrak truk pada 1 Maret.
Pria pengemudi mobil kecil mengalami patah tulang dan tidak sadarkan diri, sementara istri dan putrinya meninggal dunia. Di truk, tiga orang mengalami luka yang tidak mengancam jiwa, termasuk pengemudi warga Taiwan dan dua pekerja migran asal Filipina dan Vietnam. Penyebab pasti kecelakaan masih didalami kepolisian.
(Oleh Jason Cahyadi dan Muhammad Irfan)